WHO Naikkan Status Wabah Ebola di Afrika Jadi PHEIC, Dunia Diminta Waspada

Sumber Gambar: BBC

Milenianews.com, Jakarta – Lagi-lagi kita di buat was-was usai adanya virus hanta beberapa hari terkahir, Dan sekarang ada lagi. World Health Organization atau WHO resmi menetapkan wabah Ebola di Democratic Republic of the Congo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia.

Baca juga: Virus Hanta Menyebar di Kapal Pesiar, Liburan Mewah Mendadak Berubah Jadi Ruang Isolasi

Dunia Belum Selesai dengan Trauma Wabah

Setelah pandemi COVID-19, banyak orang sempat percaya dunia akan lebih siap menghadapi ancaman kesehatan global. Negara-negara bicara soal sistem kesehatan lebih kuat, deteksi lebih cepat, dan kerja sama internasional yang lebih solid.

Kini Ebola muncul lagi di kawasan Afrika Tengah, membawa ketakutan lama yang sebenarnya belum pernah benar-benar hilang. WHO menyebut wabah yang dipicu virus Bundibugyo ini berpotensi menjadi ancaman lintas negara dan membutuhkan koordinasi internasional.

Untungnya, WHO menegaskan situasi ini belum masuk kategori pandemi global. Masalahnya, publik dunia sudah telanjur trauma dengan kalimat “belum pandemi.” Karena sejarah membuktikan, banyak bencana global memang selalu diawali dengan kalimat yang terdengar menenangkan.

Uganda dan Kongo dalam Bayang-Bayang Krisis

Menurut laporan Africa Centres for Disease Control and Prevention, Republik Demokratik Kongo mencatat sedikitnya 13 kasus Ebola yang telah terkonfirmasi laboratorium, termasuk empat korban meninggal dunia. Namun angka itu belum benar-benar menggambarkan situasi sebenarnya.

Ada 246 kasus lain yang masih dalam tahap investigasi, ditambah puluhan kematian yang diduga berkaitan dengan Ebola. Artinya, wabah ini bergerak dalam ketidakpastian dan dalam dunia kesehatan, ketidakpastian adalah bahan bakar kepanikan paling efektif.

Sementara itu, Uganda mulai meningkatkan status kewaspadaan meski sebelumnya sempat menyatakan wabah Ebola telah berakhir pada April 2026.

Satu hal yang membuat Ebola selalu menakutkan adalah cara penyebarannya. Virus ini menyebar lewat kontak langsung dengan cairan tubuh orang terinfeksi maupun permukaan yang terkontaminasi. Gejalanya pun brutal yaitu demam tinggi, muntah, diare, nyeri otot, hingga perdarahan berat.

Pesawat terbang membuat manusia bisa sarapan di Kampala lalu makan malam di kota lain di belahan dunia berbeda. Masalahnya, virus juga bisa ikut “bepergian” dengan kecepatan yang sama.

Baca juga: Kasus Virus HMPV Ditemukan di Indonesia, Masyarakat Diimbau Tetap Tenang

Karena itulah status PHEIC menjadi sangat penting. Deklarasi ini bukan sekadar formalitas birokrasi WHO, melainkan alarm internasional agar negara-negara memperkuat deteksi dini, pengawasan bandara, pelacakan kontak, hingga kesiapan rumah sakit.

Dunia yang Sibuk Tapi Mudah Panik

Di satu sisi, masyarakat menganggap isu kesehatan global sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak sampai akhirnya kasus pertama muncul dekat rumah sendiri. Di sisi lain, internet membuat kepanikan menyebar lebih cepat daripada virus itu sendiri.

Satu unggahan media sosial bisa membuat orang mendadak menjadi ahli epidemiologi dadakan. Grup WhatsApp keluarga berubah jadi pusat distribusi teori konspirasi. Dan seperti biasa, masker serta vitamin tiba-tiba diburu massal.

WHO sendiri sudah mulai bergerak sejak awal tahun dengan mengirim tim ahli ke Uganda dan memulai uji coba vaksin Ebola. Tetapi pengalaman selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa wabah bukan hanya soal virus.

Ia juga soal kesiapan pemerintah, kecepatan informasi, kualitas sistem kesehatan, dan tentu saja kemampuan manusia untuk tidak panik berlebihan sambil tetap waspada.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *