Pendidikan yang Benar Tidak Pernah Melukai, Refleksi dari Guru atas Kasus Pelecehan Santriwati di Pati

santriwati

Milenianews.com, Garut – Kasus dugaan pelecehan terhadap santriwati di Pati, Jawa Tengah, kembali memunculkan kegelisahan di dunia pendidikan. Bagi Insan Faisal Ibrahim, seorang guru kelas 3 di MIS Ar-Radhatun Nur Garut, peristiwa tersebut bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga luka moral yang mencederai makna pendidikan itu sendiri.

Menurutnya, tindakan yang diduga dilakukan oleh sosok pengasuh pesantren itu menjadi pukulan bagi dunia pendidikan berbasis agama yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar dan bertumbuh.

“Kasus di Pati ini bukanlah kasus satu-satunya. Banyak kasus lainnya dengan modus serupa, mulai dari ancaman, penekanan, hingga memanfaatkan kerentanan korban yang mungkin kurang mendapatkan kasih sayang,” ujar Insan saat diwawancarai melalui pesan WhatsApp, Rabu (6/5).

Baca juga: Institusi Pendidikan Punya Peran Penting Cegah Perundungan di Lingkungan Kampus 

Guru Kehilangan Hak Moral Ketika Menjadi Sumber Luka

Bagi Insan, hubungan antara guru dan murid bukan sekadar relasi formal di ruang kelas. Ada amanah besar yang melekat di dalamnya. Seorang pendidik, kata dia, seharusnya hadir untuk menjaga dan membimbing, bukan justru menyakiti.

“Sebagai guru, saya percaya pendidikan yang benar tidak pernah melukai. Pendidikan yang benar itu membimbing, menjaga, dan memuliakan,” tegasnya.

Ia bahkan menilai oknum pendidik yang melakukan kekerasan atau pelecehan telah kehilangan legitimasi moral untuk disebut sebagai guru.

“Jika ada pendidik yang justru menjadi sumber luka, maka ia telah kehilangan hak moral untuk disebut sebagai guru,” tambahnya.

Menurut Insan, pendidikan bukan sekadar proses memindahkan ilmu pengetahuan dari buku ke kepala murid. Lebih dari itu, guru adalah penjaga masa depan yang bekerja dengan empati dan tanggung jawab moral.

Dorongan untuk Korban Agar Berani Bersuara

Insan juga menyoroti ketakutan yang sering dialami korban pelecehan, terutama di lingkungan pendidikan berbasis asrama atau pesantren. Ia memahami bahwa banyak korban memilih diam karena takut dianggap membawa aib bagi keluarga atau lingkungan.

Namun, menurutnya, diam justru dapat memperpanjang luka yang dialami korban.

“Jangan pernah menganggap bahwa diam adalah jalan terbaik untuk menutupi luka karena dianggap aib. Kalian berhak belajar dengan tenang dan hidup dalam lingkungan yang aman,” katanya.

Ia mendorong para santriwati atau siapa pun yang mengalami perlakuan tidak pantas untuk berani berbicara kepada orang yang dipercaya. Melapor, menurutnya, bukan bentuk kelemahan, melainkan upaya melindungi diri sendiri.

Orang Tua Diminta Tetap Hadir dan Mengawasi

Selain menyoroti peran pendidik, Insan juga mengingatkan pentingnya keterlibatan orang tua. Ia menilai masih banyak orang tua yang sepenuhnya menyerahkan pengawasan kepada lembaga pendidikan setelah anak masuk pesantren.

Padahal, hubungan emosional antara anak dan orang tua menjadi benteng awal untuk mencegah kekerasan maupun pelecehan.

“Jangan pernah melepaskan 100 persen tanggung jawab hanya karena anak sudah di pesantren yang dirasa aman,” ujarnya.

Baca juga: Menghadapi Realita Pendidikan dan Dunia Kerja

Menurutnya, orang tua perlu terus hadir dalam kehidupan anak, mendengarkan cerita mereka, dan peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun.

“Kadang luka terbesar lahir bukan karena kejadian itu sendiri, tetapi karena korban merasa sendirian saat membutuhkan perlindungan,” pungkasnya.

Kasus di Pati menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan tidak hanya berbicara soal prestasi dan pengetahuan, tetapi juga tentang keamanan, kepercayaan, dan rasa kemanusiaan. Ketika ruang belajar berubah menjadi sumber trauma, maka yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan korban, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan itu sendiri.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *