Lamma Island, Pulau Kecil dengan Wajah Lain Hongkong

lamma island

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Saya berada di Lamma Island, pulau kecil di selatan Hongkong yang terasa seperti dunia berbeda. Dari sini, deretan pencakar langit Hongkong masih terlihat di kejauhan, tetapi suasananya sama sekali lain. Waktu berjalan lebih lambat, udara terasa lebih ringan, dan kehidupan bergerak tanpa hiruk-pikuk metropolitan.

Lamma Island mengajak siapa saja untuk berhenti sejenak, menarik napas, lalu menikmati sisi lain Hongkong yang jarang dibicarakan wisatawan.

Pulau ini dapat dicapai sekitar 30 menit menggunakan ferry dari Central Pier. Yang membuatnya unik, di sini hampir tidak ada kendaraan bermotor. Tidak ada mobil pribadi, bus kota, ataupun sepeda motor. Warga lebih banyak berjalan kaki dan menggunakan sepeda. Untuk mengangkut barang berat, penduduk memakai kendaraan kecil khusus yang dikenal sebagai village vehicle.

Baca juga: Taipei: Dari Taipei 101 hingga Stinky Tofu, Kota Modern Penuh Warna

Pagi itu saya berada di Dermaga Central Hongkong. Matahari belum muncul sempurna, tetapi cahaya tipis sudah menyelinap di antara gedung-gedung tinggi kawasan Victoria Harbour.

Saya menuju Dermaga 4. Penumpang mulai berkumpul walau belum terlalu padat. Ada pekerja malam yang hendak pulang, warga lokal yang membawa barang, dan beberapa wisatawan yang tampaknya juga mencari jeda dari ritme Hongkong yang serba cepat.

Saya sengaja memilih duduk dekat jendela ferry. Perlahan kapal menjauh dari dermaga. Dari belakang, skyline Hongkong tampak ikonik dalam cahaya pagi. Gedung IFC dan menara perkantoran di Central mengecil sedikit demi sedikit. Angin laut menerpa wajah ketika ferry bergerak menuju siluet abu-abu kehijauan di kejauhan, Lamma Island.

Pulau tanpa mesin dan tanpa kebisingan

pulau lamma

Mesin ferry mulai melambat saat mendekati dermaga. Bunyi rantai kapal, ombak kecil, dan langkah penumpang menjadi suara paling dominan pagi itu. Ketika pintu ferry terbuka, suasana yang langsung terasa adalah tenang.

Tidak ada antrean taksi. Tidak ada suara klakson. Tidak ada arus kendaraan yang tergesa-gesa. Udara terasa lebih bersih dibanding pusat kota Hongkong. Saya men-tap kartu Octopus lalu keluar menuju jalan beton yang menghubungkan dermaga dengan perkampungan.

Di sisi kanan terlihat teluk kecil dengan perahu nelayan warna-warni yang masih tertambat rapi. Sebagian nelayan sudah berangkat melaut, meninggalkan jejak ombak tipis di air yang tenang.

Pemandangan berikutnya cukup mengejutkan. Ratusan sepeda terparkir panjang di dekat dermaga. Di pulau ini, sepeda memang menjadi alat transportasi utama.

Hari masih pagi. Saya berjalan menjauh dari dermaga, melewati kios kebutuhan sehari-hari dan warung makan kecil yang mulai buka. Jalan perlahan menyempit, masuk ke kawasan perkampungan lama yang dipenuhi pepohonan dan semak hijau yang terawat.

Pulau yang disukai penulis dan pengelana

yung shue wan

Rumah-rumah tua khas Hongkong berdiri rapat tanpa pagar tinggi. Banyak pot tanaman dan bunga bougenville menggantung di depan rumah, menciptakan suasana intim yang sulit ditemukan di pusat kota Hongkong.

Berjalan di Lamma Island membuat definisi tentang kemewahan terasa berubah. Bukan lagi soal gedung kaca, mobil mahal, atau pusat perbelanjaan mewah. Kemewahan di sini justru hadir lewat suara angin, langkah kaki sendiri, dan laut yang bergerak perlahan.

Saya terus berjalan menuju tepi pantai. Bebatuan granit besar membatasi garis laut. Perahu kayu nelayan bercat merah, hijau, dan kuning bergoyang mengikuti ombak kecil. Airnya jernih, sementara camar sesekali melintas rendah.

Kawasan Yung Shue Wan memang terkenal sebagai tempat orang Hongkong mencari jeda. Banyak penulis, seniman, dan kreator konten datang ke sini untuk mencari inspirasi atau sekadar menenangkan pikiran. Saat matahari mulai meninggi, pantulan cahaya di permukaan laut terlihat seperti serpihan kaca yang menari di atas ombak. Sulit untuk tidak berhenti sejenak dan hanya memandang laut.

Sarapan dimsum dengan pemandangan laut

spicy island kebab house

Saya akhirnya berhenti di sebuah restoran kecil dekat jalur pejalan kaki utama.

Meja-meja bundar dengan taplak kotak merah putih tersusun sederhana menghadap laut. Suasananya terasa seperti ruang tamu komunal bagi warga pulau. Pelayan menyapa pelanggan yang lewat satu per satu karena sebagian besar memang saling mengenal.

Tidak ada musik keras. Yang terdengar hanya percakapan dalam dialek Kanton, suara alat makan, dan hembusan kipas angin tua yang berputar pelan. Saya menuangkan teh melati hangat ke cawan kecil. Uapnya naik perlahan bersama aroma bunga yang lembut. Sarapan dimulai.

Saya memesan pangsit udang, siu mai ikan, dan dimsum vegetarian isi bayam serta jamur. Kulit pangsitnya tipis dan transparan, membungkus udang segar yang masih terasa manis alami. Siu mai ikan diberi taburan telur ikan yang menambah rasa gurih di setiap gigitan.

Baca juga: Makau, Jejak Budaya dan Rasa di Persimpangan Portugis dan China

Dimsum vegetarian justru jadi kejutan paling menarik. Isian bayam dan jamurnya terasa ringan tetapi kaya rasa. Sambil makan, saya memandang ke arah dermaga Yung Shue Wan.

Ferry datang dan pergi perlahan. Perahu-perahu nelayan masih bergoyang tenang di teluk. Di kejauhan, siluet pencakar langit Hongkong mulai terlihat kembali. Namun yang tertinggal di kepala bukan lagi bayangan kota metropolitan itu.

Yang tinggal justru kesederhanaan Lamma Island, pulau kecil yang mengajarkan bahwa Hongkong ternyata juga punya sisi yang tenang.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *