Road Trip New York ke Washington DC, Menyusuri Jejak Sejarah Amerika

washington dc

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Washington D.C. adalah kota yang dirancang dengan ketelitian seorang arsitek dan visi seorang negarawan. Saya hadir di ibu kota adidaya ini untuk menjelajahi pusat sejarah dan politik Amerika Serikat, dimulai dari megahnya Capitol Hill hingga Washington Monument yang menjulang tinggi. Berjalan kaki di antara bangunan-bangunan tempat kebijakan dunia dirumuskan menghadirkan sensasi unik, seolah menapaki lorong yang menghubungkan masa lalu dan masa kini Amerika.

Saya sedang berada di National Mall, ruang terbuka hijau yang sering disebut sebagai ruang tamu Amerika Serikat. Taman kota ini membentang sekitar tiga kilometer dari Capitol Hill hingga Lincoln Memorial. Berjalan di sepanjang jalur ini terasa seperti membaca buku sejarah raksasa yang dibentangkan di ruang terbuka.

National Mall dirancang dengan prinsip keterbukaan. Tidak ada gedung pencakar langit yang mendominasi pandangan. Yang terbentang adalah hamparan rumput luas, monumen-monumen bersejarah, dan ruang publik yang menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam perjalanan bangsa Amerika.

Baca juga: Jumatan di Queens, Menyusuri Masjid New York dan Hangatnya Couscous Maroko

Di tengah kawasan ini berdiri World War II Memorial dengan air mancur yang memberi kesejukan di tengah siang Washington. Tak jauh dari sana terdapat Reflecting Pool, kolam sepanjang sekitar 600 meter yang menjadi salah satu ikon kota. Permukaan airnya yang tenang memantulkan Washington Monument di satu sisi dan Lincoln Memorial di sisi lain.

Kolam ini bukan sekadar elemen taman. Pada tahun 1963, kawasan ini menjadi lokasi berkumpulnya sekitar 250.000 orang untuk mendengarkan pidato legendaris Martin Luther King Jr., I Have a Dream. Di tempat inilah sejarah Amerika modern ditulis di hadapan dunia.

National Mall juga menjadi rumah bagi Smithsonian Museums, Washington Monument, serta Lincoln Memorial. Berdiri di tengah hamparan taman ini memberikan perspektif yang menarik. Di ujung timur terlihat kubah putih Capitol Hill yang ikonik, sementara di ujung barat berdiri Lincoln Memorial yang tampak kokoh dari kejauhan.

National Mall bukan monumen mati. Ia terus hidup sebagai ruang publik tempat sejarah lama dirawat dan sejarah baru terus ditulis.

Capitol Hill, simbol demokrasi Amerika

the dome

Di ujung timur National Mall berdiri Capitol Hill, salah satu bangunan paling terkenal di Amerika Serikat. Gedung ini merupakan pusat legislatif sekaligus simbol fisik demokrasi Amerika.

Posisinya sengaja dibangun di atas area yang lebih tinggi sehingga tampak mendominasi lanskap sekitarnya. Dari kejauhan, kubah putih raksasa yang dikenal sebagai The Dome langsung mencuri perhatian. Di puncaknya berdiri Statue of Freedom, patung perunggu yang seolah mengawasi ibu kota dari ketinggian.

Di bawah kubah utama terdapat Rotunda, ruang melingkar yang dihiasi lukisan besar The Apotheosis of Washington. Berdiri di tengah ruangan ini menghadirkan rasa kagum sekaligus membuat pengunjung merasa kecil di hadapan sejarah panjang negara tersebut.

Patung-patung tokoh penting Amerika memenuhi berbagai sudut bangunan. Langkah kaki dan percakapan terdengar bergema di dalam ruang yang megah ini.

Setelah cukup lama menikmati Capitol Hill, saya memilih berjalan santai di taman-taman sekitar. Jalur pedestrian yang tertata rapi, bangku-bangku teduh, dan pepohonan besar membuat kawasan ini terasa nyaman untuk dinikmati tanpa terburu-buru.

New York ke Washington, perjalanan nyaman lewat tol

tol

Perjalanan menuju Washington sebenarnya dimulai sehari sebelumnya di New York.

Saya sudah duduk di kursi depan mobil sedan sewaan. Harlem 125th Street perlahan ditinggalkan. Jalur kereta layang dan deretan bangunan khas Manhattan mulai berganti dengan jalan raya yang mengarah ke luar kota.

Mobil meluncur menuju Lincoln Tunnel sebelum akhirnya keluar dari Pulau Manhattan. Siluet gedung-gedung pencakar langit New York perlahan mengecil di kaca belakang.

Ada perasaan kontras ketika meninggalkan kota yang tak pernah tidur menuju perjalanan panjang ke ibu kota Amerika. Jalan-jalan besar menyambut, lalu kami memasuki Interstate 95 South atau I-95, salah satu jalur utama di pesisir timur Amerika Serikat.

Kami memilih jalur khusus kendaraan penumpang agar perjalanan lebih nyaman tanpa harus terlalu sering berbagi lajur dengan truk-truk besar. Mobil melaju stabil dengan kecepatan tinggi, membelah kawasan industri New Jersey yang luas.

Memasuki wilayah Maryland, pemandangan perlahan berubah. Kawasan industri berganti menjadi hamparan hutan hijau yang menenangkan. Jalan tol membelah lanskap yang terasa lebih alami.

Setelah lebih dari dua jam perjalanan, kami berhenti di sebuah rest area besar. Bangunannya luas, bersih, dan terang. Selain SPBU, tersedia berbagai restoran cepat saji, toko kebutuhan harian, hingga area bermain anak.

Aroma kopi segar mendominasi ruangan. Hampir semua pengendara tampak membawa secangkir kopi di tangan. Percakapan dalam berbagai bahasa terdengar bersahut-sahutan, menggambarkan keragaman Amerika yang selalu menarik untuk diamati.

Sandwich dan kopi menjadi bekal sederhana sebelum melanjutkan perjalanan menuju Washington.

Alasan mengapa mobil sewa menjadi pilihan menarik

di dalam mobil

Mendekati Washington D.C., papan petunjuk hijau mulai menunjukkan arah menuju pusat kota. Kami melintasi Sungai Potomac yang tenang sebelum memasuki wilayah ibu kota.

Kesan pertama yang langsung terasa adalah ruang yang lebih lapang dibanding New York. Washington tumbuh secara horizontal. Tidak ada deretan gedung pencakar langit yang menutupi cakrawala. Langit terlihat lebih luas dan kota terasa lebih teratur.

Kami langsung menuju hotel untuk beristirahat sebelum menjelajah National Mall keesokan harinya.

Untuk perjalanan New York–Washington yang berjarak sekitar 350 kilometer, mobil sewaan memang menjadi pilihan yang masuk akal. Selain lebih fleksibel, perjalanan juga terasa nyaman karena bisa berhenti kapan saja untuk menikmati suasana sepanjang rute.

Baca juga: Di Balik Gemerlap Times Square, Ada Gerobak Halal yang Menggerakkan New York

Tentu ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Pengemudi wajib memiliki SIM Internasional, kartu kredit untuk pembayaran dan deposit kendaraan, serta sebaiknya memilih mobil yang sudah dilengkapi perangkat E-ZPass karena sebagian besar jalan tol di kawasan timur Amerika menggunakan sistem pembayaran elektronik.

Kami memilih sedan ukuran menengah. Cukup nyaman untuk perjalanan jarak jauh, hemat bahan bakar, dan tetap mudah diparkir ketika tiba di pusat kota Washington.

Perjalanan dari New York ke Washington bukan sekadar perpindahan kota. Ini adalah pengalaman menikmati dua wajah Amerika yang berbeda. Satu kota hidup dalam ritme cepat metropolitan dunia, sementara yang lain mengajak pengunjung menelusuri jejak sejarah, demokrasi, dan identitas sebuah bangsa.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *