Tim PkM UNJ di Bawah Kepemimpinan Prof. Awaluddin Tjalla Perkuat Mutu Pembelajaran Lewat Pelatihan Literasi Social Emotional Learning (SEL) bagi 37 Guru SD di Jakarta Timur

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di bawah kepemimpinan Prof. Awaluddin Tjalla baru saja sukses menggelar program pendampingan strategis bertajuk "Pendampingan Peningkatan Literasi Social-Emotional Learning Guru SD untuk Mendukung Mutu Pembelajaran di Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Timur". (Foto: Dok PkM UNJ)

Milenianews.com, Jakarta— Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan skema Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Pemerintah Daerah dan Instansi Pendidikan (PPM-KPIP) yang diketuai oleh Prof. Dr. Awaluddin Tjalla, M.Pd., baru saja sukses menggelar program pendampingan strategis bertajuk “Pendampingan Peningkatan Literasi Social-Emotional Learning Guru SD untuk Mendukung Mutu Pembelajaran di Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Timur”.

Kegiatan edukatif yang diselenggarakan di SDN Pondok Ranggon 04 ini dihadiri secara antusias oleh 37 orang guru dari dua sekolah dasar, yakni SDN Pondok Ranggon 04 dan SDN Rambutan 01 Pagi. Pelaksanaan program ini juga melibatkan kolaborasi aktif dari tiga mahasiswa serta tiga dosen UNJ, yaitu Sofyan Abdi, M.Pd., Kons., Dr. Cut Munika Bastia Rahmadani, M.Pd., dan Lucky Nindi Riandika M., M.Pd.

Urgensi Kesehatan Mental dan Mitigasi Kekerasan di Sekolah

Dalam pemaparan materi utama, Sofyan Abdi, M.Pd., Kons., menyoroti data terkini dari I-NAMHS (2023) serta Kementerian Kesehatan yang menunjukkan bahwa sebagian besar gejala masalah kesehatan mental pada anak mulai muncul sejak usia sekolah dasar, di mana ribuan anak dilaporkan mengalami gejala cemas (anxiety disorder) dan depresi (depression disorder).

Selain itu, mengacu pada data Seknas JPPI (2025), interaksi negatif dan lemahnya manajemen diri di lingkungan sekolah masih menjadi tantangan besar yang memicu kasus kekerasan, dengan relasi guru dan siswa mendominasi proporsi tertinggi. “Kondisi ini menegaskan bahwa anak-anak di lingkungan perkotaan membutuhkan strategi ketahanan mental, regulasi emosi, serta pengelolaan diri yang konstruktif sejak dini,” kata Sofyan Abdi.

Integrasi SEL tanpa Menambah Beban Kurikulum Guru

Dr. Cut Munika Bastia Rahmadani, M.Pd., menjelaskan bahwa Social and Emotional Learning (SEL) bukanlah mata pelajaran baru atau tambahan administrasi yang membebani guru, melainkan sebuah pendekatan mengajar yang bermakna.

“Melalui pendekatan ini, para guru dibimbing untuk menyisipkan lima kompetensi inti SEL— mulai dari kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan hubungan sosial, hingga pengambilan keputusan yang bertanggung jawab—langsung ke dalam perangkat ajar yang sudah ada tanpa mengubah kurikulum nasional,” kata Cut Manika.

Penerapan Asesmen SEL yang Praktis dan Berkelanjutan

Sementara itu, Lucky Nindi Riandika M., M.Pd., memaparkan berbagai metode asesmen SEL yang aplikatif bagi guru di kelas. Peserta diperkenalkan pada teknik observasi langsung, daftar periksa (checklist) pengelolaanemosi, pertanyaan reflektif sederhana, hingga portofolio tugas siswa guna memantau perkembangan karakter secara konsisten.

Melalui program PkM skema PPM-KPIP ini, UNJ berkomitmen untuk terus mendampingi satuan pendidikan dalam menciptakan iklim sekolah yang aman, suportif, dan inklusif. Diharapkan, langkah sinergis ini mampu melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara sosial dan emosional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *