Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Causeway Bay di kawasan Wan Chai merupakan salah satu pusat komersial paling sibuk di Hong Kong. Di sinilah warga lokal dan wisatawan berbaur memenuhi pusat-pusat perbelanjaan, mulai dari mal modern hingga deretan toko sederhana. Di sela kemajuan kota, kawasan ini juga masih memiliki pasar basah tradisional yang tetap hidup dan menjadi bagian dari denyut keseharian masyarakat.
Wilayah ini dibelah jalan utama yang dilintasi ding ding, trem khas Hong Kong yang begitu ikonik. Hampir semua kawasan yang dilewati ding ding merupakan pusat aktivitas kota. Di tengah gemerlap Hong Kong sebagai salah satu pusat keuangan dunia, berdiri deretan gedung pencakar langit dan teknologi modern. Namun, di balik semua itu, ada tradisi lama yang masih bertahan. Malam itu saya berada di Causeway Bay, tepat di sekitar halte ding ding dan kolong jalan layang.
Saya sengaja datang untuk menikmati sisi lain budaya Hong Kong. Di bawah flyover, beberapa perempuan lanjut usia duduk di bangku kecil dengan meja sederhana. Di hadapan mereka menyala lilin-lilin merah dan mengepul asap dupa. Mereka melayani orang-orang yang datang membawa persoalan hidup. Praktik itu dikenal sebagai villain hitting, atau dalam bahasa Kanton disebut Da Siu Yan.
Baca juga: Ding Ding Hong Kong, Trem Legendaris yang Masih Hidup di Tengah Kota Modern
Para perempuan tua itu adalah villain hitter, orang yang dipercaya mampu membantu mengusir kesialan, energi buruk, dan berbagai masalah yang membayangi kehidupan.
Saya mengetahui tempat ini karena letaknya berdampingan dengan Bowrington Market, pasar tradisional utama di Wan Chai. Saya cukup akrab dengan pasar tersebut karena di lantai atasnya terdapat food court yang hampir selalu dipenuhi pengunjung. Setiap makan siang, antrean mengular. Sekitar 150 kursi yang mengelilingi meja-meja besar pun sering kali tidak mampu menampung banyaknya pengunjung.
Di food court itulah saya memiliki langganan, yaitu Wai Kee Duck. Di Hong Kong maupun Jakarta, kita sering melihat bebek Peking bergelantungan yang menggugah selera, tetapi tidak dapat disantap karena tidak halal. Di Wai Kee Duck, bebek yang disajikan halal. Saya mengetahui satu lagi restoran bebek halal di Hong Kong, tetapi menurut saya, Wai Kee Duck tetap yang terbaik. Roast duck Kanton halal dengan cita rasa yang luar biasa.
Tradisi Spiritual dari Utara


Villain hitting, saya tidak tahu apakah tepat jika disebut sebagai praktik perdukunan ala Hong Kong. Yang jelas, tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad. Asalnya dari daratan Tiongkok, tepatnya dari desa-desa di sekitar Guangdong, wilayah yang berada di utara Hong Kong.
Kepercayaan masyarakat setempat dahulu menyebutkan bahwa setiap musim semi, selain bunga-bunga mulai bermekaran, datang pula roh Harimau Putih yang membawa kesialan dan penyakit. Kesialan itu dapat berupa gagal panen, hasil buah yang tidak melimpah, hingga tangkapan nelayan yang menurun drastis.
Menurut kepercayaan tersebut, penyakit dan kesialan hanya dapat diusir oleh perempuan sepuh yang memiliki kemampuan khusus, yang kini dikenal sebagai villain hitter. Mereka membuat harimau dari kertas, membacakan mantra, kemudian memukul harimau itu secara simbolis menggunakan sandal bekas. Sandal yang tidak baru dipercaya lebih tepat digunakan dalam ritual tersebut. Setiap pukulan diyakini mampu mengusir penyakit, kesialan, dan orang-orang yang membawa masalah.
Memasuki abad ke-20, banyak penduduk Guangdong bermigrasi ke Hong Kong yang saat itu berkembang menjadi pusat perdagangan, terutama setelah wilayah tersebut berada di bawah administrasi Inggris. Bersamaan dengan arus migrasi itu, tradisi Da Siu Yan ikut terbawa dan kemudian berkembang di Hong Kong.
Tradisi ini mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Ritual tersebut tidak lagi sekadar dimaknai sebagai upaya mengusir roh Harimau Putih, tetapi menjadi praktik spiritual untuk bertahan hidup di tengah persaingan kota besar. Villain hitting menjadi simbol perlawanan terhadap siapa pun yang dianggap membawa kesialan, mulai dari pengkhianat, penyebar fitnah, pesaing bisnis, hingga persoalan persahabatan, cinta, dan perjodohan.
Kertas Dibakar, Simbol Kehidupan yang Lebih Baik


Objek yang dipukul tidak lagi berupa boneka harimau, melainkan gambar di atas selembar kertas. Bentuknya pun beragam, mulai dari harimau, naga, rumah, mobil, hingga sosok manusia sebagai simbol orang yang dianggap membawa kesialan. Dalam tradisi ini mereka disebut siu yan, yakni orang licik, pengganggu, penyebar fitnah, atau siapa pun yang diyakini membawa energi negatif.
Hingga kini tradisi tersebut masih dijalankan secara rutin di bawah flyover Canal Road. Setiap sore hingga malam, beberapa villain hitter membuka praktik di sana. Ritual serupa sebenarnya masih dapat ditemukan di pedesaan, bahkan ada pula villain hitter yang melayani panggilan ke rumah. Secara nasional terdapat festival khusus yang berkaitan dengan tradisi ini setiap bulan Maret. Pada masa itu para villain hitter didorong membuka praktik secara serentak, semacam ritual ruwatan massal.
Canal Road dipilih bukan tanpa alasan. Dalam pandangan feng shui, lokasi tersebut dianggap memiliki aliran energi yang kuat. Sebelum Hong Kong berkembang menjadi kota modern, kawasan itu merupakan kanal yang memiliki jembatan dan persimpangan jalan. Pertemuan berbagai unsur tersebut dipercaya menjadi titik berkumpulnya energi yin dan yang sehingga dianggap ideal sebagai tempat melakukan ritual pengusiran nasib buruk.
Ketertarikan terhadap budaya inilah yang membawa saya datang ke Canal Road. Suasananya mengingatkan saya pada kolong Flyover Pasupati di kawasan Balubur, Bandung. Saat tiba, suasana sudah ramai. Saya melihat lima villain hitter membuka praktik. Mereka dikerumuni orang-orang yang datang sebagai pasien maupun sekadar menemani. Ada yang duduk, ada pula yang berdiri sambil memperhatikan jalannya ritual.
Meja-meja sederhana mereka terbuka sehingga siapa pun dapat menyaksikan prosesi tersebut. Di atas meja terbentang berbagai gambar dan simbol-simbol keberuntungan serta perlambang musuh menurut tradisi Tiongkok.
Semua villain hitter yang saya lihat adalah perempuan lanjut usia. Mungkin karena faktor usia itulah mereka tampak begitu berwibawa sekaligus memancarkan kesan mistis. Di tengah kepulan asap dupa dan nyala lilin merah, seorang pasien maju menyampaikan persoalannya. Sang nenek duduk tenang mendengarkan. Wajahnya seolah telah menampung ribuan kisah manusia—tentang fitnah, rezeki, pengkhianatan rekan kerja, hingga persoalan cinta.
Nama orang yang dianggap membawa masalah dituliskan di atas selembar kertas, terkadang disertai gambar sederhana. Sang villain hitter kemudian mengambil sandal yang tampak tua tetapi bersih, lalu memukul kertas itu berulang kali sambil komat-kamit melafalkan mantra dalam bahasa Kanton. Setiap pukulan dipercaya menjadi simbol penghancuran energi buruk dan pembuka jalan bagi keberuntungan yang baru.
Setelah itu, kertas dibakar bersama dupa sebagai lambang bahwa energi negatif telah terusir. Pasien biasanya masih berbincang beberapa saat sebelum mengucapkan terima kasih, memberikan imbalan, lalu pulang dengan hati yang mungkin terasa lebih ringan.
Manusia Modern Tetap Membutuhkan Kehidupan Spiritual


Pada masa awal Hong Kong berada di bawah pemerintahan Inggris, praktik ini pernah dilarang. Pemerintah kolonial menganggapnya sebagai takhayul yang tidak layak dipertahankan. Namun masyarakat tetap menjalankan ritual tersebut secara sembunyi-sembunyi. Tradisi lokal yang terus bertahan itu lambat laun justru menjadi salah satu ikon budaya masyarakat Hong Kong. Perpaduan antara dunia modern dan tradisi spiritual kuno akhirnya memperoleh pengakuan sebagai warisan budaya takbenda Hong Kong.
Baca juga: Masjid Kowloon: Jejak Muslim di Jantung Hong Kong
Menarik untuk dikaji mengapa tradisi ini masih bertahan di tengah modernitas Hong Kong. Menurut saya, manusia modern hidup di bawah tekanan yang semakin besar. Mereka membutuhkan ruang untuk melepaskan beban emosi secara simbolis. Persoalan pekerjaan, bisnis, hubungan antarmanusia, hingga konflik pribadi seolah mendapat saluran ketika semua itu diwujudkan dalam ritual memukul simbol musuh. Simbolisme tersebut berpadu dengan harapan agar kesialan pergi dan kehidupan menjadi lebih baik.
Malam di Hong Kong semakin larut. Asap dupa masih memenuhi udara, sementara lilin-lilin merah tetap menyala. Di bawah jalan layang itu, energi spiritual seolah terus hidup, meski di atasnya lalu lintas kota modern terus bergerak tanpa henti.
Pada akhirnya, kita disadarkan bahwa di balik gemerlap modernitas sebuah kota, manusia tetaplah sama seperti dahulu. Mereka masih memiliki harapan, membutuhkan perlindungan, mencari ketenangan batin, dan merindukan kehidupan spiritual yang memberi makna.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.










