Milenianews.com, Tangerang Selatan — Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi ruang refleksi untuk memaknai kembali arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. KH. Hasani Ahmad Said, M.A. saat menjadi khatib di Masjid Raya Bintaro Jaya (MRBJ), Tangerang Selatan, Jumat (14/8/2026).
Dalam khutbahnya, Prof. Hasani mengajak jamaah untuk tidak memandang kemerdekaan hanya sebagai peristiwa sejarah ketika bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan. “Kemerdekaan merupakan nikmat besar dari Allah SWT yang harus disyukuri, dijaga, dan diisi dengan amal nyata yang menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa,” kata Prof. Hasani.
Menurut Prof. Hasani, mensyukuri kemerdekaan secara hakiki berarti mampu mengubah nikmat kemerdekaan menjadi energi untuk membangun kehidupan yang lebih baik. “Syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi harus diwujudkan melalui kejujuran, keadilan, kerja keras, persatuan, kepedulian sosial, serta tanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Kemerdekaan Bukan Sekadar Bebas dari Penjajahan
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 merupakan buah perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan. Namun, menurut Prof. Hasani, perjuangan tidak berhenti setelah bangsa Indonesia terbebas dari penjajahan.
“Generasi hari ini menghadapi bentuk perjuangan yang berbeda. Bangsa Indonesia harus terus berjuang membebaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, intoleransi, kesenjangan, serta berbagai bentuk keterbelakangan,” kata Prof. Hasani.
Dengan demikian, kemerdekaan harus dimaknai secara substantif. Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang bebas dari kekuasaan asing, tetapi juga bangsa yang mampu berdiri dengan martabat, mengelola kekayaan negeri secara amanah, dan memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat.
Merdeka Lahir dan Batin
Prof. Hasani juga mengajak jamaah untuk melihat dimensi spiritual dari kemerdekaan. Seseorang dapat hidup di sebuah negara yang merdeka, tetapi belum tentu memiliki jiwa yang merdeka.
Manusia yang diperbudak oleh hawa nafsu, keserakahan terhadap harta, ambisi kekuasaan, popularitas, dan kepentingan pribadi pada hakikatnya masih berada dalam belenggu.
“Karena itu, kemerdekaan yang hakiki dimulai dari kemerdekaan jiwa. Ketika seseorang hanya tunduk kepada Allah SWT, ia akan terbebas dari berbagai bentuk penghambaan kepada selain-Nya,” ujarnya.
Kemerdekaan batin tersebut, kata dia, kemudian harus tercermin dalam perilaku sosial: menjadi manusia yang jujur, amanah, adil, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.

Indonesia dalam Spirit Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Dalam khutbahnya, Prof. Hasani juga mengaitkan momentum kemerdekaan dengan gambaran Al-Qur’an mengenai negeri yang baik, sebagaimana termaktub dalam QS. Saba’ ayat 15:
*كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ*
“Makanlah dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”
Konsep baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, kata Prof. Hasani, dapat menjadi inspirasi moral bagi Indonesia. Negeri yang baik bukan sekadar negeri yang kaya sumber daya alam atau maju secara ekonomi, tetapi negeri yang mampu mengelola nikmat Allah dengan rasa syukur dan amanah.
Indonesia memiliki kekayaan alam, keragaman budaya, jumlah penduduk yang besar, serta sumber daya manusia yang potensial. Semua itu merupakan nikmat yang harus dijaga dan dikelola untuk sebesar-besarnya kemaslahatan rakyat.
“Karena itu, membangun Indonesia sebagai baldatun thayyibatun berarti menghadirkan keadilan, kesejahteraan, keamanan, pendidikan yang berkualitas, pemerintahan yang amanah, serta kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi akhlak dan persaudaraan,” tegasnya.
Syukur Kemerdekaan Harus Melahirkan Kebaikan
Prof. Hasani mengingatkan bahwa syukur memiliki konsekuensi. Allah SWT berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7:
*لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ*
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”
Menurut dia, ayat ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus diperlakukan sebagai nikmat yang terus dirawat. Syukur atas kemerdekaan bukan hanya dengan mengibarkan bendera dan mengikuti perayaan, tetapi dengan *menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menegakkan keadilan, menaati aturan, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Para pahlawan telah memberikan yang terbaik untuk merebut kemerdekaan. Tugas generasi sekarang adalah memberikan yang terbaik untuk mempertahankan dan mengisinya,” ujarnya.
Dari Kemerdekaan Menuju Keberkahan
Kemerdekaan yang hakiki pada akhirnya harus membawa bangsa menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Kemajuan tidak boleh hanya diukur dari pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi, tetapi juga dari kualitas akhlak dan kesejahteraan masyarakat.
Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang rakyatnya memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, beribadah, mendapatkan keadilan, serta hidup secara aman dan bermartabat.
Baca Juga : Prof. Hasani Ahmad Said Isi Ceramah Gerakan Subuh Berkah DMI Tangsel, Ajak Jamaah Raih Berkah Hidup
Karena itu, kata Prof. Hasani, momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI hendaknya menjadi muhasabah kebangsaan. “Sudahkah kita benar-benar mensyukuri kemerdekaan? Sudahkah kemerdekaan menghadirkan keadilan? Sudahkah kekayaan negeri dikelola sebagai amanah? Dan sudahkah kita berkontribusi menjadikan Indonesia lebih baik?” ujarnya.
Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi tanggung jawab bersama.
Dari Masjid Raya Bintaro Jaya, pesan khutbah Prof. Dr. KH. Hasani Ahmad Said mengingatkan bahwa “kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan amanah yang harus terus diisi dengan syukur, amal, ilmu, keadilan, dan pengabdian”.
“Dengan semangat baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, kemerdekaan Indonesia diharapkan tidak berhenti pada kebebasan dari penjajahan, tetapi berkembang menjadi kemerdekaan yang menghadirkan kebaikan, kesejahteraan, persatuan, dan keberkahan bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Prof. Dr. KH. Hasani Ahmad Said MA.













