Puisi  

Fragile

Hadi Suroso. (Foto: Istimewa)

Oleh Hadi Suroso

Fragile….., Setiap kali terdengar lagu dari Sting itu, anganku terbang melayang ke waktu yang lampau. Petikan melodi di gitar akustiknya sungguh menyentuh, buah dari kepiawaian rasa pada penjiwaan kuat dari lirik yang menyayat. Aku hanyut pada irama nada lagu itu.

Adalah kamu yang dulu pernah singgah, kini bayangmu kembali mengusik sepiku. Bagaimanapun…, kamu pernah menjadi pelangi yang memberi keindahan, meski hadirmu hanya sebentar, lalu pergi bersama rintik gerimis yang memudar.

Lagu itu bagai kunci pembuka kenangan tentang kita. Terlebih alunan nadanya sayup terdengar di sepi malam yang tenang, dimana langit bertabur bintang-bintang. Kamu terasa ada di sisiku, kita bercengkerama menatap langit, lalu menaruh mimpi di antara kerlap-kerlip pijarnya. Kita sedang asyik merajut mimpi tentang masa depan.

Sebuah keyakinan bahwa mimpi kita itu tinggal selangkah lagi untuk menjadi nyata. Dengan tekun kita tenun agar tidak sekedar menjadi angan-angan belaka.

Aku tenggelam pada lamunan tentang kita dulu. Begitu yakin mimpi-mimpi itu akan kita gapai. Tak pernah terbayangkan jika akhirnya kita mesti menelan kenyataan pahit akan usai. Dan cerita kita tinggallah bait-bait usang dari larik romansa yang beterbangan menjadi selesai.

Seperti judul lagu itu, sekuat-kuatnya kita memegang janji, seteguh-teguhnya kita menyimpan angan di hati, nyatanya kita tidak sehebat itu_kita begitu rapuh. Rentan hancur oleh hantaman badai, kita lemah dan mudah rubuh.

Kita tak cukup siap dengan berbagai aral rintangan. Dan perahu layar kita dalam menuju masa depan itu pun kandas sebelum tiba di dermaga tujuan. Mimpi-mimpi kitapun jadi ikut terkubur di puing-puing reruntuhan.

How fragile we are…

Begitu rapuhnya kita ternyata

Bogor, 29052024

Hd’s

 

Profil Penulis:

Hadi Suroso. Biasa dipanggil Mr/Mas Bob. Aktivitas keseharian, mengajar Math Cambridge di sekolah Bosowa Bina Insani Bogor, guru Bimbel dan juga guru privat SD sampai SMA untuk persiapan masuk PTN. Mulai menyukai menulis sejak satu tahun terakhir, khususnya Puisi dan Refleksi kehidupan sebagai percikan hikmah. Menulis bisa kapan saja, biasanya saat muncul gagasan dan keinginan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Menulis merupakan bagian dari  mengasah jiwa dan menggali hikmah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *