Oleh: Dr. K.H. Hasan Basri Tanjung, M.A., Dosen Sekolah Pascasarjana UIKA Bogor & Ketua Yayasan Dinamika Umat
Mata Akademisi, Milenianews.com – Sejatinya, kepribadian seorang muslim merupakan perpaduan dari berbagai aspek yang tumbuh dalam diri (kekuatan internal). Agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah telah memberikan gambaran jelas dan nyata bagaimana profil ideal seorang muslim di tengah masyarakat yang beragam. Dengan demikian, ia dapat tampil beda dan meyakinkan melalui identitas diri yang unik serta mengagumkan.
Seorang muslim (mukmin) bagaikan sebuah pohon yang berdiri kokoh dan tinggi, lalu menghasilkan buah lezat yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Dalam Al-Qur’an, hal ini diumpamakan (amtsal) seperti pohon:
“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit, dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim [14]: 24–25)
Imam Ibnu Jarir At-Thabari dalam Tafsir Jaami’ul Bayaan menjelaskan hakikat pohon yang baik tersebut, yakni akarnya menghujam ke tanah, batangnya menjulang ke langit, dan berbuah di sepanjang musim, yaitu an-nakhlun (pohon kurma). Beliau pun menegaskan bahwa “al-mu’minu ka an-nakhlah” (seorang mukmin itu bagaikan pohon kurma), yakni akarnya kuat menancap ke bumi, batangnya besar dan kokoh menjulang tinggi, serta tidak pernah berhenti berbuah di setiap musim dengan rasa yang enak dan berkhasiat tinggi.
Baca juga: Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi dalam Filsafat Ilmu di Era Modern
Begitu pun Prof. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar (hal. 3808) menjelaskan dengan indah:
“Maka dengan sendirinya inilah yang menghasilkan buah yang lebat, selalu berbuah dengan tiada mengenal musim. Betapa pun hebatnya angin ribut, taufan halimbubu, yang tadi telah menghembuskan segala debu dan menumbangkan sekalian bangunan yang tidak berdasar, namun pohon yang baik ini tetap tegak dengan jayanya. Dan walaupun datang kemarau panjang sehingga banyak tumbuh-tumbuhan yang mati karena tidak mendapat siraman air hujan apalagi sumur-sumur pun telah kering, namun pohon ini tetap tegak dengan daunnya yang menghijau dan berbuah, sebab uratnya jauh terhunjam ke petala bumi, tempat yang ada air.”
Jika akar yang menghunjam ke perut bumi adalah akidah tauhid (iman) dan batang dahan yang menjulang adalah syariah (ibadah), maka buahnya adalah akhlak (adab). Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Akar yang kuat akan menumbuhkan batang pohon yang besar dan tinggi, lalu berbuah banyak dan enak. Sebaliknya, akar yang rapuh dan dangkal akan menumbuhkan batang pohon yang kecil dan goyah, serta berbuah kecil dan sedikit.
Namun demikian, sebuah pohon selalu dikenal dan dikenang dari buahnya, bukan dari akar dan batangnya. Pepatah Arab mengatakan, “Yura’fu asy-syajaratu bi tsamariha” (pohon itu dikenal karena buahnya).
Baginda Rasulullah Muhammad SAW pun menekankan betapa akhlak (adab) menjadi tanda kesempurnaan iman seseorang, sebab ia menjadi representasi dari kekuatan iman dan ibadah:
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.” (HR. At-Tirmidzi)







