Milenianews.com, Jakarta – Ada pertandingan yang selesai ketika wasit meniup peluit panjang. Namun, di Gaza, pertandingan sering kali berakhir karena peluru datang lebih cepat daripada kesempatan untuk hidup. Saat dunia sibuk memperdebatkan taktik, transfer pemain, dan peluang juara, Palestina kembali kehilangan satu pesepak bola. Kali ini, yang gugur bukan karena salah mengantisipasi bola, melainkan karena konflik yang tak kunjung menemukan garis akhir.
Baca juga:Â Dari Institut SEBI Untuk Palestina: 80 Orang Lebih Mahasiswa SEBI Ikut Suarakan “Stop Genosida”
Kabar duka datang dari dunia sepak bola Palestina. Penjaga gawang Saleem Al-Ashqar dilaporkan meninggal dunia di Jalur Gaza. Federasi Sepak Bola Palestina (PFA) menyatakan, kiper berusia 32 tahun tersebut tewas akibat tembakan yang dilepaskan pasukan Israel di tengah konflik yang masih berkecamuk.
Kepergian Al-Ashqar kembali menambah daftar panjang insan olahraga Palestina yang menjadi korban sejak konflik bersenjata pecah pada Oktober 2023. Menurut data PFA, lebih dari 1.000 atlet Palestina telah kehilangan nyawa selama periode tersebut.
Mimpi Menjadi Ayah Terhenti di Tengah Konflik
Di balik statusnya sebagai pesepak bola, Saleem Al-Ashqar adalah seorang suami yang baru lima bulan membangun rumah tangga. Istrinya kini tengah mengandung anak pertama mereka, sebuah kabar bahagia yang berubah menjadi kisah kehilangan sebelum keluarga kecil itu benar-benar lengkap.
Kematian Al-Ashqar memicu gelombang belasungkawa dari keluarga, rekan setim, komunitas olahraga Palestina, hingga pencinta sepak bola di berbagai negara. Banyak yang menilai kepergiannya menjadi simbol bahwa konflik tidak hanya merenggut warga sipil, tetapi juga menghancurkan mimpi-mimpi para atlet yang seharusnya masih memiliki masa depan di lapangan hijau.
Solidaritas Mengalir dari Dunia Sepak Bola
Ucapan duka juga datang dari klub asal Chile, Deportivo Palestino, yang selama ini memiliki hubungan historis dengan komunitas Palestina.
Melalui media sosial resminya, klub tersebut menyampaikan belasungkawa sekaligus menyerukan pentingnya keadilan dan perdamaian. Mereka menyebut kepergian Al-Ashqar sebagai tragedi yang seharusnya tidak lagi terus berulang.
Bagi Deportivo Palestino, solidaritas terhadap Palestina bukan sekadar simbol. Klub berjuluk Arabes itu secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap masyarakat Palestina dalam berbagai kesempatan.
Baca juga: Konflik Israel–Palestina dalam Perspektif Ontologi: Identitas, Hak untuk Ada, dan Narasi Sejarah
Hingga kini, Federasi Sepak Bola Palestina belum mengumumkan detail prosesi pemakaman Saleem Al-Ashqar. Namun, mereka terus mendokumentasikan dampak konflik terhadap dunia olahraga sebagai bagian dari catatan kemanusiaan yang tak boleh dilupakan.
Di tengah riuhnya kompetisi sepak bola dunia, kabar wafatnya Al-Ashqar menjadi pengingat pahit bahwa tidak semua pemain memiliki kesempatan menyelesaikan pertandingan. Sebagian dari mereka harus meninggalkan lapangan bukan karena peluit akhir, melainkan karena konflik yang terus merenggut nyawa. Ketika sepak bola semestinya menjadi ruang yang menyatukan manusia, perang justru berkali-kali memaksa olahraga ikut berkabung.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













