Seragam Masih Melekat, Rokok Sudah Dinyalakan, dan Kita Semua Pura-Pura Tidak Melihat

siswa merokok

Oleh: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd

Mata Akademisi, Milenianews.com – Pemandangan siswa berseragam yang merokok di ruang publik kini bukan lagi sesuatu yang mengejutkan—justru mulai terasa biasa. Di sudut jalan, warung, hingga tempat nongkrong, tidak sulit menemukan pelajar yang baru pulang sekolah, masih mengenakan atribut lengkap, sambil menghisap rokok dengan santai.

Di titik ini, yang menjadi masalah bukan hanya perilakunya, tetapi juga bagaimana perilaku itu diterima.

Seragam yang seharusnya menjadi simbol kedisiplinan, identitas, dan tanggung jawab sebagai pelajar justru kehilangan maknanya. Ia tidak lagi mencerminkan nilai, melainkan sekadar pakaian formal yang tidak memiliki konsekuensi moral.

Baca juga: Terus Belajar demi Menjaga Etika: Ujian Moral Guru di Zaman Digital

Ketika pelanggaran jadi kebiasaan

Dulu, perilaku seperti ini dilakukan sembunyi-sembunyi. Ada rasa takut, ada rasa malu. Sekarang, semuanya berubah.

Siswa merokok di ruang publik tanpa beban, bahkan terkadang dengan rasa percaya diri. Tidak ada upaya menyembunyikan, tidak ada kekhawatiran terhadap penilaian sosial.

Ini adalah tanda yang lebih serius: ketika pelanggaran tidak lagi dianggap menyimpang, melainkan mulai dinormalisasi.

Dan normalisasi adalah fase paling berbahaya dari sebuah penyimpangan.

Sekolah sering jadi tertuduh tunggal

Ketika fenomena ini mencuat, reaksi yang paling cepat muncul adalah menyalahkan sekolah dan guru. Pendidikan karakter dipertanyakan, aturan dianggap tidak efektif, dan guru dituding gagal mendidik.

Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu.

Sekolah memang memiliki aturan tegas terkait larangan merokok. Namun, aturan tersebut sering kali hanya berlaku di dalam lingkungan sekolah. Begitu siswa keluar dari gerbang, kontrol itu praktis hilang.

Menjadikan sekolah sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab justru mengaburkan akar masalah yang lebih luas.

Peran keluarga yang kerap diabaikan

Keluarga adalah lingkungan pertama tempat anak belajar. Namun dalam banyak kasus, peran ini tidak berjalan optimal.

Ada orang tua yang tidak mengetahui kebiasaan anaknya. Ada yang mengetahui, tetapi memilih mengabaikan. Bahkan, ada yang menganggap merokok sebagai hal “wajar”, terutama bagi anak laki-laki.

Pola pikir seperti ini tidak hanya permisif, tetapi juga melegitimasi perilaku tersebut.

Lebih jauh lagi, contoh yang diberikan di rumah juga sangat menentukan. Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang terbiasa merokok tanpa batas cenderung menganggap perilaku itu sebagai hal normal.

Masyarakat yang memilih diam

Selain keluarga, masyarakat juga memegang peran penting. Namun sayangnya, banyak yang memilih diam.

Siswa merokok di depan umum sering disaksikan banyak orang, tetapi jarang ada yang menegur. Alasannya beragam: merasa bukan urusan pribadi, enggan terlibat, atau takut menimbulkan konflik.

Akibatnya, tidak ada konsekuensi sosial yang dirasakan oleh siswa. Tidak ada rasa malu. Tidak ada tekanan untuk berubah.

Ketika lingkungan membiarkan, perilaku akan terus berulang.

Ini bukan sekadar soal rokok

Fenomena ini sejatinya bukan hanya tentang merokok. Ini adalah soal bagaimana nilai-nilai pendidikan perlahan terkikis.

Jika perilaku seperti ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan muncul bentuk pelanggaran lain yang lebih serius. Karena pada dasarnya, ketika satu batas dilanggar tanpa konsekuensi, batas berikutnya akan lebih mudah dilewati.

Saatnya berhenti saling menyalahkan

Masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan saling menunjuk pihak yang paling bersalah. Sekolah, keluarga, dan masyarakat harus dilihat sebagai satu ekosistem yang saling terhubung.

Sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter, bukan hanya melalui aturan, tetapi juga pendekatan yang lebih relevan dengan realitas siswa. Orang tua harus lebih hadir—tidak hanya secara fisik, tetapi juga emosional.

Sementara itu, masyarakat perlu menghidupkan kembali budaya saling mengingatkan. Teguran yang disampaikan dengan cara yang baik bukanlah bentuk intervensi, melainkan kepedulian.

Baca juga: Menegur atau Melanggar? Dilema Moral Dunia Pendidikan

Menjaga makna seragam, menjaga masa depan

Pada akhirnya, seragam bukan sekadar pakaian. Ia adalah simbol.

Ketika simbol itu kehilangan maknanya, yang hilang bukan hanya identitas pelajar, tetapi juga arah pembentukan karakter generasi muda.

Jika kita benar-benar peduli pada masa depan, maka membiarkan fenomena ini terus berlangsung bukanlah pilihan.

Karena yang sedang dipertaruhkan bukan hanya citra pelajar hari ini, tetapi kualitas generasi di masa depan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *