Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Roda kendaraan telah meninggalkan hiruk pikuk Kota Batam. Jembatan Barelang pun telah dilewati, atmosfer perjalanan berubah. Laut terbentang tenang, langit terasa lebih luas, dan keheningan mulai menyongsong. Inilah Pulau Galang, dan saya hadir kali ini sebagai wisatawan.
Di pulau ini masih tersisa barak-barak tua yang rapuh, kendaraan operasional yang terpajang di garasi, serta gereja kayu yang tetap berdiri tegak. Tempat ini pernah menjadi oase bagi mereka yang melarikan diri dari konflik di negaranya. Ia menjadi saksi sebuah tahap kehidupan yang ditentukan oleh ombak, belas kasih manusia, dan lembaga-lembaga internasional.
Di Pulau Galang, sejarah tidak hanya tertulis di atas kertas, melainkan juga terpahat pada bangunan dan artefak yang kemudian ditinggalkan oleh waktu.
Baca juga: Barelang, Menyusuri Jembatan dan Sunyi di Selatan Batam
Nagoya dan Menuju Jembatan Pertama Fisabilillah


Pagi hari di Nagoya menghadirkan wajah Batam modern. Kawasan ini menyuguhkan simfoni urban yang kontras: deretan ruko tua dengan cat yang memudar berdampingan dengan hotel-hotel modern yang menjulang. Inilah salah satu nadi ekonomi Batam, tempat denyut kota terasa paling kencang.
Aroma roti bakar dan kopi saring dari warung kopi tiam lokal menjadi rutinitas para pekerja rantau dan pelancong yang akan memulai hari. Di sudut-sudut jalan, kendaraan sudah membelah pagi. Toko elektronik, pakaian impor, dan parfum mungkin belum buka, tetapi penjual sarapan sudah melayani sejak subuh. Ada masakan Jawa, Sunda, Padang, dan Melayu, karena ini Batam.
Sambil memasukkan perlengkapan ke kendaraan, saya memulai perjalanan menuju Pulau Galang. Mobil bergerak ke selatan, meninggalkan distrik belanja dan kesibukan kota. Papan reklame raksasa dan keramaian pasar perlahan menjauh. Tujuan kami adalah Pulau Galang, kawasan yang menyimpan catatan kelabu kemanusiaan.
Jembatan Barelang pertama menyongsong. Namanya Jembatan Fisabilillah, jembatan paling monumental dalam rangkaian Barelang. Mungkin tidak setenar jembatan di San Francisco atau Hong Kong, tetapi jembatan kabel yang melintasi laut ini adalah monumen penting: salah satu jembatan besar karya anak negeri yang membentang di atas laut. Dari sini terlihat gugusan pulau kecil yang tersebar seperti zamrud di permukaan air.
Roda kendaraan terus melaju ke selatan, melewati keheningan perkebunan warga dan hutan sekunder di sisi jalan.
Pulau Galang, Dulu Perkebunan Karet, Nanas, dan Kampung Nelayan
Mobil melintas melewati jembatan-jembatan Barelang hingga akhirnya memasuki Pulau Galang. Suasananya tenang, dengan hutan sekunder dan vegetasi tropis yang rimbun. Tidak banyak permukiman yang terlihat. Kami memasuki kawasan yang pernah menjadi saksi bisu peristiwa besar Asia Tenggara dan dunia.
Pulau Galang cukup luas, sekitar 80 km². Sejak awal 1990-an, pulau ini dibelah jalan Trans Barelang sepanjang kurang lebih 15 kilometer. Namun sebelum menjadi lokasi penampungan pengungsi Vietnam pada 1979, Galang dikenal sebagai kawasan perkebunan karet dan nanas.
Saat itu hanya ada petani yang bermukim sementara untuk mengurus perkebunan, serta beberapa kelompok kecil nelayan tradisional yang tinggal di pesisir. Kehidupan mereka sangat bergantung pada hasil laut.
Penetapan Galang sebagai kamp pengungsi Vietnam merupakan bagian penting dari diplomasi internasional dan kemanusiaan Indonesia. Pada akhir 1970-an, gejolak politik di Indochina memicu eksodus besar-besaran warga sipil yang kemudian dikenal sebagai manusia perahu. Banyak di antara mereka mendarat di pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau.
Untuk menampung dan mengoordinasikan para pengungsi tersebut, pemerintah Indonesia menetapkan Pulau Galang sebagai tempat penampungan sementara. Dari sinilah mereka diproses untuk diberangkatkan ke negara ketiga yang bersedia menerima mereka sebagai pengungsi.
Artefak dan Museum yang Masih Bercerita


Setelah sekitar sepuluh menit melaju di jalan utama Pulau Galang, kami berbelok memasuki kawasan bekas Camp Vietnam. Jalan masuknya tunggal, dahulu memudahkan pengawasan arus orang dan logistik. Kami menyusuri jalan yang mulai menua, diapit hutan sekunder yang rimbun. Papan penunjuk arah dan bekas pos penjagaan masih berdiri, memberi gambaran betapa ketatnya administrasi saat kamp ini berada di bawah pengawasan UNHCR dan pemerintah Indonesia.
Kawasan kamp seluas sekitar 80 hektare ini kini menjadi destinasi wisata sejarah dan kemanusiaan. Saat kami datang, suasananya sepi. Hampir tidak ada pengunjung lain. Mungkin karena lokasinya cukup jauh dari pusat Batam, sekitar 50 kilometer, dan tujuan utama orang datang memang untuk melihat Camp Vietnam.
Bangunan dan artefak masa lalu masih dipertahankan. Ada yang direnovasi, ada pula yang dibiarkan menua. Kami mengunjungi Museum Galang, bangunan yang paling terawat. Di sinilah tersimpan arsip administrasi, foto-foto, dan berbagai jejak kehidupan para pengungsi.
Bekas Rumah Sakit PMI juga masih berdiri, lengkap dengan ruang-ruang perawatan yang dahulu melayani penghuni kamp. Barak-barak kayu tempat tinggal pengungsi masih dapat dilihat, meski sebagian telah rusak dimakan usia.
Di ruang terbuka terdapat replika kapal pengungsi, jenis kapal kayu yang dahulu membawa ratusan orang menyeberangi lautan. Banyak yang selamat, tetapi tidak sedikit pula yang tak pernah sampai ke tujuan.
Saya juga melihat garasi yang masih menyimpan kendaraan operasional UNHCR, seperti Toyota Hardtop dan minibus tua. Mungkin sudah tidak berjalan lagi, tetapi masih terawat sebagai bagian dari sejarah.
Galang, Tempat Bertahan Hidup dan Memulai Kembali
Camp Vietnam beroperasi dari 1979 hingga 1996. Sekitar 250.000 pengungsi pernah ditampung di sini. Pada masa puncaknya, antara 1980–1985, penghuni kamp mencapai sekitar 20.000 orang, setara sebuah kota kecil di Sumatra.
Di sini ribuan bayi lahir dan ratusan orang meninggal. Makam para pengungsi masih ada dan tetap dirawat. Beberapa keluarga bahkan rutin datang berziarah hingga sekarang.
Galang adalah monumen hidup, pengingat bahwa ada masa ketika manusia berada di titik paling rapuh dalam hidupnya, lalu berusaha bangkit dan memulai kembali.
Baca juga: Masjid di Manhattan, Menemukan Jejak Muslim di Tengah Jantung New York
Dalam perjalanan pulang, saya teringat sebuah peristiwa di San Francisco beberapa tahun lalu. Di sebuah toko suvenir, seorang perempuan paruh baya menyapa saya.
“Anda dari Indonesia?”
“Iya, saya dari Jakarta.”
“Saya tahun 1984 sampai 1986 adalah pengungsi Vietnam yang ditampung di Pulau Galang.”
Saya terpukau. Perempuan itu kini hidup mapan di Amerika Serikat, tetapi jejak hidupnya pernah singgah di Pulau Galang. Kami pun berbincang cukup lama tentang Indonesia dan kenangan yang masih ia simpan dari pulau kecil di selatan Batam itu.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.











