Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Ambon Manise, kota ini akhirnya saya datangi. Dari jendela pesawat, Kota Ambon yang berada di Teluk Ambon tampak seperti lekukan permata biru yang tenang. Bentuk teluknya yang dalam dan dramatis membagi daratan menjadi dua semenanjung besar, Leihitu dan Leitimur, yang seolah saling bersentuhan tetapi dipisahkan laut biru yang teduh.
Saat pesawat mulai merendah menuju Bandara Pattimura, garis pantai yang berkelok terlihat semakin jelas. Di satu sisi, perbukitan hijau berdiri tegak dengan kabut tipis di puncaknya. Di sisi lain, riak kecil ombak memantulkan cahaya matahari menjelang siang seperti serpihan kristal.
Dari udara tampak jelas bahwa kehidupan Ambon berpusat pada laut. Jembatan Merah Putih membentang megah di atas teluk, memperpendek jarak tempuh warga sekaligus memberi wajah modern bagi kota ini. Kapal nelayan kecil, kapal penumpang, hingga kapal kargo besar tampak bergerak perlahan di atas air.
Baca juga: Perjalanan di Jambi, Menyusuri Batanghari dan Gurihnya Ikan Toman
Di area kedatangan bandara, kami disambut patung Bung Hatta yang memegang buku dan Sutan Syahrir yang sedang menaiki Vespa. Kedua tokoh bangsa itu memang pernah dibuang ke Banda Neira sebagai tahanan politik. Nama Hatta dan Syahrir pun menjadi bagian dari ingatan sejarah masyarakat Maluku.
Pantai Natsepa dan rujak yang melegenda

Pantai Natsepa terus berbenah tanpa kehilangan pesonanya. Pantai di wilayah Suli ini menjadi salah satu wajah keindahan pesisir Maluku Tengah yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Hamparan pasir putih berpadu dengan laut yang tenang dan dangkal. Gradasi warna biru muda hingga toska terlihat memanjang di depan mata. Pohon-pohon rindang berjajar di tepi pantai, menciptakan suasana teduh yang membuat orang ingin duduk lebih lama menikmati angin laut.
Debur ombak kecil terdengar pelan, seolah mempertegas keramahan khas Ambon.
Berwisata ke Natsepa belum lengkap tanpa menikmati Rujak Natsepa yang legendaris. Rujak ini bukan sekadar camilan buah, tetapi bagian dari identitas kuliner Ambon yang dikenal hingga luar negeri.
Isi rujaknya terdiri dari buah lokal seperti mangga, nanas, pepaya, dan kedondong. Yang membuat berbeda adalah saus kacangnya. Kacang tanah digiling agak kasar sehingga teksturnya tetap terasa renyah saat bertemu buah yang segar.
Rasa manisnya berasal dari gula aren Saparua yang legit dengan aroma karamel yang kuat. Ditambah asam pala khas Maluku, rasa rujak menjadi semakin kaya.
Kami menikmati rujak sambil memandang laut Natsepa. Perpaduan angin pantai, suara ombak, dan rasa rujak menciptakan pengalaman sederhana yang sulit dilupakan.
Pasar Mardika, tempat laut dan rempah bertemu

Pasar Mardika adalah denyut ekonomi Kota Ambon. Letaknya di tepi Teluk Ambon dan menjadi titik pertemuan pedagang dari berbagai pulau di Maluku.
Di pasar ini, Ambon terasa lebih nyata. Aroma pala dan cengkih bercampur dengan bau laut dan ikan segar. Pedagang berbicara cepat dengan logat khas Ambon yang terdengar lugas tetapi akrab. Aktivitas tawar-menawar berlangsung tanpa jarak.
Di deretan lapak yang menghadap laut, ikan cakalang terlihat paling mendominasi. Ada yang masih segar, ada pula yang sudah diasap menjadi cakalang asar. Warnanya cokelat kemerahan dengan aroma asap yang khas.
Teknik pengasapan ini sudah digunakan masyarakat Maluku sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum nelayan mengenal pendingin modern. Cara tradisional yang lahir dari kebutuhan, lalu berubah menjadi identitas rasa.
Selain ikan, pasar ini juga memperlihatkan kuatnya budaya sagu di Ambon. Ada sagu tumang, sagu basah yang dibungkus anyaman daun berbentuk kerucut. Ada pula sagu lempeng yang keras dan renyah, biasa disantap bersama kopi atau dicelupkan ke kuah ikan.
Sebagian sagu dijual dalam bentuk bubuk, sebagian lagi dipadatkan seperti bata agar mudah dibawa.
Papeda dan karakter orang Ambon

Papeda bukan hanya makanan di Ambon. Papeda adalah cerita panjang tentang hubungan masyarakat Maluku dengan alamnya. Sagu dipercaya sebagai pohon kehidupan. Dari situlah lahir papeda, makanan yang hingga kini tetap menjadi identitas kuliner Indonesia Timur.
Proses penyajiannya selalu menarik dilihat. Tepung sagu disiram air panas lalu diaduk terus-menerus menggunakan dua batang bambu yang disebut gata-gata. Perlahan adonan berubah menjadi bening dan lengket seperti gel.
Baca juga: Ladong, Rasa Laut dan Bebek Kuntilanak dari Pesisir Aceh
Dengan gerakan memutar yang lincah, papeda digulung hingga membentuk bulatan besar sebelum dipindahkan ke piring tamu. Di sampingnya telah tersedia sop ikan kuah kuning berbahan ikan cakalang. Kuah panas kaya kunyit, jahe, dan jeruk disiram perlahan di sekitar papeda. Biasanya dilengkapi tumis daun pepaya dan sambal colo-colo yang pedas segar.
Papeda dimakan panas-panas. Teksturnya lembut dan licin, sementara kuah ikannya memberi rasa gurih dan hangat yang kuat. Mungkin dari makanan seperti inilah karakter masyarakat Ambon terbentuk. Hangat, terbuka, lugas, penuh semangat, tetapi tetap ceria.
Ambon Manise memang bukan hanya tentang pemandangan laut yang indah. Kota ini juga mengajarkan bagaimana hidup bisa dijalani dengan lebih ringan, lebih akrab, dan lebih jujur.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.










