Budaya  

Wajah Kritik Sastra di Era AI: Diperlukan HB Jassin Baru untuk Menemukan Chairil Anwar Baru

Suasana diskusi tentang wajah kritik seni di era artificial intelligent (AI),  di Balai Sastra PDS HB Jassin, Selasa siang, 19 Mei 2026. (Foto: Istimewa)

Milenianews.com, Jakarta– Wajah kritik seni di era artificial intelligent (AI) didiskusikan di Balai Sastra PDS HB Jassin, Selasa siang, 19 Mei 2026. Tampil sebagai pembicara Ahmadun Yosi Herfanda (sastrawan), Hilmi Faiq (redaktur budaya Kompas), dan Akhlis Suryapati (praktisi film). Sebagai moderator Dedy Tri Riyadi (penyair) dan pewara Dian Mariyana (penyair).

Diskusi diawali dengan workshop kritik seni bersama Arie F Batubara (kritikus film dan teater), Bambang Bujono (kritikus seni rupa), dan Mustafa Ismail (redaktur budaya Tempo). Sebagai moderator Rintis Mulya (praktisi pendidikan). Acara ditutup dengan parade baca dan musikalisasi puisi.

Mantan redaktur sastra Republika Ahmadun YH dalam diskusi itu menyorot sinergi antara kritikus sastra dan robot AI. Kritik sastra akan mengalami transformasi sesuai dengan media dan minat pembacanya. Fungsi kritik sastra juga akan berkembang sesuai dengan transformasi media itu. “Jika pada era sastra kontemporer, kritik sastra merupakan dialog dan konstruksi makna, pada era AI kritik sastra akan mengalami transformasi yang mengubah hampir seluruh aspeknya,” katanya.

Pada era AI, tambahnya, jika kecerdasan buatan telah menyerap data-data karya sastra dan teori kritik sastra secara memadai, diprediksi, transformasi kritik sastra akan mencapai puncaknya. Transformasi itu terjadi pada beberapa aspek. Antara lain, transformasi cara kerja, dari kecenderungan yang subjektif ke kerja berbasis data. “Sebelum era AI, kritik sastra didasarkan pada bacaan terbatas, selera personal, wawasan, dan perasaan subjektif kritikus. Dengan bantuan AI, kritik sastra memiliki dasar data yang kuat dan terukur,” katanya..

“AI dapat memindai ribuan karya sekaligus, menghitung pola bahasa, pola puitika, pola struktur cerita, melacak pengaruh, dan menemukan hubungan yang tak terlihat oleh mata manusia. Kritik sastra menjadi objektif dalam data, namun tetap subjektif dalam penafsiran,” tambahnya.

Ahmadun menyimpulkamn, akan terjadi kerja sama yang saling melengkapi antara kecerdasan buatan (AI) dan kritikus sastra. Robot KB mengolah data besar, menemukan pola, tema, gaya bahasa, dan hubungan antarteks secara cepat dan objektif. Sedangkan kritikus memberi makna, konteks sejarah, konteks budaya, penilaian estetika, pemahaman emosi, dan wawasan kritis yang tidak bisa dihasilkan oleh robot AI.

 

Dengan demikian, dalam kritik sastra di era AI, jika kecerdasan buatan telah menyerap data-data karya sastra dan teori kritik sastra secara memadai, analisis karya sastra akan menjadi lebih luas, mendalam, seimbang antara data dan makna, seimbang antara objektif dan sukjektif, serta membuka cara baru memahami karya sastra tanpa menggantikan peran manusia.

“Diperlukan HB Jassin baru yang mahir memanfaatkan AI dan media digital dengan baik untuk menemukan Chairil Anwar baru yang pantas menjadi canon sastra Indonesia pada era digital,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *