Barelang, Menyusuri Jembatan dan Sunyi di Selatan Batam

batam

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Batam kerap dipandang sebagai pintu gerbang industri atau sekadar tempat singgah sebelum menyeberang ke Singapura demi biaya yang lebih murah. Di balik citra itu, Batam sebenarnya menyimpan lanskap yang jarang dibicarakan.

Ke arah selatan, berdiri Jembatan Barelang, rangkaian enam jembatan yang menghubungkan pulau-pulau tropis menjadi satu kesatuan. Infrastruktur ini bukan hanya penghubung wilayah, tetapi juga simbol ambisi pembangunan di kawasan pesisir.

Perjalanan menyusuri Barelang bukan semata wisata pantai, mangrove, atau hutan tropis. Ini juga perjalanan melihat jejak teknologi dan pembangunan, bagaimana wilayah laut diolah menjadi jalur konektivitas yang strategis.

Saya memulai perjalanan dari pusat Kota Batam menuju selatan. Jalan utama sepanjang sekitar 77 kilometer relatif mulus dan tidak terlalu padat. Lanskap berubah perlahan, dari kawasan kota menuju wilayah pesisir, lalu semakin sepi saat mendekati ujung perjalanan.

Baca juga: Pulau Penyengat di Tanjung Pinang, Warisan Melayu yang Bertahan

Rangkaian jembatan dan dinamika kawasan

jembatan

Jembatan pertama, Tengku Fisabililah, menjadi penanda awal perjalanan. Dengan struktur cable-stayed, jembatan sepanjang 642 meter ini ditopang dua menara setinggi 199 meter. Kabel baja yang membentang membentuk tampilan yang kuat sekaligus estetis di atas Laut Malaka.

Di area kaki jembatan tersedia ruang terbuka yang sering dimanfaatkan pengunjung untuk berhenti. Dari sini, jembatan dapat dilihat dari sudut yang cukup menarik. Beberapa restoran seafood juga berdiri di bawahnya, sebagian berada di atas rakit.

Perjalanan berlanjut ke jembatan kedua, Nara Singa, yang menghubungkan ke Pulau Nipah dengan struktur cantilever box girder. Jembatan ini memiliki panjang sekitar 420 meter dan tampil tanpa kabel penyangga terbuka.

Jembatan ketiga, Raja Ali Haji, menggunakan teknologi segmental box girder dengan panjang 270 meter. Pulau-pulau di bagian awal ini masih terhubung erat dengan aktivitas industri Batam. Kawasan pergudangan, logistik, dan galangan kapal berkembang di sekitarnya.

Memasuki jembatan keempat, Sultan Zainal Abidin, suasana mulai berubah. Jembatan sepanjang 365 meter ini mengantar ke Pulau Rempang, pulau terbesar kedua setelah Batam. Wilayah ini memiliki bentang alam yang lebih alami, termasuk pantai dengan pasir putih dan pemandangan matahari terbit maupun terbenam.

Di kawasan ini juga terdapat kampung Melayu tua. Masyarakatnya masih mempertahankan pola hidup tradisional yang telah berlangsung lama, dengan pengaruh modernisasi yang tidak terlalu dominan.

Perjalanan dilanjutkan ke jembatan kelima, Tuanku Tambusai, yang memiliki ciri busur beton di bagian bawah. Jembatan ini menghubungkan Pulau Rempang dengan Pulau Galang. Jembatan terakhir, Raja Kecik, berukuran lebih pendek dan menghubungkan Pulau Galang dengan Pulau Galang Baru.

Setelah melewati jembatan terakhir, jalan aspal tidak lagi berlanjut.

Di ujung selatan terdapat titik nol Barelang. Berbeda dengan titik nol di kota besar yang identik dengan pusat aktivitas, titik ini justru menandai batas akhir jalan.

Tidak jauh dari lokasi tersebut, terdapat Pantai Cakang. Air lautnya relatif jernih dan tenang karena jauh dari kawasan industri. Pantai ini sering menjadi titik awal bagi penjelajah laut dan pemancing untuk menuju pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Suasana di sini terasa lebih tenang dan jauh dari keramaian Batam yang dikenal selama ini.

Kuliner Batam dan Gonggong

gonggong

Setelah perjalanan, kuliner menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Salah satu tempat yang cukup dikenal adalah A2 Food Court di kawasan Penuin, Lubuk Baja. Lokasinya berada di pusat aktivitas kota dan mudah diakses.

Tempat ini mengusung konsep terbuka. Area makan dipenuhi meja bundar dengan berbagai penjual makanan di sekelilingnya. Suasana cenderung ramai, baik oleh masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah dan negara tetangga.

Beragam hidangan tersedia, mulai dari seafood bakar, mi goreng, sate, hingga minuman seperti teh tarik. Proses memasak dapat langsung dilihat karena sebagian besar menggunakan konsep dapur terbuka.

Salah satu menu khas yang banyak dicari adalah gonggong, siput laut dari Kepulauan Riau. Biasanya direbus dengan jahe dan kecap asin. Cara memakannya menggunakan tusuk kecil untuk mengeluarkan isi cangkang menjadi pengalaman tersendiri.

Baca juga: Manado–Bitung: Dari Laut ke Meja, Cerita Rasa yang Tidak Basa-Basi

Selain itu, sop ikan Batam juga menjadi pilihan utama. Ikan tenggiri disajikan dalam kuah bening dengan tambahan sawi asin dan tomat, serta sambal sebagai pelengkap. Hidangan ini sederhana tetapi cukup kuat secara rasa.

Pilihan lain seperti kepiting saus Padang, udang saus tiram, atau cumi telur asin tersedia, meski tidak selalu menjadi pilihan utama dalam satu kunjungan.

Batam tidak hanya menawarkan jalur industri dan konektivitas, tetapi juga pengalaman perjalanan dan rasa yang meninggalkan kesan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *