Milenianews.com, Depok– JakaBagi SEBI Social Fund (SSF), membangun lembaga filantropi kampus bukan hanya tentang menghimpun dana. Ada amanah besar yang harus dijaga: memastikan setiap kepercayaan yang diberikan donatur benar-benar dikelola secara profesional, berdampak, dan berkelanjutan.
Kesadaran itulah yang membawa tim SEBI Social Fund mengikuti rangkaian pelatihan Fundraising Plan dan Donor Engagement Plan dalam program SUSTAIN yang diinisiasi NICE Global Impact (NGI) dan NAMA Foundation pada 11–13 Mei 2026 di Jakarta.
Selama tiga hari, tim SSF belajar bersama berbagai lembaga sosial lain tentang bagaimana membangun sistem fundraising yang lebih terstruktur, memperkuat hubungan dengan donatur, hingga menyusun strategi keberlanjutan lembaga di tengah tantangan filantropi modern yang terus berkembang.
Namun bagi SSF, pelatihan ini bukan sekadar belajar tentang angka penghimpunan dana. Lebih dari itu, ini adalah proses belajar untuk menjaga kepercayaan. “Sering kali orang melihat fundraising hanya sebatas mengajak orang berdonasi. Padahal di balik itu ada tanggung jawab besar untuk menjaga amanah, membangun relasi jangka panjang, dan memastikan setiap dana yang dititipkan benar-benar memberi manfaat,” ujar Aries Hermawan, Direktur Eksekutif SEBI Social Fund.


Dalam sesi Fundraising Plan, peserta dibekali cara menyusun strategi penghimpunan dana yang lebih terukur, mulai dari pemetaan potensi donor, penyusunan target dan indikator kinerja, hingga pengembangan pendekatan fundraising online dan offline yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sementara pada sesi Donor Engagement Plan, pembahasan lebih banyak menyentuh sisi hubungan kemanusiaan dalam filantropi: memahami perjalanan donor (donor journey), menjaga loyalitas, hingga membangun komunikasi yang lebih hangat dan bermakna.
Bagi tim SSF, materi tentang donor engagement menjadi pengingat bahwa filantropi sejatinya dibangun di atas rasa percaya. “Donatur bukan hanya pihak yang memberi bantuan. Mereka adalah bagian dari ekosistem kebaikan yang perlu dijaga hubungannya dengan penuh penghormatan dan transparansi,” tambah Aries.
Yang menarik, program ini tidak berhenti pada pelatihan di ruang kelas. Melalui sesi mentoring & coaching, peserta juga mendapatkan pendampingan langsung dari para praktisi untuk memastikan strategi yang disusun benar-benar dapat diterapkan di lembaga masing-masing.


Bagi SSF, proses pendampingan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan arah gerak lembaga ke depan. Sebagai lembaga filantropi Islam berbasis kampus, SEBI Social Fund menyadari bahwa tantangan filantropi hari ini semakin kompleks. Masyarakat tidak hanya membutuhkan program yang baik, tetapi juga tata kelola yang profesional, transparansi yang kuat, serta kemampuan lembaga untuk terus bertumbuh secara berkelanjutan.
Karena itu, penguatan kapasitas seperti ini dipandang bukan sebagai agenda tambahan, melainkan bagian penting dari ikhtiar menjaga amanah umat.
Di tengah semangat belajar tersebut, SSF ingin terus bertumbuh menjadi jembatan kebaikan antara para donatur, dunia kampus, dan masyarakat luas — menghadirkan filantropi yang tidak hanya relevan dengan perkembangan zaman, tetapi juga tetap berakar pada nilai amanah, kebermanfaatan, dan kemanusiaan.













