Mata Akademisi, Milenianews.com – Isu kesejahteraan guru, khususnya guru honorer, seolah menjadi cerita lama yang terus berulang tanpa ujung yang jelas. Dari masa ke masa, guru honorer tetap berada pada posisi paling rentan dalam sistem pendidikan nasional. Mereka mengemban tanggung jawab besar dalam mendidik generasi bangsa, namun sering kali harus menerima kenyataan pahit berupa upah yang jauh dari kata layak. Ironisnya, kondisi ini terus berlangsung meskipun pendidikan kerap disebut sebagai sektor prioritas dalam pembangunan nasional.
Sejak lama, salah satu alasan klasik yang kerap disampaikan untuk menjelaskan rendahnya kesejahteraan guru honorer adalah keterbatasan anggaran negara. Pemerintah sering berdalih bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) belum sepenuhnya mampu mengakomodasi peningkatan kesejahteraan seluruh tenaga pendidik, terutama mereka yang belum berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). Guru honorer pun diminta untuk bersabar, mengabdi dengan tulus, dan menunggu kebijakan yang entah kapan benar-benar akan berpihak.
Baca juga: Normalisasikan Rendahnya Kesejahteraan Guru adalah Kekeliruan yang Harus Segera Dihentikan
Situasi ini menjadi semakin kontras ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dijalankan. Program MBG pada dasarnya merupakan langkah positif dan patut diapresiasi karena bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik serta mendukung tumbuh kembang anak-anak Indonesia. Tidak ada yang menyangkal bahwa program ini membawa manfaat besar, khususnya bagi siswa dan keluarga kurang mampu. Namun, di balik niat baik tersebut, muncul realitas sosial yang tidak bisa diabaikan, terutama oleh para guru honorer.
Di lapangan, para pegawai dan mitra MBG—mulai dari petugas distribusi, penyedia jasa katering, hingga tenaga pendukung lainnya—mendapatkan upah yang relatif layak dan manusiawi. Mereka menerima bayaran sesuai jam kerja, bahkan dalam beberapa kasus dilengkapi dengan sistem kontrak yang jelas. Penghasilan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti pangan, sandang, dan kebutuhan keluarga. Kondisi ini tentu wajar dan memang seharusnya demikian, karena setiap pekerja berhak memperoleh penghasilan yang layak.
Namun, di sisi lain, guru honorer yang setiap hari mengajar, mendidik, membimbing karakter, serta menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa justru masih harus bertahan dengan honor yang jauh di bawah standar kebutuhan hidup. Tidak sedikit guru honorer yang menerima upah bulanan hanya beberapa ratus ribu rupiah. Bahkan, ada pula yang dibayar per jam mengajar dengan nominal yang nyaris tidak berubah selama bertahun-tahun. Ketika dibandingkan dengan kesejahteraan mitra MBG, perbedaan ini terasa begitu mencolok dan menyakitkan.
Ketimpangan ini bukan persoalan membenturkan satu profesi dengan profesi lainnya. Masalah utamanya terletak pada prioritas dan keadilan kebijakan. Guru honorer dan para pegawai atau mitra MBG sejatinya berada dalam ekosistem pendidikan yang sama, yakni sama-sama berkontribusi bagi masa depan anak bangsa. Namun, mengapa apresiasi terhadap guru honorer masih begitu minim, seolah pengabdian mereka hanya dapat dibayar dengan kata “ikhlas” dan “sabar”?
Ketika kebijakan kehilangan rasa keadilan
Lebih jauh, kondisi ini berpotensi melukai rasa keadilan sosial. Guru honorer bukanlah tenaga sukarela yang bekerja sambil lalu. Mereka memiliki kualifikasi pendidikan, tanggung jawab administratif, target pembelajaran, serta beban moral yang tidak ringan. Mereka dituntut untuk profesional, disiplin, dan inovatif, tetapi kesejahteraan yang diterima tidak mencerminkan tuntutan tersebut. Di tengah meningkatnya biaya hidup, banyak guru honorer terpaksa mencari pekerjaan sampingan, mengajar di beberapa sekolah sekaligus, atau bahkan meninggalkan profesi guru demi bertahan hidup.
Program MBG seharusnya menjadi momentum refleksi bagi pemerintah dan para pemangku kebijakan. Jika negara mampu mengalokasikan anggaran besar untuk memastikan setiap siswa mendapatkan makanan bergizi, maka negara seharusnya juga mampu memastikan bahwa guru yang mendidik siswa tersebut dapat hidup secara layak. Pendidikan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga soal memberikan keadilan bagi mereka yang mendidik akal dan hati generasi penerus bangsa.
Ketika guru honorer merasa terpinggirkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu guru itu sendiri, tetapi juga oleh kualitas pendidikan secara keseluruhan. Guru yang hidup dalam tekanan ekonomi akan kesulitan untuk sepenuhnya fokus pada pengembangan pembelajaran. Bukan karena kurangnya dedikasi, melainkan karena realitas hidup yang memaksa. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menggerus semangat, loyalitas, serta regenerasi tenaga pendidik.
Sudah saatnya persoalan kesejahteraan guru honorer tidak lagi dipandang sebagai masalah sampingan. Negara perlu hadir secara lebih tegas dan adil. Kebijakan pendidikan harus memandang guru sebagai subjek utama, bukan sekadar pelengkap sistem. Program-program besar seperti MBG hendaknya diiringi dengan kebijakan yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan guru, khususnya mereka yang selama ini berada di garis paling belakang.
Ketimpangan yang terjadi saat ini adalah kenyataan yang harus diakui, bukan ditutupi. Mengakui bukan berarti meniadakan program yang sudah berjalan, melainkan memperbaiki arah kebijakan agar lebih berkeadilan. Guru honorer tidak menuntut kemewahan; mereka hanya berharap pengakuan yang nyata atas kerja dan pengabdiannya. Pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh program-program besar dan anggaran fantastis, tetapi juga oleh cara negara memperlakukan para pendidik secara adil dan manusiawi. Selama kesejahteraan guru honorer masih tertinggal jauh, selama itu pula ketimpangan dalam dunia pendidikan akan terus menjadi luka yang belum sembuh.
Penulis: Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Instagram: @innsanfaisal
Profil Singkat: Seorang pendidik berdedikasi yang mengajar di jenjang Madrasah Ibtidaiyah. Selain aktif mengajar, ia juga memiliki hobi menulis yang ia tekuni secara konsisten. Kecintaannya terhadap dunia literasi membuahkan hasil dengan terbitnya beberapa karya tulis, termasuk buku yang telah dipublikasikan. Melalui tulisan-tulisannya, ia berusaha menyampaikan gagasan, nilai-nilai pendidikan, dan inspirasi bagi para pembaca, khususnya generasi muda.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













