Dicap ‘Sok Suci’ Hingga Kudet: Cerita Mahasiswa UIN Jaga ‘Boundaries’ di Tengah Arus Pacaran Kampus

Milenianews.com, Jakarta – Duduk berduaan di bangku lobby Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sesekali tertawa kecil sambil menatap layar ponsel bersama, kini jadi pemandangan sehari-hari. Di lingkungan kampus yang makin terbuka ini, batas antara sekadar “teman” dan “hubungan pacaran” memang terasa semakin tipis.

Pergeseran ini membuat standar “gaul” anak muda ikut berubah. Di era media sosial saat ini, pacaran justru sering dipamerkan dan dianggap hal lumrah. Sementara itu, mahasiswa yang memilih bertahan untuk tidak berpacaran tak jarang kena sentil lingkungan sekitar dan dianggap kurang gaul hingga ketinggalan zaman.

Baca juga: Remaja Tanpa Pacar Lebih Bahagia? Ini Kata Studi

Sebagai kampus yang menyandang label Islami, idealnya norma agama dijunjung tinggi. Namun realitanya, stigma justru berbalik arah. Tekanan pergaulan teman sebaya sering kali terasa lebih kuat, sehingga mahasiswa yang memilih tidak berpacaran berada di posisi dilematis agar tidak dicap sok suci.

Mahasiswi semester 6 program studi Matematika UIN Jakarta, Nur Anisa, menjelaskan bahwa saat masuk ke lingkungan baru, mahasiswa selalu dihadapkan pada pilihan untuk tetap memegang prinsip sambil membaur atau memilih mundur dari pergaulan.

“Konsekuensinya emang kalau kita pilih opsi kedua, kesan orang-orang ke kita jadi jelek hanya karena menghindar. Akhirnya terbentuk stigma lingkungan kayak gini,” jelas Anisa saat ditemui di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (28/8).

Di balik keakraban yang terlihat biasa, ada garis tak kasat mata yang sengaja dijaga oleh sebagian mahasiswa. Prinsip ini dipegang oleh Maharani, mahasiswi semester 6 program studi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Jakarta, yang memilih untuk lebih berhati-hati dalam membuka hati.

“Aku nggak pengen first experience-ku sama orang yang emang nggak ditakdirkan seumur hidup sama aku,” tuturnya.

Meski demikian, bertahan di tengah gempuran stigma bukan berarti tanpa godaan. Mahasiswi semester 6 program studi Kimia UIN Jakarta, Nesya, secara jujur mengakui momen goyah itu sesekali pernah muncul.

“Sesekali kalau emang lagi tiba-tiba fall in love terus lagi menggebu-gebunya kayak, ih pengen deh pacaran kayak orang-orang, lucu soalnya keliatannya tuh,” ungkap Nesya diselingi tawa. Namun, ketika dihadapkan pada realita, Nesya memilih kembali ke prinsip awal dan mencari lingkungan positif.

Fokus membangun diri dari sisi akademik, karier, hingga kematangan emosional juga menjadi landasan Anisa dalam membatasi diri.

“Bentuk menghargai diri sendiri dan pasangan juga sih, karena kita udah dibekali ilmu dari guru dan kalau nggak menjaga diri itu kayak kurang fair aja untuk orang-orang yang udah berkorban banyak untuk kita,” paparnya.

Baca juga: Antara Skripsi dan Sisa Saldo: Perjuangan Mahasiswi Jurnalistik UIN Jakarta di Tanah Rantau 

Memilih tidak berpacaran bukan berarti menutup diri dari interaksi lawan jenis. Keberanian membangun boundaries (batasan) menjadi kunci agar interaksi tetap sehat tanpa melenceng dari nilai agama.

“Dengan membangun boundaries bukan berarti sama sekali nggak bergaul sama lawan jenis, tapi bagaimana kita patuh sama boundaries yang udah kita buat sendiri. Berpegang teguh saat berinteraksi dengan mereka,” pungkas Maharani.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *