Milenianews.com, Western Australia– Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. mengunjungi Albany Shellfish Hatchery, Western Australia, Selasa (25/8/2026). Kunjungan itu menjadi kesempatan penting untuk melihat secara langsung bagaimana sains, teknologi, inovasi, dan manajemen modern diterapkan secara terintegrasi dalam pengembangan sektor akuakultur.
Albany Shellfish Hatchery menghasilkan benih oyster, scallop, dan mussel (kerang hijau) unggul untuk memenuhi usaha pembesaran ketiga komoditas tersebut di Australia, terutama di negara bagian Australia Barat. Perusahaan ini beroperasi sejak 2017 dan menghasilkan keuntungan cukup besar secara berkelanjutan.
Bagi Prof. Rokhmin Dahuri, yang selama puluhan tahun konsisten mendorong pembangunan kelautan dan perikanan Indonesia melalui paradigma “Blue Economy”, keberhasilan suatu negara mengembangkan akuakultur tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi sumber daya alam.
“Faktor penentunya justru terletak pada kemampuan mengubah potensi tersebut menjadi produktivitas, nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat melalui penguasaan IPTEK, SDM unggul, inovasi, investasi, serta tata kelola yang tepat,” kata Prof. Rokhmin yang juga Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).

Di Albany Shellfish Hatchery, berbagai tahapan produksi dilakukan dengan pendekatan yang terukur dan berbasis ilmu pengetahuan, mulai dari pengelolaan kualitas air, pembenihan, kultur mikroalga sebagai pakan alami, pemeliharaan organisme, biosecurity, monitoring hingga penerapan standar produksi. Inilah salah satu pelajaran penting bagi Indonesia.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan kekayaan biodiversitas laut yang luar biasa, Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk menjadi produsen blue food dan produk akuakultur terkemuka dunia. Namun, menurut Prof. Rokhmin, kekayaan sumber daya tersebut tidak akan otomatis menghadirkan kemakmuran apabila tidak disertai industrialisasi, modernisasi teknologi, peningkatan produktivitas, serta penguatan rantai nilai dari hulu hingga hilir.
“Karena itu, pembangunan sektor perikanan budidaya Indonesia ke depan harus bergerak dari sekadar resource-based economy menuju innovation and knowledge-based economy,” kata Prof. Rokhmin yang juga Guru Besar Kelautan dan Perikan IPB University.
Hatchery yang menghasilkan benih berkualitas, teknologi budidaya yang produktif dan ramah lingkungan, pakan yang efisien, pengendalian penyakit, digitalisasi produksi, hilirisasi, cold chain, hingga akses pasar harus dibangun sebagai sebuah sistem industri yang utuh.
Prof. Rokhmin juga terus menekankan bahwa Blue Economy bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi dari laut, melainkan memastikan aktivitas ekonomi menghasilkan kesejahteraan manusia sekaligus menjaga kesehatan dan keberlanjutan ekosistem.
“Dengan pendekatan tersebut, pengembangan akuakultur dapat menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan masyarakat pesisir, meningkatkan ekspor dan devisa, serta membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004 itu.
Menurut Prof. Rokhmin, kunjungan seperti ini sekaligus memperkuat pentingnya kolaborasi internasional dan pertukaran pengetahuan. “Indonesia tidak harus menyalin seluruh sistem yang diterapkan negara lain, tetapi harus mampu mengambil best practices, teknologi, kultur inovasi, serta sistem manajemen yang terbukti berhasil untuk kemudian dikembangkan sesuai karakteristik ekologis, sosial, dan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Dengan potensi kelautan yang dimiliki oleh Indonesia, Prof. Rokhmin meyakini bahwa Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi pasar atau pemasok bahan mentah dunia.
“Indonesia harus tampil sebagai salah satu kekuatan utama industri perikanan, akuakultur, Blue Food, dan Blue Economy dunia,” kata Prof. Rokhmin.
Transformasi itu membutuhkan keberanian melakukan modernisasi, investasi besar pada riset dan inovasi, penguatan SDM, keberpihakan kepada nelayan dan pembudidaya, serta kebijakan pembangunan yang berbasis ilmu pengetahuan.
“Laut yang sehat, industri perikanan yang maju, dan masyarakat pesisir yang sejahtera merupakan fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.












