Milenianews.com, Qingdao, China— Anggota Komisi IV DPR RI, yang juga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, sekaligus Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menjadi salah satu pembicara utama dalam 2026 Global Ocean Development Forum (GODF) yang berlangsung di Qingdao West Coast New Area, China, pada 16–18 September 2026.
Forum internasional tersebut mempertemukan unsur pemerintah, ilmuwan, akademisi, pelaku usaha, dan organisasi internasional untuk membahas pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan. China Daily melaporkan sekitar 680 peserta, termasuk sekitar 200 peserta dari luar China dan perwakilan 12 organisasi internasional, menghadiri rangkaian forum yang mencakup empat forum paralel dan delapan kegiatan pendukung.
Dalam Parallel Forum I: “Blue Granary: Green Transformation of Traditional Marine Industries”, Prof. Rokhmin tampil dalam sesi Keynote Presentations bertema “Seed Industry Innovation for a Resilient Blue Granary”. Ia membawakan paparan berjudul “Aquaculture and Marine Ranching Development in Indonesia: Promoting Sustainable Production of Food, Pharmaceuticals, Bioenergy and Biomaterials.”
Paparan Prof. Rokhmin menempatkan akuakultur, ecological marine ranching, dan bioteknologi kelautan bukan hanya sebagai sektor penghasil ikan, tetapi sebagai bagian dari transformasi ekonomi biru yang dapat menghasilkan pangan bergizi, bahan baku farmasi dan nutrasetikal, kosmetik, bioenergi, biomaterial, hingga berbagai produk industri berbasis sumber daya hayati perairan.

Menurut materi yang disampaikan, produksi perikanan dan akuakultur dunia pada 2024 telah mencapai sekitar 235 juta ton, yang terdiri atas sekitar 195 juta ton hewan akuatik dan 40 juta ton alga. “Perkembangan ini menunjukkan bahwa pangan akuatik semakin strategis dalam sistem pangan dunia, sementara pertumbuhan produksi pada masa mendatang akan semakin bergantung pada akuakultur yang produktif dan berkelanjutan, tata kelola perikanan yang lebih baik, serta pemulihan produktivitas ekosistem,” kata Prof. Rokhmin, Kamis (17/9/2026).
Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis. Berdasarkan data FAO yang digunakan dalam paparan tersebut, Indonesia berada pada posisi produsen akuakultur terbesar kedua dunia setelah China pada 2024, dengan produksi sekitar 15,75 juta ton atau 11,12 persen produksi akuakultur dunia.
Data nasional 2025 yang ditampilkan Prof. Rokhmin juga menunjukkan produksi budidaya Indonesia mencapai sekitar 6,76 juta ton hewan akuatik dan 11,65 juta ton rumput laut, atau sekitar 18,41 juta ton bila keduanya digabungkan. “Rumput laut menjadi salah satu komoditas strategis karena selain sebagai pangan, komoditas ini dapat dikembangkan menjadi bahan baku hidrokoid, farmasi, kosmetik, bioplastik, pakan, pupuk, biostimulan, dan biomaterial bernilai tambah tinggi,” ujarnya.
Bay-Based Ecological Marine Ranching Model
Prof. Rokhmin menekankan bahwa peningkatan produksi saja tidak cukup. Pembangunan akuakultur masa depan harus berlangsung dalam batas daya dukung ekosistem, menggunakan inovasi teknologi, memperkuat hilirisasi, memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat pesisir, serta berjalan bersamaan dengan rehabilitasi ekosistem.
Salah satu gagasan utama yang diperkenalkannya adalah Bay-Based Ecological Marine Ranching Model untuk Indonesia. Dalam konsep tersebut, sebuah teluk atau kawasan pesisir dikelola sebagai satu sistem sosial-ekologis yang memadukan zona konservasi dan nursery ground, restorasi habitat, stock enhancement dan pemanenan terkendali, marikultur berkelanjutan, serta pusat usaha ekonomi biru dan pemberdayaan masyarakat. Pemilihan lokasi didasarkan antara lain pada daya dukung ekosistem, sirkulasi air, konektivitas habitat, beban pencemaran, biodiversitas, penggunaan oleh masyarakat, serta kompatibilitas tata ruang.

Dengan pendekatan tersebut, marine ranching tidak dipandang sekadar sebagai pelepasan benih ikan atau pembangunan struktur buatan di laut. Dalam materi Prof. Rokhmin, ecological marine ranching ditempatkan sebagai sistem produksi sosial-ekologis berbasis sains yang mengintegrasikan restorasi habitat, peningkatan stok yang bertanggung jawab, pengaturan akses dan pemanenan, akuakultur, monitoring, serta pengelolaan adaptif.
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem laut yang lebih sehat sekaligus menghasilkan blue food, lapangan kerja, dan nilai ekonomi bagi masyarakat pesisir,” ujarnya.
Perkuat Kerja Sama Indonesia-China
Kehadiran Prof. Rokhmin di Qingdao juga diarahkan untuk memperkuat kerja sama Indonesia–China di sektor akuakultur, marine ranching, teknologi kelautan, dan industri hilir berbasis sumber daya perikanan dan kelautan.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa pengalaman China relevan terutama dalam pengembangan program jangka panjang, standar dan monitoring ekologis, diagnosis lokasi sebelum pembangunan infrastruktur, penggunaan teknologi digital dan sistem peringatan dini, serta integrasi marine ranching dengan industri kelautan. “Namun, teknologi tersebut harus disesuaikan dengan karakter Indonesia yang memiliki konektivitas ekosistem terumbu karang–mangrove–padang lamun, spesies tropis, kelembagaan masyarakat lokal, dan kondisi sosial-ekonomi yang berbeda,” kata Prof. Rokhmin.
Baca Juga : Prof. Rokhmin Dahuri Lakukan Kunjungan ke Luhaifeng Group, Jembatani Kekuatan Ekonomi Biru terbesar di Asia
Prof. Rokhmin juga mendorong kerja sama Indonesia–China di bidang ecological marine ranching, smart aquaculture, offshore aquaculture, industri benih unggul, teknologi monitoring, bioteknologi kelautan, serta blue-food value chains. Pengembangannya di Indonesia, menurut paparan tersebut, membutuhkan pendekatan penta-helix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga riset, dunia usaha, masyarakat pesisir, serta media.
Dalam perspektif tersebut, Indonesia tidak seharusnya berhenti sebagai produsen bahan mentah. Kekayaan biodiversitas dan luasnya ekosistem perairan Indonesia harus menjadi fondasi bagi industrialisasi biru dari hulu hingga hilir, mulai dari riset dan pengembangan, produksi benih, budidaya, marine ranching, pengolahan dan cold chain, industri farmasi, bioenergi, dan biomaterial.
Pesan tersebut sejalan dengan orientasi GODF 2026 yang menempatkan transformasi industri kelautan, inovasi teknologi, pembangunan industri laut dalam, serta tata kelola laut sebagai agenda utama. China Daily juga mencatat forum tahun ini memberi perhatian besar pada kerja sama yang dapat ditindaklanjuti dan pengembangan inovasi ekonomi kelautan.













