Oleh: Attaya Rifqa, Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan dan Peserta Finalis 10 Besar Cabang Lomba KTIQ IIQ Fest 2026
Mata Akademisi, Milenianews.com –
“Jika solusi dari masalah media sosial hanyalah membatasi gawai, seharusnya perundungan digital tidak akan terjadi di sekolah yang melarang membawa telepon genggam. Faktanya, masalah itu tetap ada. Yang kurang bukan sekadar aturan, melainkan kesadaran.”
Setiap kali muncul kasus anak yang menjadi pelaku atau korban perundungan di media sosial, respons yang paling cepat muncul hampir selalu sama: membatasi penggunaan gawai. Orang tua diminta menyita telepon genggam, sekolah memperketat aturan, dan media sosial dianggap sebagai penyebab utama rusaknya perilaku anak. Cara berpikir ini memang terdengar logis, tetapi menurut saya belum menyentuh akar persoalan. Kita terlalu sibuk mengendalikan teknologi, sementara pendidikan akhlak justru sering tertinggal.
Anak-anak hari ini lahir sebagai generasi digital. Mereka dapat mencari informasi dalam hitungan detik, membuat konten kreatif, dan menguasai berbagai aplikasi jauh lebih cepat daripada orang dewasa. Namun, kecakapan menggunakan teknologi tidak selalu diikuti dengan kemampuan menggunakannya secara bertanggung jawab. Mereka mungkin tahu cara membuat sebuah unggahan menjadi viral, tetapi belum tentu memahami bahwa satu komentar yang merendahkan dapat meninggalkan luka psikologis yang bertahan lama.
Baca juga: Siapa yang Sedang Mendidik Anak Kita: Orang Tua atau Algoritma?
Di sinilah letak persoalannya. Yang sedang kita hadapi bukanlah krisis kemampuan digital, melainkan krisis akhlak digital.
Sebagian orang tentu berpendapat bahwa pembatasan penggunaan media sosial tetap merupakan solusi terbaik, terutama bagi anak-anak. Pendapat ini tidak sepenuhnya keliru karena pengawasan orang tua memang penting. Akan tetapi, pembatasan hanyalah pagar, bukan fondasi. Anak mungkin patuh ketika diawasi, tetapi bagaimana ketika ia berada di luar rumah, meminjam gawai temannya, atau suatu hari tumbuh menjadi orang dewasa? Tidak mungkin selamanya ada orang yang mengawasi setiap sentuhan jarinya pada layar. Karena itu, yang lebih penting adalah membangun kemampuan mengawasi diri sendiri.
Akhlak Digital dalam Perspektif Islam
Islam sebenarnya telah memberikan pedoman etika yang tetap relevan meskipun zaman berubah. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11–12, Allah Swt. melarang manusia saling menghina, mencela, memanggil dengan gelar yang buruk, berprasangka, dan mencari-cari kesalahan orang lain. Nilai tersebut sangat dekat dengan realitas media sosial saat ini. Bentuknya mungkin berubah menjadi cyberbullying, body shaming, ujaran kebencian, atau penyebaran aib, tetapi hakikatnya tetap sama, yaitu merendahkan martabat sesama manusia.
Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya menjaga pandangan sebagaimana tercantum dalam QS. An-Nur ayat 30. Dalam konteks digital, menjaga pandangan tidak hanya berarti menghindari sesuatu yang diharamkan, tetapi juga memiliki kemampuan memilih informasi dan tontonan yang membangun karakter. Apa yang terus-menerus dilihat akan memengaruhi cara berpikir, berbicara, dan bertindak. Karena itu, pendidikan akhlak digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara bertanggung jawab atas apa yang dilihat, dikatakan, dan dibagikan.
Ironisnya, kita sering menganggap anak yang diam memegang telepon genggam berarti sedang baik-baik saja. Padahal, bisa jadi pada saat yang sama ia sedang membaca komentar yang meruntuhkan rasa percaya dirinya atau justru ikut menuliskan komentar yang melukai orang lain. Luka akibat kata-kata memang tidak terlihat, tetapi sering kali bertahan lebih lama daripada luka fisik.
Membangun Kesadaran, Bukan Sekadar Larangan
Menurut saya, pendidikan akhlak digital harus dimulai dari kebiasaan sederhana. Sebelum mengunggah sesuatu, anak perlu dibiasakan bertanya kepada dirinya sendiri: apakah informasi ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah akan menyakiti orang lain? Selain itu, keluarga dan sekolah perlu membangun budaya dialog, bukan sekadar larangan. Anak tidak hanya perlu mengetahui aturan, tetapi juga memahami alasan moral di balik aturan tersebut. Ketika kesadaran tumbuh dari dalam, kepatuhan tidak lagi bergantung pada pengawasan.
Baca juga: Anak-anak Sekarang Terlalu Sibuk Cari “Keren”, Sampai Lupa Masjid Bukan Tempat Freestyle
Pada akhirnya, media sosial bukanlah musuh yang harus diperangi. Media sosial hanyalah alat yang dapat menjadi sarana belajar, berdakwah, berkarya, dan menyebarkan manfaat apabila digunakan dengan benar. Yang perlu kita khawatirkan bukanlah semakin canggihnya teknologi, melainkan apabila kecanggihan itu tumbuh lebih cepat daripada karakter penggunanya.
Kita mungkin dapat membatasi waktu anak menggunakan internet, tetapi kita tidak mungkin membatasi keberadaan internet di dunia. Karena itu, bekal terbaik yang dapat diberikan kepada anak bukanlah sekadar aturan atau pembatasan akses, melainkan akhlak yang tetap hidup ketika layar menyala dan tidak ada seorang pun yang mengawasinya. Sebab, ukuran keberhasilan pendidikan di era digital bukanlah ketika anak jauh dari gawai, melainkan ketika ia mampu tetap menjaga adab di hadapan gawai.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.














