Milenianews.com, Mata Akademisi – Manusia merupakan makhluk yang memiliki akal budi dan kemampuan rasional untuk memahami dunia serta dirinya sendiri. Selain itu, manusia juga merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa kehadiran manusia lain. Definisi ini menegaskan bahwa rasionalitas dan sosialitas adalah dua ciri utama yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.
Kesadaran akan hakikat tersebut menuntut manusia untuk memahami bahwa setiap tindakan yang dilakukan selalu membawa dampak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, manusia perlu membuka diri terhadap pemahaman yang lebih mendalam dan menyeluruh tentang keberadaannya dalam konteks filosofis yang luas.
Baca juga: Sekularisasi Ilmu Pengetahuan di Era Digital: Tinjauan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Tahapan Kehidupan dan Pembentukan Rasionalitas
Dalam perjalanan hidupnya, manusia melewati lima tahap utama, yaitu bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia. Pada tahap bayi, manusia mulai mengenal dunia di sekitarnya. Memasuki masa anak-anak, manusia belajar berbicara, bermain, dan bersosialisasi. Saat remaja, terjadi berbagai perubahan fisik dan emosional yang signifikan.
Memasuki masa dewasa, manusia mulai memikul tanggung jawab yang lebih besar, seperti bekerja dan membangun keluarga. Sementara itu, pada masa lansia, kondisi fisik mulai melemah sehingga diperlukan kesadaran untuk menjaga kesehatan agar tetap dapat menikmati hidup. Setiap tahap tersebut membentuk pola pikir, sikap, dan rasionalitas manusia dalam menghadapi kehidupan.
Hakikat Manusia sebagai Makhluk Berakal dan Sosial
Hakikat manusia secara umum menunjukkan bahwa manusia memiliki akal dan hati nurani. Dengan akalnya, manusia mampu berpikir, menilai baik dan buruk, serta belajar sopan santun sejak dini melalui pendidikan keluarga dan lingkungan. Di sisi lain, manusia juga merupakan makhluk sosial yang sejak lahir hingga dewasa membutuhkan bantuan, kerja sama, dan interaksi dengan orang lain.
Selain itu, manusia memiliki kebudayaan berupa bahasa, kebiasaan, seni, dan aturan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan ini bersifat dinamis dan dapat berubah seiring perkembangan zaman. Dengan akal, hati nurani, kerja sama sosial, dan budaya yang dimiliki, manusia memiliki potensi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan lingkungannya.
Pendekatan Ontologi terhadap Hakikat Manusia
Melalui pendekatan ontologi, hakikat manusia dipandang sebagai makhluk monodualisme yang terdiri atas dua unsur, yaitu jasad (materi) dan ruh (nonmateri), yang membentuk satu kesatuan utuh. Pendekatan ini menegaskan bahwa manusia bukan hanya wujud fisik semata, melainkan juga memiliki dimensi spiritual yang esensial.
Hakikat manusia dipahami sebagai realitas yang sejati, bukan sesuatu yang bersifat sementara atau menipu. Dalam tradisi filsafat tertentu, manusia dipandang sebagai makhluk yang berproses menuju kesempurnaan tertinggi, yakni insan kamil atau manusia seutuhnya. Ontologi manusia juga menyoroti keseimbangan antara aspek individualitas dan sosialitas sebagai bagian dari eksistensi manusia yang dinamis dan saling memengaruhi.
Ras sebagai Konsep Biologis dan Sosial
Ras merupakan konsep yang digunakan untuk mengelompokkan manusia berdasarkan ciri-ciri fisik atau biologis tertentu yang diwariskan secara genetik. Secara etimologis, kata ras berasal dari bahasa Prancis dan Italia, yaitu razza, yang berarti asal-usul atau keturunan. Seiring perkembangan ilmu genetika dan antropologi, pemahaman tentang ras mengalami perubahan yang signifikan.
Dari berbagai definisi tersebut, ras dapat dipahami sebagai pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri fisik seperti warna kulit, bentuk rambut, dan bentuk wajah. Namun, penting disadari bahwa konsep ras lebih banyak merupakan konstruksi sosial dibandingkan kategori biologis yang bersifat mutlak.
Sejarah dan Kritik terhadap Konsep Ras
Dalam sejarah peradaban manusia, konsep ras mengalami perkembangan panjang. Pada abad ke-19, pengelompokan ras berdasarkan ciri fisik sering disalahgunakan untuk menjustifikasi anggapan bahwa ada ras tertentu yang lebih unggul dibandingkan ras lainnya. Pandangan ini melahirkan berbagai praktik diskriminasi dan rasisme.
Pasca Perang Dunia II, para ilmuwan sepakat bahwa ras bukanlah dasar ilmiah yang sahih. Ilmu genetika modern menunjukkan bahwa perbedaan genetik antar manusia sangat kecil, sehingga ras tidak dapat dijadikan tolok ukur untuk menilai nilai atau kualitas seseorang. Dengan demikian, ras dipahami sebagai hasil konstruksi sosial yang dibentuk oleh sejarah, budaya, dan politik.
Pengelompokan Ras dalam Perspektif Sosial Budaya
Meskipun konsep ras biologis semakin ditinggalkan, pengelompokan ras masih sering digunakan dalam konteks sosial dan budaya. Secara umum, ras Kaukasoid mencakup penduduk Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, dan sebagian Asia Selatan dengan ciri fisik yang beragam. Ras Mongoloid meliputi penduduk Asia Timur, Asia Tenggara, dan penduduk asli Amerika dengan ciri khas mata sipit dan rambut lurus.
Ras Australoid mencakup penduduk asli Australia, Papua, dan beberapa wilayah Asia Tenggara dengan ciri kulit gelap dan rambut keriting. Di Indonesia sendiri, keberagaman ras terlihat melalui kelompok seperti Malayan Mongoloid, Melanesoid, Veddoid, dan Asiatic Mongoloid, yang hidup berdampingan dalam keragaman budaya yang kaya.
Baca juga: Ontologi dan Epistemologi Ilmu: Dialektika Akal, Wahyu, dan Pengalaman dalam Tradisi Islam dan Barat
Ontologi Ras dan Hakikat Keberadaan Manusia
Dalam pendekatan ontologi, ras dipahami sebagai bagian dari realitas manusia yang dikaji dari segi keberadaan dan hakikatnya. Ontologi sebagai cabang filsafat yang mempelajari tentang apa yang ada, menempatkan ras tidak hanya sebagai kategori biologis, tetapi juga sebagai realitas sosial yang dibentuk oleh pengalaman historis dan budaya.
Dengan demikian, ras tidak dapat dipahami secara sempit atau hierarkis. Ras adalah bagian dari keberagaman manusia yang harus dipahami secara rasional dan ontologis sebagai realitas yang setara. Pendekatan ini menegaskan bahwa hakikat manusia tidak ditentukan oleh ras, melainkan oleh kemanusiaan itu sendiri sebagai kesatuan fisik, spiritual, dan sosial.
Penulis: Filza Nabilla, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













