Masjid di Manhattan, Menemukan Jejak Muslim di Tengah Jantung New York

masjid manhattan

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Soho atau South of Houston Street dikenal sebagai salah satu kawasan paling ikonik di Manhattan. Deretan bangunan bergaya industrial abad ke-19, jalan berbatu (cobblestone), butik mode ternama, galeri seni, dan kafe-kafe trendi menjadikan kawasan ini tujuan favorit wisatawan dari seluruh dunia.

Namun di balik citranya sebagai pusat seni dan gaya hidup urban, Soho juga menyimpan sisi lain New York yang jarang dibicarakan. Di antara hiruk-pikuk aktivitas bisnis dan wisata, terdapat komunitas Muslim yang hidup dan berkembang sebagai bagian dari denyut kota.

Saya keluar dari stasiun subway dan mulai berjalan menyusuri jalan-jalan kecil yang diapit bangunan bata merah serta fasad besi cor khas Manhattan lama. Suasananya berbeda dengan Times Square yang gemerlap atau Astoria di Queens yang kental nuansa Timur Tengah dan Latino.

Baca juga: Road Trip New York ke Washington DC, Menyusuri Jejak Sejarah Amerika

Di sini ritme kehidupan terasa lebih santai. Orang-orang berjalan menikmati kota, sebagian membawa kopi, sebagian lagi keluar masuk butik atau galeri seni. Aroma roti panggang dan kopi segar sesekali terbawa angin di antara lalu lalang pejalan kaki.

Semakin jauh berjalan, semakin terasa bahwa Soho bukan sekadar kawasan belanja. Ia adalah ruang yang mempertemukan sejarah, kreativitas, dan keberagaman budaya New York dalam satu lanskap perkotaan yang unik.

Masjid para profesional di Lower Manhattan

di dalam masjid manhattan

 

Dari kawasan Soho saya melangkah menuju sebuah bangunan sederhana di Cliff Street, tidak jauh dari kawasan Financial District. Inilah Masjid Manhattan, salah satu pusat aktivitas Muslim terpenting di Lower Manhattan.

Lokasinya sangat strategis. Wall Street, World Trade Center, dan berbagai kantor perusahaan besar berada dalam jarak berjalan kaki. Karena itulah masjid ini menjadi tempat beribadah bagi para profesional Muslim yang bekerja di pusat ekonomi dunia.

Ketika tiba, waktu zuhur telah lewat. Namun masih terlihat jamaah datang dan pergi. Ada yang mengenakan jas formal, ada pekerja restoran, sopir taksi, mahasiswa, hingga wisatawan seperti saya. Wajah-wajah yang hadir mencerminkan keberagaman Islam di New York. Ada yang tampak berasal dari Pakistan, Bangladesh, Turki, Maroko, Afrika Barat, Asia Tengah, hingga Asia Tenggara.

Bangunan masjid terdiri dari beberapa lantai yang dimanfaatkan secara efisien. Tempat wudhu, ruang salat pria dan wanita, ruang pendidikan, serta area kegiatan komunitas dipisahkan sesuai kebutuhan. Memasuki masjid, suasana langsung berubah. Kebisingan kota seakan tertinggal di luar pintu. Di tengah kawasan bisnis yang sibuk, masjid ini menghadirkan ruang hening yang memberi kesempatan bagi siapa saja untuk beristirahat sejenak dari ritme kota yang nyaris tak pernah berhenti.

Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjalankan berbagai program pendidikan Al-Qur’an, kajian Islam, pembinaan mualaf, hingga layanan bagi wisatawan Muslim yang sedang berkunjung ke New York. Di sinilah saya melihat bagaimana Islam menjadi bagian alami dari kehidupan kota, bukan sesuatu yang terpisah dari masyarakat sekitarnya.

Menikmati Couscous Maroko dengan porsi raksasa

couscous raksasa

Usai berkunjung ke masjid, saya memutuskan mencari makan siang di sebuah restoran Maroko yang berada tidak jauh dari lokasi. Restorannya sederhana, tidak terlalu besar. Aroma rempah langsung menyambut begitu pintu dibuka. Wangi kayu manis, jintan, dan daun mint bercampur menciptakan suasana khas Afrika Utara yang terasa hangat.

Saya memulai makan siang dengan segelas teh mint panas. Uapnya perlahan naik dari gelas, membawa aroma segar yang menenangkan. Tak lama kemudian datang hidangan utama yang saya pesan: Moroccan Chicken Couscous. Piringnya besar. Sangat besar. Jika dibandingkan dengan porsi warteg di Jakarta, mungkin setidaknya dua kali lipat.

Di atas hamparan couscous terdapat potongan ayam panggang berukuran jumbo. Disertai wortel, kol, buncis, kacang arab, dan kuah rempah yang harum. Couscous sendiri bukan nasi. Ia dibuat dari semolina gandum yang dikukus hingga membentuk butiran-butiran kecil. Dalam tradisi Maroko, couscous sering disajikan sebagai hidangan utama untuk keluarga maupun tamu.

Budaya menjamu tamu dengan porsi besar merupakan bagian penting dalam tradisi masyarakat Maroko. Hidangan yang melimpah dianggap sebagai bentuk penghormatan sekaligus harapan akan keberkahan. Gigitan pertama menghadirkan perpaduan rasa yang menarik. Ayamnya lembut dan gurih, sementara rempah-rempah memberi karakter hangat yang berbeda dari masakan Asia Tenggara.

Saya akhirnya memahami mengapa banyak restoran Timur Tengah dan Afrika Utara di New York terkenal dengan porsinya yang besar. Bagi mereka, makanan bukan sekadar urusan kenyang, tetapi juga bentuk keramahan.

Muslim menjadi bagian dari Mozaik New York

al-qur'an

Perjalanan hari itu meninggalkan kesan yang berbeda. New York sering digambarkan sebagai kota pencakar langit, pusat keuangan dunia, dan simbol modernitas. Semua itu memang benar. Namun di balik citra tersebut terdapat lapisan kehidupan lain yang sama pentingnya.

Komunitas Muslim adalah salah satunya.

Mereka hadir sebagai dokter, sopir taksi, pedagang, mahasiswa, akademisi, pekerja restoran, pegawai kantoran, hingga pemilik usaha. Mereka berasal dari berbagai bangsa dan budaya, tetapi berbagi ruang yang sama dalam kehidupan kota.

Baca juga: Jumatan di Queens, Menyusuri Masjid New York dan Hangatnya Couscous Maroko

Di Queens, Harlem, Bronx, Brooklyn, hingga Lower Manhattan, Islam tumbuh sebagai bagian dari keberagaman yang membentuk identitas New York. Masjid Manhattan mungkin bukan bangunan terbesar atau termegah di kota ini. Namun keberadaannya menjadi simbol bahwa kehidupan spiritual tetap memiliki tempat di tengah pusat ekonomi terbesar dunia.

Sore mulai turun ketika saya meninggalkan kawasan itu. Gedung-gedung tinggi Manhattan kembali mendominasi pandangan. Orang-orang bergegas menuju tujuan masing-masing. Saya berjalan perlahan, membawa satu kesan yang sulit dilupakan: bahwa di balik kerasnya ritme New York, selalu ada ruang bagi iman, kebersamaan, dan harapan.

Dan saya beruntung sempat merasakannya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *