Milenianews.com, Yogyakarta— Badan Riset dan Inovasi Nasional menyelenggarakan National Policy Dialogue bertajuk “Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia” di Universitas Gadjah Mada, Kamis (22/5/2026).
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat arah pembangunan ekonomi biru nasional melalui pemanfaatan kekayaan hayati kelautan Indonesia secara berkelanjutan, inovatif, dan berdaulat. Dialog nasional tersebut menghadirkan akademisi, peneliti, pemangku kebijakan, serta pelaku industri dalam membahas masa depan sektor kelautan Indonesia di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan perubahan iklim.
Dalam forum tersebut, Guru Besar Kelautan dan Perikanan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS memaparkan materi mengenai transformasi pemanfaatan biodiversitas laut berbasis inovasi menuju Indonesia Emas 2045.


Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, Indonesia memiliki keunggulan komparatif luar biasa sebagai negara dengan biodiversitas laut terbesar di dunia. “Potensi tersebut harus ditransformasikan menjadi keunggulan kompetitif melalui penguatan riset, inovasi teknologi, hilirisasi industri, dan pembangunan ekonomi biru berbasis ilmu pengetahuan,” ujar Prof. Rokhmin yang juga Anggota Komisi IV DPR RI.
Ia menegaskan bahwa biodiversitas laut tidak hanya menghasilkan pangan konvensional, tetapi juga berpotensi besar dalam pengembangan pangan fungsional, farmasi, kosmetik, bioenergi, biomaterial, hingga industri bioteknologi kelautan. “Karena itu, sektor kelautan harus menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus fondasi kedaulatan pangan, energi, dan kesehatan bangsa,” kata Prof. Rokhmin yang juga Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).
Baca Juga : Raker dengan KKP RI, Prof. Rokhmin Dahuri Sampaikan Sejumlah Catatan Kritis
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin juga menyoroti berbagai tantangan pembangunan sektor kelautan Indonesia, mulai dari rendahnya hilirisasi industri, lemahnya riset dan inovasi, minimnya akses permodalan nelayan dan UMKM, hingga ancaman overfishing, pencemaran laut, dan perubahan iklim global.
Sebagai solusi, ia menawarkan strategi transformasi ekonomi biru berbasis inovasi melalui:
- Modernisasi akuakultur dan perikanan tangkap, penguatan industri bioteknologi kelautan, hilirisasi komoditas kelautan.
- Pengembangan industri farmasi laut dan bioenergy.
- Penguatan SDM dan riset
- Perluasan skema blue finance dan kawasan industri biru.
Forum ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat orkestrasi pengetahuan, inovasi, dan geopolitik kelautan Indonesia guna mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang maju, berdaulat, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.














