Milenianews.com, Jakarta – Kabut putih keabu-abuan perlahan menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan. Udara yang biasanya terasa segar berubah menjadi pekat dan menusuk hidung. Jarak pandang pun menurun, sementara aktivitas masyarakat mulai terganggu.
Bagi sebagian warga, kondisi tersebut mungkin hanya dianggap sebagai gangguan sementara. Namun, di balik asap yang menggantung di udara, terdapat ancaman lain yang tidak selalu terlihat oleh mata, dari gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meningkat di sejumlah wilayah Kalimantan sepanjang Agustus 2026. Kondisi cuaca yang relatif kering turut mendukung meningkatnya titik panas di beberapa daerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya melaporkan peningkatan hotspot, terutama di Kalimantan dan Papua, di tengah periode yang turut dipengaruhi fenomena El Nino.
Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah yang meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana asap. Berdasarkan data BMKG Supadio per 27 Juli 2026, terdapat 200 titik panas yang tersebar di 12 kabupaten. Kubu Raya tercatat memiliki jumlah hotspot terbanyak, yakni 64 titik, kemudian Ketapang sebanyak 56 titik dan Kayong Utara 53 titik.
Dampak asap tidak hanya dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran. Di Kalimantan Selatan, misalnya, kabut asap bahkan mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru. Pada 19 Agustus 2026, sebanyak 12 penerbangan mengalami keterlambatan akibat jarak pandang yang terganggu oleh asap.
Namun, persoalan yang lebih mengkhawatirkan justru berada di dalam tubuh.
Ketika Asap Masuk ke Saluran Pernapasan
Kabut asap karhutla membawa partikel-partikel halus, salah satunya PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan tersebut berpotensi menimbulkan iritasi dan peradangan serta memperburuk kondisi kesehatan tertentu, termasuk asma dan gangguan paru.
Dampaknya mulai terlihat dari meningkatnya kasus gangguan pernapasan di sejumlah daerah. Di Kalimantan Tengah, sebanyak 2.052 warga tercatat mengalami ISPA hanya dalam kurun waktu satu pekan. Sementara itu, Palangka Raya telah mencatat 12.394 kasus ISPA.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat. Empat wilayah kerja puskesmas masuk dalam kategori zona merah karena tingginya kasus ISPA. Puskesmas Sungai Rangit mencatat 395 kasus, sedangkan Puskesmas Kumai 193 kasus, Madurejo 183 kasus, dan Karang Mulya 137 kasus pada periode minggu ke-26 hingga minggu ke-30 tahun 2026.
Angka-angka tersebut menjadi pengingat bahwa kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang. Udara yang tercemar dapat menjadi bagian dari masalah kesehatan masyarakat apabila paparan berlangsung terus-menerus.
Karena itu, menjaga diri selama karhutla bukan lagi sekadar pilihan. Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko paparan asap.
Baca juga: Asap Rokok dan Bakar Sampah Picu Risiko Pneumonia pada Bayi
Lindungi Diri dari Kepungan Asap
Langkah pertama adalah menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. Masker yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel berbahaya. Untuk kondisi asap yang cukup pekat, penggunaan masker seperti N95 atau FFP2 direkomendasikan sebagai perlindungan terhadap partikel halus.
Perlindungan juga perlu dimulai dari dalam rumah. Ketika asap mulai masuk ke permukiman, pintu dan jendela sebaiknya ditutup agar polutan dari luar tidak semakin banyak masuk ke ruangan.
Tubuh pun perlu tetap dijaga. Memenuhi kebutuhan cairan dengan cukup minum air putih membantu tubuh tetap terhidrasi, terutama ketika masyarakat harus menghadapi cuaca panas dan kondisi udara yang dipenuhi asap.
Asupan makanan juga tidak boleh diabaikan. Makanan dengan komposisi seimbang, seperti karbohidrat, protein, sayuran, dan buah-buahan, dapat membantu mempertahankan kondisi tubuh selama menghadapi situasi lingkungan yang kurang baik.
Aktivitas fisik tetap dapat dilakukan, tetapi harus menyesuaikan keadaan udara. Ketika kabut asap sedang tebal atau kualitas udara memburuk, olahraga di luar ruangan sebaiknya dihindari. Aktivitas fisik dapat dialihkan ke dalam ruangan atau dilakukan pada waktu ketika kondisi udara lebih memungkinkan.
Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun juga tetap penting. Tangan perlu dibersihkan terutama sebelum makan, setelah beraktivitas di luar, maupun setelah menyentuh permukaan yang berpotensi kotor.
Di tengah kondisi yang terus berubah, masyarakat juga perlu memperhatikan informasi mengenai kualitas udara dan perkembangan karhutla. Informasi dari BMKG maupun BPBD dapat menjadi acuan untuk menentukan apakah aktivitas di luar rumah masih aman dilakukan.
Baca juga: Waspada Musim Kemarau: Jangan Biarkan Langit Cerah Membuat Kita Lengah
Jangan Abaikan Gejala
Tubuh biasanya memberikan tanda ketika mulai terdampak. Batuk, pilek, sakit tenggorokan, sesak napas, hingga gangguan pernapasan lainnya perlu diperhatikan, terutama apabila keluhan muncul setelah terpapar kabut asap.
Jika gejala semakin berat, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan sebaiknya tidak ditunda. Kelompok tertentu juga membutuhkan perhatian lebih, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki asma atau penyakit paru kronis karena paparan asap dapat memperburuk kondisi mereka.
Karhutla mungkin bermula dari titik kecil di suatu kawasan, tetapi asapnya dapat bergerak jauh dan menyentuh kehidupan banyak orang. Ketika langit Kalimantan kembali dipenuhi kabut, menjaga kesehatan menjadi bentuk perlindungan paling dekat yang dapat dilakukan setiap orang.
Sebab, di tengah kepulan asap yang sulit diprediksi arahnya, satu hal yang tetap bisa dijaga adalah cara kita melindungi napas sendiri.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.












