Ternyata Gorengan Bukan Asli Nusantara, Begini Sejarahnya di Indonesia

Milenianews.com – Siapa yang tidak suka gorengan? Dari ayam goreng, ikan goreng, tempe-tahu, hingga bakso goreng, hampir semua orang Indonesia pernah mencicipinya. Bahkan, jika kita berkeliling rumah makan di seluruh Nusantara, menu yang digoreng selalu saja menjadi favorit. Namun, tahukah Anda? Teknik memasak dengan menggoreng sebenarnya bukan asli dari masakan Nusantara.

Melansir dari Historia, teknik menggoreng diperkenalkan ke Nusantara melalui interaksi dengan orang Tionghoa. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa, Jaringan Asia menyebut bahwa teknik ini diadopsi dari tradisi kuliner Tiongkok, termasuk penggunaan kuali dan wajan.

Baca juga: Gorengan hingga Gula Berlebih, Ini Makanan yang Memicu Penuaan Dini

Dalam kajian sejarah kuliner Tiongkok, Thomas O. Höllmann melalui bukunya The Land of the Five Flavors menjelaskan bahwa teknik menggoreng telah lama berkembang di Tiongkok. Metode seperti jian chao (tumis cepat) dan zha (menggoreng dengan minyak banyak atau deep-fry) telah dikenal sejak penggunaan peralatan masak berbahan besi pada abad ke-3 hingga ke-6.

Perkembangan teknologi pengecoran besi memungkinkan pembuatan wajan cekung yang dalam, atau yang dikenal sebagai wok. Tanpa peralatan logam tersebut, teknik menggoreng sulit dilakukan karena dapat merusak kuali gerabah.

Dengan masuknya peralatan dan teknik ini ke Nusantara, masyarakat mulai mengenal cara memasak menggunakan minyak panas.

Peran Minyak Kelapa

Meski tekniknya diperkenalkan dari luar, ketersediaan bahan lokal menjadi faktor penting dalam perkembangannya. Nusantara memiliki sumber daya kelapa yang melimpah. Minyak kelapa telah lama diproduksi secara tradisional untuk kebutuhan rumah tangga.

Keterangan mengenai makanan yang digoreng mulai muncul dalam sumber tertulis yang lebih muda, salah satunya dalam Serat Centhini yang selesai ditulis pada 1814. Naskah tersebut mencatat berbagai hidangan dalam upacara pernikahan, termasuk lauk yang digoreng dan sayuran yang ditumis.

Memasuki abad ke-20, produksi minyak kelapa berkembang pesat. Selain untuk konsumsi domestik, minyak kelapa menjadi komoditas perdagangan. Pengusaha Eropa dan Tionghoa mulai mengolahnya dengan mesin modern, sementara masyarakat tetap memproduksinya secara tradisional.

Catatan perjalanan Justus van Maurik dalam Indrukken van een totok menggambarkan keberadaan pedagang makanan di pinggir jalan Jawa pada akhir abad ke-19. Mereka menjual nasi, sayur, serta ikan goreng yang dibungkus daun pisang. Di perkampungan Tionghoa, ia juga menjumpai warung yang menawarkan ikan goreng dan berbagai hidangan lainnya.

Baca juga: Hati-hati! Ini 5 Dampak Sering Makan Gorengan Saat Buka Puasa!

Seiring waktu, menggoreng tidak lagi menjadi teknik yang terbatas pada kelompok tertentu. Ketersediaan minyak yang semakin luas, ditambah dengan masuknya minyak sawit pada abad ke-19 dan perkembangan industri pangan modern, membuat teknik ini semakin mudah diakses. Gorengan kemudian menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Editor: Reyvan Aldyan Yahya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *