News  

Banjir Bandang Terjang Nepal-Tibet, 165 Orang Tewas dan Ratusan Hilang

Banjir Bandang Di Perbatasan Nepal-Tibet

Milenianews.com, Jakarta – Kalau tsunami biasanya datang dari laut, wilayah Nepal-Tibet justru mendapat “tsunami” dari gunung. Bedanya, yang datang bukan air biru, melainkan lumpur, batu, puing, dan kepanikan. Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8), menyapu rumah, kendaraan, jalan, serta jembatan dalam hitungan menit.

Baca juga: Demo Besar Nepal Tewaskan 19 Orang: Generasi Z Bangkit Lawan Korupsi dan Larangan Medsos

Laporan awal menyebut sedikitnya 165 orang meninggal dunia, sementara ratusan lainnya hilang. Di sisi Tibet, tiga orang dilaporkan tewas dan ratusan masih belum ditemukan. Namun, angka korban terus berubah seiring proses pencarian berjalan. Laporan terbaru bahkan menyebut korban tewas di Nepal dan Tibet telah mencapai lebih dari 350 orang.

Ketika Gletser Runtuh, Sungai Berubah Jadi Monster

Menurut US Geological Survey, bencana dipicu runtuhnya massa es dan batu di kawasan Himalaya yang kemudian menghasilkan aliran puing besar menuju sungai. Arus tersebut menghantam kawasan di sepanjang aliran Bhote Koshi dan Trishuli, membawa apa saja yang dilewati.

Seorang warga Nepal, Raju Bhadel (56), menerima telepon memilukan dari keluarganya.

“Mereka menangis dan mengatakan seluruh rumah mereka telah tersapu bersih. Tiga anggota keluarga berhasil diselamatkan, namun saudara laki-lakinya masih hilang,” ujarnya. Dilansir dari DetikNews.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di lokasi bencana, “rumah tersapu bersih” bukan metafora. Rumah benar-benar hilang bersama seluruh isi dan kenangannya.

Wisatawan Ikut Jadi Korban

Kawasan terdampak juga menjadi jalur perjalanan wisatawan dan peziarah. Ratusan warga asing dilaporkan sempat tidak diketahui keberadaannya setelah bencana. Di antara mereka terdapat warga India, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan sejumlah negara lain.

Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengirimkan bantuan darurat, sementara otoritas Tibet mengerahkan ratusan personel, kendaraan, anjing pelacak, dan perahu untuk pencarian.

Masalahnya, jalan dan jembatan ikut rusak. Artinya, mereka yang datang untuk mencari korban justru harus terlebih dahulu menembus wilayah yang telah dihancurkan bencana.

Baca juga: Di Tengah Banjir Bandang, 20 IUP Tambang Terbit di Aceh Sepanjang 2025

Bencana ini kembali menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan di kawasan Himalaya. Perubahan kondisi gletser dan suhu yang meningkat membuat wilayah pegunungan semakin rentan terhadap peristiwa ekstrem. Para ahli juga memperingatkan bahwa ketidakstabilan gletser dapat meningkatkan risiko bencana serupa.

Pada akhirnya, tragedi Nepal-Tibet bukan hanya cerita tentang air, lumpur, atau gletser yang runtuh. Ini tentang manusia yang dalam beberapa menit kehilangan rumah, keluarga, dan arah pulang.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *