Pesona Pelataran Masjid Nabawi dan Cerita Unik di Sekitarnya

nabawi

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Aroma kopi Arab yang baru diseduh berpadu dengan wangi roti hangat dan rempah-rempah memang menggoda siapa saja, dan saya pun mampir. Ini tempat kopi kecil tanpa area duduk, hanya ada pagar pemisah selasar dengan trotoar yang bisa dipakai duduk sambil ngopi tanpa meja di area terbuka. Banyak pembeli yang takeaway, minum kopi atau teh Arab sambil berjalan atau membawanya ke kamar hotel.

Saya di Madinah, Kota Suci Islam. Subuh telah lama lewat. Usai Subuh, saya berjalan dari dalam Masjid Nabawi dan sudah berada di luar pagar Masjid Nabawi. Pagar dan gedung komersial merangkap hotel dipisah trotoar jalan kaki yang lebar. Gedung tidak berdiri sendiri, tetapi berderet sepanjang trotoar, sejajar dengan pagar masjid. Deretan gedung hotel bertingkat ini bagian bawahnya dipisah-pisah pembatas menjadi toko-toko komersial; ada toko emas, parfum, pernak-pernik oleh-oleh, karpet sajadah, dan lainnya.

Pagi hari memang ramai, udara belum terlalu panas, dan jemaah sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang keluar masjid menuju hotel, ada yang justru ke arah masjid, mungkin mau Dhuha atau jemaah yang baru datang dari luar kota—karena ada beberapa kelompok berseragam, berombongan, dan ada yang memimpin. Jemaah ziarah dari berbagai negara memenuhi area luar pagar masjid. Ada yang sekadar jalan lihat-lihat, berbelanja, olahraga ringan meski memakai gamis, dan mungkin juga lapar mencari makanan.

Baca juga: Jejak Transformasi Uni Emirat Arab: Dari Padang Pasir Menuju Kemakmuran

Tahun 2000 saya naik haji dan ke Madinah, lalu terakhir umrah tahun 2015. Kini kawasan ini sudah banyak berubah. Hotel-hotel yang dahulu berdiri tidak teratur sudah tertata rapi dengan jalan pemisah yang lurus. Kios-kios komersial yang dahulu hanya tingkat dua atau tiga sudah dirobohkan dan dibangun gedung tinggi per blok yang relatif sama tingginya—maju, ramai, dan tertata. Menjadi lebih rapi, tetapi kehilangan penjual kios kecil atau street food yang kini sudah tidak ada lagi.

Saya satu di antara banyak orang yang menikmati pagi melihat satu sisi area di luar pagar masjid. Saya duduk di pagar pembatas trotoar dan selasar gedung. Bukan kursi yang disediakan khusus, hanya pagar, tetapi banyak orang yang duduk karena tidak ada pilihan tempat duduk lain. Beberapa kios menjual makanan dengan variasi yang hampir sama: ada kopi, teh, jus, dan aneka roti. Saya duduk beristirahat dengan kopi tanpa gula di tangan.

Hari sudah beranjak siang. Pelataran Masjid Nabawi pada bulan Juli sudah mulai panas. Cahaya matahari mulai merayap tinggi di langit berwarna biru pucat di ufuk timur. Jemaah sudah ramai dari berbagai penjuru dunia dengan beragam bahasa pembicaraan berbeda dan pakaian yang semua menutup aurat namun tampilannya berbeda. Ada jemaah Afrika dengan baju abaya warna-warni tajam, perempuan dengan tutup kepala dibalut warna sama, dan laki-lakinya memakai penutup kepala tinggi.

Di pelataran halaman masjid, jemaah berbagai bangsa berjalan perlahan di hamparan marmer. Ada yang salat, mungkin salat Zhuhur. Ada yang membaca di lantai sambil membuka HP ataupun membaca Al-Qur’an. Beberapa rombongan berseragam berjalan ke dalam masjid; banyak yang dari Indonesia, tetapi banyak juga yang lain seperti India, Iran, Mesir, dan sebagainya. Sebagian hanya mengobrol, yang lain banyak yang mengambil foto. Beberapa anak berkejaran di atas marmer yang putih bersih, tampak pula suami istri membawa anaknya di kereta dorong. Memang di Arab Saudi ini, masjid sekaligus merupakan tempat santai membawa keluarga.

Payung Bisa Menaungi Ratusan Ribu Jemaah

payung nabawi

Beberapa orang sengaja duduk di pelataran masjid ini, menanti pertunjukan yang hanya berlangsung beberapa menit setiap hari. Saya juga salah satu di antaranya, menunggu payung di pelataran Masjid Nabawi ini mengembang.

Mata saya mengarah ke deretan tiang tinggi, yaitu payung yang kelopaknya sedang tertutup. Tiang-tiang tampak kokoh menyerupai pohon kurma yang menjulang. Lalu tanpa ada aba-aba, tanpa sirine misalnya, mekanisme payung bekerja serentak. Perlahan bagian atas tiang bergerak, rangka logam mengembang, gerakannya halus tanpa suara. Sedikit demi sedikit kelopak payung warna putih krem terbuka, bak kelopak bunga mekar menyambut mentari yang mulai meninggi.

Hampir serentak, semua payung mengembang dalam hitungan menit. Terasa dengan tiba-tiba seluruh pelataran menjadi teduh. Marmer yang tadinya memantulkan sinar matahari kini diselimuti bayangan. Cahaya matahari masih menerangi halaman masjid, tetapi cahayanya menjadi lembut. Kelopak payung tidak menutup penuh sinar, melainkan menyaringnya hingga terasa teduh. Suasana pelataran menjadi sejuk, sementara angin gurun tetap mengalir di sela-sela kanopi. Banyak jemaah merekam momen ini di smartphone, termasuk saya. Sebagian hanya terdiam, mungkin menikmati perpaduan antara kecanggihan teknologi dan keindahan arsitektur.

Ada 250 payung di seluruh pelataran Masjid Nabawi. Pemasangan seluruh unit ini selesai pada tahun 2010. Ketinggian setiap payung 15 meter, dengan kelopak berbentuk persegi berukuran lebar sisi 25,5 meter. Sehingga satu kelopak terbuka akan menaungi area seluas 625 meter persegi, seolah atap yang menutupi dua lapangan bola voli. Saat seluruh payung terbuka, area halaman masjid yang tertutup seluas 143.000 meter persegi atau seluas 14,5 hektar. Ini lebih luas dari bangunan utama Masjid Nabawi. Jemaah yang sedang salat bisa dinaungi payung ini sejumlah 225.000 orang.

Inspirasi bentuk payung ini dari pohon kurma, tanaman khas Madinah. Saat tertutup, tiang payung tampak seperti batang pohon kurma yang ramping tanpa daun. Saat terbuka, kain kanopi mengembang dan lipatan kain kanopi menyerupai pohon kurma dengan daun-daunnya. Dengan 250 payung mengembang, pelataran kanopi seperti oase raksasa yang menaungi ratusan ribu jemaah di padang pasir yang panas.

Menunggu Magrib di Pelataran Nabawi

menanti maghrib di nabawi

Sore itu menjelang salat Magrib, matahari sudah condong ke barat. Saya berjalan dari hotel ke masjid, sengaja memutar luar pagar masjid agak jauh untuk melihat suasana sekitar masjid. Kemegahan Masjid Madinah memang tetap jadi pusat perhatian dan mendominasi pandangan, tetapi kehidupan kota di sekelilingnya tetap berlangsung. Berjalan di trotoar lebar dan bersih dengan nuansa warna cokelat tanpa gangguan kendaraan bermotor memang menyenangkan.

Terus melangkah, lampu-lampu hias taman yang bergaya klasik berdiri anggun menyesuaikan dengan arah pejalan kaki. Di setiap sudut, jemaah dari berbagai belahan dunia berjalan berdampingan—ada yang sendiri, berdua, atau berombongan. Saya memakai batik, sementara tampak banyak yang memakai jubah putih khas Jazirah Arab, atau busana Asia Tengah seperti Turki dan Uzbekistan. Tak bisa lepas juga dari pandangan, laki-laki dan perempuan yang mengenakan pakaian tradisional Afrika.

Baca juga: Catatan dari Corniche Jeddah: Wajah Baru Kota Pelabuhan dan Sensasi Kemewahan Tepi Laut Merah

Beragam bahasa masuk ke dalam telinga; ada yang bisa ditangkap maksudnya, sebagian tak dimengerti sama sekali. Kehidupan ekonomi Kota Madinah tetap tumbuh dengan tenang. Penziarah yang hadir memang sudah siap menebarkan uang riyalnya. Kios dan toko kecil berjajar menawarkan kurma; ada beragam jenis seperti ajwa, amber, safrawi, dan sebagainya.

Semakin jauh melangkah, suasana makin hidup. Hotel-hotel tingkat tinggi berdiri rapi berdampingan dengan restoran dan kafe di lantai dasarnya. Dari restoran tercium aroma nasi biryani, daging domba panggang, dan kebab yang dagingnya diputar. Jemaah berbagai bangsa berbincang hangat, mungkin saling bercerita pengalaman di Tanah Suci.

Saya berbalik badan, kembali melangkah menuju masjid karena sebenarnya saya sedang berjalan ke masjid untuk ikut salat Magrib.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *