Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Queens merupakan borough (wilayah kota) terbesar di New York City yang terletak di bagian barat Pulau Long Island. Seperti Jakarta yang terbagi menjadi beberapa kota administrasi, New York pun memiliki lima wilayah kota utama. Membentang seluas 280 kilometer persegi dengan populasi mencapai dua juta jiwa, Queens dinobatkan sebagai salah satu kawasan perkotaan paling kosmopolitan dan beragam di dunia. Keragaman ini terbukti dari adanya lebih dari 100 bahasa yang dituturkan secara aktif oleh warganya sehari-hari.
Secara lanskap sosial dan ekonomi, Queens merupakan rumah bagi komunitas imigran asal Asia, Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin, hingga Eropa. Di sini, kita bisa menemukan kawasan Flushing yang dikenal sebagai salah satu pusat komunitas China terbesar di luar Asia. Sementara itu, komunitas imigran Timur Tengah dan Yunani banyak bermukim di Astoria. Bergeser sedikit ke kawasan Jackson Heights, kita akan disambut oleh denyut nadi budaya Asia Selatan dan Amerika Latin yang semarak.
Bagi seorang wisatawan muslim seperti saya, menelusuri sudut-sudut Queens menghadirkan rasa aman dan kehangatan tersendiri di tengah megahnya New York. Kawasan ini sangat ramah muslim. Di sepanjang jalannya, berdiri ratusan rumah makan halal, toko busana muslim, pasar tradisional khas Asia Selatan dan Timur Tengah, serta deretan masjid yang melayani komunitas muslim yang besar dan heterogen. Lingkungan multikultural yang mengakar kuat di sini memungkinkan setiap pengunjung merasakan denyut berbagai belahan dunia hanya dalam satu kawasan terpadu.
Baca juga: Jumatan di Queens, Menyusuri Masjid New York dan Hangatnya Couscous Maroko
Simfoni Kuliner Halal di Koridor Steinway Street

Di dalam mosaik budaya Queens, terdapat koridor Steinway Street—khususnya yang membentang antara 28th Street hingga Astoria Boulevard—yang telah bertransformasi menjadi lanskap kultural yang unik dan spesifik. Kawasan ini merupakan pusat gravitasi bagi para imigran asal Timur Tengah dan Afrika Utara. Karena mayoritas imigran tersebut memeluk agama Islam, kawasan ini secara otomatis menjelma sebagai destinasi utama perburuan kuliner halal di Pantai Timur Amerika Serikat.
Petualangan saya dimulai saat menumpang kereta bawah tanah (subway) jalur N dan turun di Stasiun Steinway Street. Keluar dari stasiun ini konon seperti membuka gerbang menuju perjalanan lintas benua yang mengesankan. Begitu kaki menapak anak tangga terakhir menuju permukaan, embusan angin langsung mengantarkan aroma wangi daging panggang yang gurih, semerbak jintan dan kapulaga, hingga aroma asap syisha yang jamak ditemui di sepanjang trotoar.
Di Steinway Street, kita bisa melihat pekatnya corak budaya muslim, Timur Tengah, dan Eropa yang berdampingan secara harmonis dalam ruang multikultural. Saya bahkan masih bisa menemukan jejak para pengrajin piano asal Jerman dari abad ke-19, sementara di sudut lain, komunitas muslim Timur Tengah dan Afrika Utara sibuk beraktivitas di pemukiman yang telah mereka bangun sejak abad ke-20.
Ada nuansa nostalgia yang kental di sini. Papan nama toko hadir berselang-seling antara aksara Latin dan torehan kaligrafi Arab yang indah. Supermarket Arab berdiri anggun dengan pajangan kurma di bagian depan serta deretan botol minyak zaitun. Sapaan “Assalamualaikum” pun kerap terdengar sayup-sayup, berbaur akrab dengan riuh klakson taksi kuning khas New York.
Melangkah pelan di kawasan ini laksana memenuhi undangan petualangan gastronomi yang intim. Dari balik jendela kaca rumah makan, kepulan asap shawarma tampak mengepul, memperlihatkan gulungan daging domba dan ayam yang telah dimarinasi, berputar lambat di atas panggangan vertikal. Pisau panjang sang koki mengirisnya dengan taktis, menjatuhkan potongan daging yang juicy. Aroma rempah dan bawang putihnya sungguh menggugah selera. Di sisi lain jalan, sebuah gerobak kuliner jalanan (street food) menyalakan pemanggangnya, mematangkan sekitar dua puluh potong ayam. Asapnya yang mengepul ke trotoar sukses memicu rasa lapar, mengingatkan saya pada menu populer chicken over rice.
Bergeser sedikit, aroma hidangan laut khas Alexandria mulai menggoda iman. Ikan bakar berukuran satu kilogram diletakkan utuh di atas bara arang yang menyala. Sebelum disajikan, ikan tersebut ditaburi ketumbar dan peterseli segar, lalu dinikmati bersama roti pita panas yang mengembang langsung dari oven. Tidak jauh dari sana, terdapat sebuah restoran kecil bernama Little Morocco yang letaknya persis berseberangan dengan Masjid Nurul Iman. Masjid ini merupakan potret nyata multikulturalisme, tempat berkumpulnya jemaah dari berbagai bangsa—mulai dari kalangan profesional, pekerja supermarket, koki restoran, mahasiswa, hingga wisatawan seperti saya.
Dari Pusat Industri Eropa Menjadi Ramah Muslim

Di Steinway Street, label halal bukan sekadar pemenuhan syarat religius, melainkan sebuah identitas dan otentisitas. Bahan baku yang diimpor langsung disajikan dengan rasa hormat terhadap tradisi keluarga yang diwariskan turun-temurun. Namun, menjelajahi sisi utara Queens, khususnya kawasan Astoria dan Steinway, menawarkan makna yang lebih dalam daripada sekadar wisata kuliner.
Kisah kawasan ini dimulai pada pertengahan abad ke-19, sekitar tahun 1840-an. Kala itu, seorang imigran asal Jerman mendirikan perusahaan piano legendaris bernama Steinway & Sons di Manhattan. Memasuki tahun 1870, seiring skala produksi yang kian membesar, mereka membeli lahan luas dan memindahkan pabriknya ke area Astoria di Queens. Karena peran krusial tersebut, jalan tempat pabrik berdiri akhirnya dinamakan Steinway Street.
Keluarga Steinway yang makmur tidak hanya membangun pabrik dan ruang pameran yang megah, tetapi juga merancang infrastruktur lingkungan demi kenyamanan para pekerja. Mereka membangun kompleks pemukiman, sekolah, taman, perpustakaan, hingga jaringan jalan dan trem sendiri.
Namun, wajah Steinway terus bergerak dinamis. Pada tahun 1965, peta demografi kawasan ini berubah drastis seiring diterapkannya Undang-Undang Imigrasi yang baru. Kebijakan federal ini secara radikal menghapus sistem kuota berdasarkan asal negara. Wilayah yang semula didominasi imigran Eropa Barat pun mengalami titik balik.
Penghapusan pembatasan tersebut memicu gelombang migrasi masif dari kawasan Mediterania, khususnya Italia dan Yunani. Astoria dan Steinway mulai merayakan pluralisme budaya baru. Hadirlah institusi keagamaan Ortodoks serta ruang-ruang komersial baru yang mengubah total karakter kehidupan di Queens. Dominasi budaya Anglo-Saxon dan Jerman pun menyusut secara signifikan.
Dinamika geopolitik dunia serta daya tarik ekonomi New York yang kian seksi pada tahun 1980-an memicu gelombang migrasi berikutnya. Tekanan di negara asal mendorong kedatangan kelompok baru dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Sebagian dari mereka merupakan kalangan terpelajar dan berkecukupan yang membawa modal serta investasi, bukan sekadar mencari lowongan kerja bawah.
Para imigran dari Afrika Utara, Mesir, Alexandria, dan Maroko mulai membuka usaha ritel dan kuliner di sepanjang Steinway Street. Berkat kerja keras, dalam kurun waktu satu dekade, banyak dari mereka yang meraih kesuksesan. Keberhasilan ini kemudian memicu migrasi berantai yang lebih luas dari negara-negara seperti Aljazair, Lebanon, Yaman, hingga Arab Saudi.
Baca juga: Pigeon Forge, Keajaiban Industri Wisata yang Lahir di Kaki Gunung
Kawasan ini pun kian semarak. Populasi muslim bertambah, masjid-masjid baru didirikan, pusat kajian Islam berkembang, dan ketersediaan komoditas halal kian meluas. Kondisi inilah yang menjadi magnet utama, memberikan ruang yang aman bagi komunitas muslim secara kultural maupun spiritual.
Queens telah mewakili sebuah keajaiban urban yang luar biasa di tengah kosmopolitanisme New York. Steinway bukan lagi sekadar sepotong jalan biasa di Amerika Serikat. Ia menyajikan harmoni yang mengagumkan—sebuah warisan dedikasi industri klasik Barat yang secara perlahan bertransformasi menjadi wilayah yang memberikan pelukan hangat bagi umat muslim.
Di Queens, New York, saya tidak hanya meresapi keindahannya, tetapi juga belajar banyak tentang arti sebuah toleransi.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







