Milenianews.com, Surabaya— Sektor perikanan, kelautan, dan bioteknologi pangan memegang peranan krusial dalam mendukung kesehatan global (good health and well-being) serta ketahanan pangan nasional maupun internasional.
Hal itu dibahas dalam konferensi internasional 9th International Conference on Fisheries and Marine (INCOFIMS) bekerja sama dengan 7th International Conference on Biotechnology and Food Science (INCOBIFS). Acara yang digelar di Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education (ASEEC Tower), Surabaya, Rabu-Kamis, 02-03 September 2026 itu mengusung tema besar “Collaborative Penta Helix (ABGSM) in Sustaining Marine and Fisheries for Good Health and Well-being”.
Konferensi internasional ini membahas sejumlah topik utama, yakni:
- Aquaculture & Fish Health
- Fish Feed and Nutrition
- Aquatic Resource and Environment
- Fisheries Socio-Economic
- Seafood Processing & Technology
- Food Biotechnology, Safety, and Functional Food.
Konferensi internasional ini menjadi wadah akademisi, peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan global untuk saling bertukar gagasan, memperkuat riset, serta menghadirkan solusi inovatif berbasis teknologi demi keberlanjutan sektor perikanan dan maritim dunia.

Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) yang juga Guru Besar Kelautan dan Perikanan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS menjadi salah satu keynote speaker dalam konferensi internasional tersebut. Ia menegaskan pentingnya meningkatkan kolaborasi Penta-helix dalam pengembangan berkelanjutan di sektor perikanan, kelautan dan bioteknologi laut.
Penta-helix adalah model kerja sama inovatif yang menghubungkan Akademisi, Bisnis (Industri), Pemerintah, Komunitas, dan Media Massa untuk menciptakan ekosistem kerja sama berdasarkan Kreativitas, Inovasi Sains, dan Teknologi.
Dalam makalahnya yang berjudul “A Penta-helix Collaboration in Sustainable Development of Aquaculture, Fisheries, and Marine Biotechnology Industry for A Developed and Prosperous Indonesia, and For A Better and Sustainable Word”, Prof. Rokhmin menjabarkan penguatan Penta-helix tersebut sebagai berikut:
Peran dan Fungsi Akademik:
- Untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah yang dapat diandalkan (informasi) untuk proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Ini termasuk penilaian stok perikanan, analisis kapasitas daya dukung ekosistem, kesesuaian lokasi budidaya, epidemiologi penyakit, pemantauan lingkungan, penilaian risiko iklim, penelitian keanekaragaman hayati, perbaikan genetik, dan studi sosial-ekonomi.
- Untuk mengembangkan teknologi yang mampu memecahkan masalah praktis di industri dan masyarakat.
- Untuk mengembangkan sumber daya manusia yang kompeten. “Profesional perikanan masa depan membutuhkan kemampuan lintas disiplin yang menggabungkan ilmu biologi, teknik, teknologi digital, ekonomi, kewirausahaan, manajemen lingkungan, dan kebijakan publik,” tegas Prof. Rokhmin yanfg juga anggota Komisi IV DPR RI.
- Institusi akademik harus memperkuat transfer teknologi.
Selanjutnya, peran dan fungsi industri (Bisnis) sebagai berikut:
- Inovasi Produk dan Layanan: mengembangkan barang (produk) yang siap dipasarkan, meningkatkan kualitas layanan, dan memperkenalkan aplikasi komersial yang dikembangkan dari penemuan (prototipe) yang dibuat oleh peneliti (akademisi) berdasarkan permintaan konsumen (manusia) saat ini dan yang akan datang.
- Membangun Ekosistem dan Jaringan: membuat rantai pasokan komersial, membina kemitraan bisnis, dan menyelenggarakan jaringan perdagangan profesional yang menghubungkan usaha kecil dengan pasar yang lebih besar.
- Investasi dan Pendanaan: menyediakan modal finansial, sumber daya, dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mengembangkan proyek, destinasi wisata, atau usaha kreatif.
- CSR (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan): menjalankan program sosial dan lingkungan yang mendukung kesejahteraan komunitas lokal dan pembangunan wilayah yang berkelanjutan.
- Keterampilan dan Penciptaan Lapangan Kerja: menawarkan pelatihan praktis, kesempatan kerja, dan pengalaman operasional untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal.
Berikutya, Prof. Rokhmin mengemukakan Pemerintah memainkan peran sentral sebagai pengatur, fasilitator, katalis, penyedia infrastruktur, dan penjaga sumber daya publik.
- Menetapkan kebijakan yang jelas, konsisten, berbasis ilmu, dan ramah investasi. Regulasi harus melindungi keberlanjutan ekologi tanpa menciptakan hambatan administratif yang tidak perlu bagi bisnis dan komunitas yang bertanggung jawab.
- Menyediakan infrastruktur penting yang tidak bisa disediakan secara efisien oleh produsen individu. “Ini termasuk pelabuhan perikanan, zona perikanan budidaya, jalan, listrik, irigasi dan infrastruktur air, laboratorium, tempat penetasan, pendingin penyimpanan, pabrik es, jaringan logistik, telekomunikasi, dan infrastruktur digital,” ujarnya.
- Membangun insentif ekonomi yang mempercepat investasi berkelanjutan. Instrumen potensial termasuk kredit terjangkau, jaminan, asuransi, insentif pajak, hibah penelitian, kemitraan publik-swasta, dan mekanisme pembiayaan campuran.
- Memastikan keberlanjutan lingkungan melalui perencanaan tata ruang, perizinan, standar lingkungan, pengelolaan perikanan, restorasi ekosistem, pengendalian polusi, dan penegakan hukum yang efektif.
- Memperkuat koordinasi di antara kementerian dan antara pemerintah pusat dan daerah. “Regulasi yang terfragmentasi meningkatkan biaya transaksi dan menghambat investasi. Oleh karena itu, pengembangan ekonomi biru secara terpadu membutuhkan keselarasan regulasi di bidang perikanan, lingkungan, perencanaan ruang, industri, perdagangan, keuangan, sains, pendidikan, dan kebijakan infrastruktur,” kata Prof. Rokhmin.
- Meningkatkan akses pasar;
- Mendukung kewirausahaan di kalangan pemuda dan wanita;
- Mengikutsertakan pengetahuan ekologis lokal dan tradisional; dan
- Melibatkan masyarakat dalam pemantauan sumber daya dan konservasi ekosistem.
Ia juga menyoroti pentingnya peran Komunitas sebagai berikut:
. 1. Komunitas bukan sekadar penerima manfaat dari pembangunan. Mereka adalah pelaku ekonomi yang fundamental dan penjaga ekosistem perairan.
2. Para nelayan, petani ikan, penduduk pesisir, pengolah, pedagang, koperasi, komunitas adat, organisasi pemuda, dan pengusaha lokal memiliki pengetahuan praktis yang diperoleh melalui interaksi panjang dengan lingkungan perairan. Partisipasi mereka sangat penting untuk efektivitas sekaligus legitimasi.
Menurut Prof. Rokhmin, pemberdayaan Komunitas sebaiknya fokus pada: Meningkatkan kapasitas teknis; Meningkatkan literasi keuangan dan akses ke modal; Mendirikan koperasi dan usaha kolektif; Meningkatkan akses ke teknologi; dan Memperkuat daya tawar.

Prof. Rokhmin menegaskan pentingnya peran Media:
- Mendukung pengembangan perairan yang berkelanjutan (Akuakultur, Perikanan Tangkap, dan Industri Bioteknologi Laut) dengan menyebarkan pengetahuan ilmiah, mendorong konsumsi yang bertanggung jawab, menginformasikan peluang pasar, menampilkan inovasi yang sukses, memperkuat transparansi, dan meningkatkan kesadaran publik tentang tantangan lingkungan.
- Memperkuat akuntabilitas dengan menyoroti penangkapan ikan ilegal, polusi lingkungan, praktik penangkapan ikan yang merusak, kegagalan kebijakan, dan penyalahgunaan sumber daya publik.
Pada saat yang sama, lembaga ilmiah dan instansi pemerintah harus meningkatkan kemampuan mereka dalam menyampaikan informasi yang kompleks secara akurat dan mudah dipahami. Sistem Penta-helix yang kuat, karena itu, membutuhkan komunikasi sains sebagai bagian penting, bukan sekadar pemikiran tambahan.
“Keberlanjutan umat manusia sangat bergantung pada keberlanjutan laut dan samudra kita. Oleh karena itu, mari kita bekerja sama—pemerintah, akademisi (peneliti, ilmuwan), industri, masyarakat, dan mitra internasional—untuk membangun masa depan laut yang makmur, inklusif, inovatif, dan berkelanjutan,” kata Prof. Rokhmin.
Ia menambahkan, “Pesisir dan lautan bukan hanya warisan kita, tapi juga masa depan kita. Mari kita jangan menganggapnya sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi, melainkan sebagai mitra dalam membangun planet yang lebih tangguh, adil, dan berkelanjutan.













