Milenianews.com, Jakarta– Dalam pentas sejarah dakwah Islam di Betawi, KH. Mohd Ali Alhamidy adalah sosok ulama Betawi yang banyak melahirkan karya. Mohd Ali Alhamidy yg aktif dalam Jam’iyyah Persatuan Islam dan aktivis Partai Politik Islam Masyumi ini melahirkan banyak karya seperti Tauhid, Tafsir, Hadits, Adab, Fiqh, Sejarah dan Dakwah. Yang menarik hampir semuanya ditulis dalam bahasa Arab Melayu.
Alhamdulllah tepat hari Jumat (5/9/2025), bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW., Hadi Nur Ramadhan selaku founder Rumah Sejarah Indonesia bersama Ericson selaku Tim Filologi Pusdok Tamaddun melakukan kunjungan silaturahmi ke rumah salah satu tokoh penting PERSIS (Persatuan Islam) dan Masyumi, Kiai Md. Ali Alhamidy di rumahnya yang sangat bersejarah.

Di antara karya-karyanya yg sudah dicetak dalam bahasa Indonesia dan Arab Melayu, seperti Godaan Setan, Jalan Hidup Muslim, Tafsir Hidayatullah, Islam dan Perkawinan, Manasik Haji, Ruhul Mimbar, Syarah Shahih Bukhari, Adabul Insan fil Islam, Al-Wahyu Wa Al-Qur`an, Kunci Khutbah dan Pidato dan lain sebagainya.
Kunjungan tersebut disambut hangat dengan anak bungsu Mu’allim Alhamidy, Bu Djannah Bariah di kediamanya Jl. Matraman Dalam 2 no 56 dekat dengan Masjid Jami’i Matraman, Jakarta.
Sejak pukul 09.30 pagi, Hadi menyampaikan kepada keluarga Alhamidy bagaimana kiprah peran Kiai Mohd. Ali Alhamidy dalam perjuangan kemerdekan dan perjalanan dakwahnya.

Bu Djannah selaku anak ke-13 Alhamidy menyampaikan rasa senang dan bahagia karena karya-karya abahnya masih dikaji dan dibaca hingga hari ini.
“Karya-karya Abah masih banyak tersimpan di lemari rumah lama, baik yang masih ditulis tangan maupun yang sudah dicetak. Saya tidak mampu lama2 melihat tulisan Abah karena akan membuat saya sedih dan rindu,” ucap ibu 3 anak tersebut dengan nada sendu.
Hadi Nur Ramadhan, sang kolektor karya-karya lawas ulama Nusantara ini menawarkan agar karya-karya Alhamidy yang masih banyak itu bisa dirawat dan dikaji di Rumah Sejarah Indonesia. Tampaknya pertemuan ini memang sudah diskenariokan oleh sang Mahakuasa. Bu Djannah pun memang sedang mencari lembaga atau tempat yang bisa merawat dan memanfaatkan karya-karya abahnya.
Akhirnya keluarga Alhamidy mengizinkan Hadi Nur Ramdhan untuk merawat dan menyimpan koleksi perpustakaan KH. Mohd. Ali Alhamidy berupa buku, manuskrip, arsip, foto dan dokumen sejarah.

“Insya Allah kami akan menjaga amanah dan merawat khazanah intelektual para tokoh bangsa Indonesia dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya dengan tekad yg kuat.
Pertemuan tersebut pun diakhiri dengan serah terima karya-karya KH. Mohd Ali Alhamidy dan juga foto bersama. Hadi menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan agar generasi sekarang tidak lupa dengan para ulama dan tokoh bangsa Indonesia.
Alhamdulillah berkat ketekunan dan kesabaran Hadi melacak karya ulama dan pahlawan Indonesia selama 22 tahun lebih kini tersimpan koleksi 14 ribu lebih karya ulama dan pahlawan Islam Indonesia di Pusdok Tamaddun. Baginya bangsa ini akan besar jika bangsanya mengenal dengan baik sejarah perjalanan bangsa dengan baik dan benar.








