Oleh: Suci Wati, Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Peserta Harapan I Cabang Lomba KTIQ IIQ Fest 2026
Mata Akademisi, Milenianews.com – Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Bangun tidur membuka Instagram, belajar sambil sesekali melihat TikTok, hingga sebelum tidur masih menggulir layar tanpa henti. Aktivitas tersebut kini menjadi pemandangan yang lazim dijumpai di kalangan remaja Indonesia.
Di satu sisi, media sosial menawarkan berbagai manfaat, seperti kemudahan mengakses informasi, ruang untuk berekspresi, serta sarana komunikasi tanpa batas. Namun, di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat menimbulkan beragam dampak negatif. Tidak sedikit remaja yang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk berselancar di media sosial. Akibatnya, konsentrasi belajar menurun, interaksi sosial berkurang, bahkan kesehatan mental ikut terganggu. Selain itu, banyak remaja terjebak dalam budaya membandingkan diri, mengejar validasi melalui jumlah likes dan followers, hingga mengalami kecemasan dan stres ketika tidak terhubung dengan dunia digital.
Baca juga: “I’m Cooked”: Cara Gen Z Menertawakan Hidup yang Lagi Kacau-Kacaunya
Lebih mengkhawatirkan lagi, ruang digital semakin dipenuhi perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai moral. Ujaran kebencian, cyberbullying, penyebaran hoaks, hingga komentar yang merendahkan orang lain semakin mudah ditemukan. Ironisnya, pelaku dari berbagai tindakan tersebut justru banyak berasal dari generasi muda yang seharusnya menjadi harapan masa depan bangsa.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna media sosial terbesar di dunia. Berdasarkan laporan We Are Social (2025), lebih dari 70 persen penduduk Indonesia merupakan pengguna aktif internet dan media sosial, dengan kelompok usia remaja dan dewasa muda sebagai pengguna yang paling dominan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi ruang sosial baru yang sangat memengaruhi pembentukan perilaku dan karakter generasi muda.
Mengendalikan Diri, Bukan Menyalahkan Teknologi
Pertanyaannya, mengapa kondisi ini bisa terjadi?
Sebagian orang mungkin menyalahkan teknologi. Padahal, media sosial hanyalah sebuah alat. Persoalan utamanya terletak pada kemampuan manusia dalam mengendalikan dirinya ketika menggunakan teknologi.
Dalam perspektif Al-Qur’an, manusia memiliki dua potensi utama, yaitu aql (akal) dan nafs (jiwa atau hawa nafsu). Akal berfungsi sebagai penuntun rasional yang membimbing manusia untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Sementara itu, nafs cenderung mendorong manusia untuk memenuhi keinginan secara instan. Di era media sosial, dominasi nafs kerap tampak melalui kebiasaan scrolling tanpa batas, mengejar validasi sosial, dan keinginan untuk terus terhubung dengan dunia digital.
Padahal, dalam QS. An-Nazi’at ayat 40–41, Allah Swt. menjelaskan bahwa orang yang mampu menahan hawa nafsunya akan memperoleh keberuntungan. Selain itu, Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya mengendalikan emosi, menjaga etika komunikasi, serta berhati-hati dalam menerima maupun menyebarkan informasi.
Membangun Sistem Pengendalian Diri Digital
Berangkat dari pemikiran tersebut, saya menawarkan konsep Qur’anic Digital Self-Control System, yaitu sistem pengendalian diri digital yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pendekatan untuk mengatasi kecanduan media sosial sekaligus krisis akhlak digital di kalangan remaja.
Konsep ini dibangun melalui tiga pilar utama. Pilar pertama adalah kesadaran spiritual (spiritual awareness), yaitu kesadaran bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk yang dilakukan di ruang digital, senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt. Pilar kedua adalah regulasi diri digital (digital self-regulation), yakni kemampuan mengatur durasi penggunaan media sosial serta mengendalikan dorongan untuk terus terhubung dengan berbagai platform digital. Pilar ketiga adalah etika interaksi digital (digital ethics), yaitu kemampuan menerapkan etika dalam berinteraksi di dunia maya, menghindari penyebaran hoaks, menjaga kesantunan berkomunikasi, serta memanfaatkan media sosial untuk aktivitas yang edukatif dan produktif.
Baca juga: Anak Kita, Algoritma Mereka: Saatnya Nilai Islam Mengambil Alih Kemudi Media Sosial
Akhlak sebagai Fondasi Ruang Digital
Gagasan ini berangkat dari keyakinan bahwa krisis digital pada hakikatnya bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Jika algoritma media sosial mampu membentuk kebiasaan manusia, maka nilai-nilai Al-Qur’an pun mampu menjadi benteng yang membentuk kebiasaan digital yang lebih sehat dan bermakna.
Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukanlah mengikuti pesatnya perkembangan teknologi, melainkan menaklukkan diri sendiri dalam menggunakannya. Sebab, masa depan tidak ditentukan oleh seberapa lama kita menghabiskan waktu di media sosial, melainkan oleh seberapa bijak kita memanfaatkannya untuk kebaikan diri, sesama, dan sebagai sarana menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam setiap jejak digital yang kita tinggalkan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.














