Mata Akademisi, Milenianews.com – Di sebuah koridor kantor Pusat Pengembangan Aparatur Komdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital), Hafifah Bella Novitasari atau yang akrab disapa Bella, menjalankan rutinitasnya dengan penuh energi. Sebagai Widyaiswara Ahli Pertama Kemkomdigi, Bella memiliki tanggung jawab besar dalam aspek “Dikjartih”: mendidik, mengajar, dan melatih para Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun, di balik seragam rapinya itu, tersimpan kisah panjang seorang perempuan yang menghabiskan belasan tahun untuk menyeimbangkan kerasnya dunia industri dengan ambisi pendidikan yang tak pernah padam.
Melawan arus dan suara-suara di jalanan
Perjalanan Bella sangatlah tidak mudah menjadi seperti sekarang. Sejak menempuh pendidikan D3 hingga S1, Bella sudah terbiasa dengan ritme budaya kerja di pabrik, di kawasan Cikarang. Pernah menjadi seorang Design Developer yang fokus pada packaging (kemasan), ia belajar tentang presisi dan tenggat waktu. Namun, tantangan sesungguhnya muncul ketika ia memutuskan untuk melangkah ke jenjang pendidikan lebih tinggi, program Magister (S2).
Baca juga: Letda Alwi Al Hadad: Dari Kegagalan Berulang Menuju Benteng Pertahanan Siber TNI
Tak ubahnya pandangan kolot terhadap perempuan, stigma sosial menjadi penghalang pertama baginya, saat hendak memutuskan kuliah, apalagi sampai jenjang S2. Bella mengenang sebuah momen yang membekas saat masih kerja di pabrik dan berangkat biasa naik transportasi umum angkot. Sang sopir pernah berceletuk sinis, mempertanyakan “mengapa perempuan harus sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya hanya akan kembali ke dapur?”. Tapi menurut Bella, perempuan harus punya value lebih dan prinsip untuk terus berkembang.
“Jangan kemakan omongan itu. Mimpi harus setinggi-tingginya,” kenang Bella dengan optimis.
Meski sempat mengalami gap year selama setahun karena pertimbangan keluarga, semangatnya tetap menyala hingga akhirnya ia memantapkan pilihan pada Universitas Nusa Mandiri (UNM) untuk melanjutkan studi magisternya di Prodi Informatika (S2).
Transformasi pola pikir di Universitas Nusa Mandiri
Bagi Bella, memilih kampus UNM bukan tanpa alasan. Bagi seorang praktisi seperti dirinya, fleksibilitas waktu, kurikulum yang linier, dan lokasi yang strategis adalah kunci. Dukungan pun datang dari dosen S2 nya di UNM, Dr. Windu, yang meyakinkannya bahwa S2 adalah investasi jangka Panjang, saat pertama bertemu di Kegiatan Matrikulasi (pengenalan kampus program pascasarjana UNM).
Di UNM, Bella menemukan katalisator intelektualnya. Momen yang paling mengubah cara pandangnya terjadi di kelas Statistika Deskriptif yang diampu oleh Prof Said Mirza. Saat itu, Bella ditantang untuk mengolah data real estate menggunakan bahasa pemrograman Python.
Pelajaran dari Prof. Mirza waktu itu, sangat membekas dalam ingatannya: seorang Magister tidak boleh hanya puas dengan menyajikan visualisasi data yang indah. “Kita harus mampu menarik runut, menganalisis kenapa pola (dari data) tersebut terjadi. Kenapa harga turun di tahun tertentu? Kenapa trennya berubah?,” jelas Bella.
Pola pikir analitis inilah yang kemudian ia bawa ke dunia kerja, memberinya keunggulan dalam menyusun proses bisnis dan strategi di Kementerian sebagai Widyaiswara. Menurut Bella, salah satu keunggulan lulusan UNM sebagai Kampus Digital Bisnis, mahasiswa diajak berkolaborasi dengan alumni dan mahasiswa aktif dalam penelitian, sehingga lulusan UNM sudah punya banyak karya dan portofolio.
Menepis mitos “gaji buta” di birokrasi
Setelah 11 tahun berkarier di sektor swasta, termasuk pengalamannya sebagai EDP Supervisor di Martha Tilaar Group (PT Cedefindo), Bella memutuskan untuk mengabdikan ilmunya di birokrasi pemerintahan. Transisi ini memberinya perspektif baru mengenai etos kerja ASN.
Bella secara jujur mengakui adanya stigma negatif di masyarakat yang menganggap ASN hanya “makan gaji buta” dan bekerja bermalas-malasan. Namun, pengalamannya sendiri justru membuktikan sebaliknya. Di kementerian, ia seringkali harus lembur hingga malam hari, melakukan koordinasi daring untuk menyusun modul pelatihan dan kurikulum kompetensi bagi ASN seluruh Indonesia.
Fokus utamanya kini adalah menanamkan nilai dasar BerAKHLAK (Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif). Baginya, profesionalisme ASN adalah kunci kemajuan bangsa, dan ia bangga menjadi bagian dari transformasi karakter tersebut.
Perempuan: Madrasah pertama dan literasi digital
Bagi Bella, pendidikan tinggi bagi perempuan adalah sebuah keharusan yang tidak bisa dinegosiasikan. Ia memegang prinsip bahwa perempuan adalah “madrasah” atau sekolah pertama bagi anak-anaknya kelak. “Demi anak-anak juga, kita harus punya bekal ilmu yang luas,” tegasnya.
Baca juga: Hafifah Bella Ajak Mahasiswa UNM Tak Stagnan dan Terus Upgrade Diri di SERASI 2026
Dedikasi Bella kini melampaui meja kantor. Di waktu luangnya, ia aktif berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Ia membantu mengedukasi orang tua murid dan guru-guru di PAUD yang dikelola oleh keluarganya. Mulai dari hal-hal mendasar hingga literasi teknologi terkini seperti pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) seperti ChatGPT, Bella berusaha memastikan bahwa orang-orang di sekelilingnya tidak tertinggal oleh zaman.
Dari seorang yang kerja di pabrik di Cikarang hingga menjadi pendidik para aparatur negara, kisah Bella adalah bukti nyata bahwa kombinasi antara tekad yang kuat, pendidikan yang tepat, dan semangat kolaborasi mampu mendobrak batasan stigma apa pun.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.









