Milenianews.com, Bekasi – Ketika sebagian anak bersiap menuju sekolah dengan berjalan kaki, naik sepeda, atau menunggu kendaraan di depan rumah, anak-anak di kawasan pesisir Desa Pantai Bahagia, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, memiliki cara berbeda untuk memulai hari.
Mereka naik perahu.
Sejak puluhan tahun lalu, perahu telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut. Setiap pagi, perahu bergerak menyusuri perairan untuk menjemput siswa dari sejumlah titik sebelum akhirnya mengantarkan mereka menuju SDN Pantai Bahagia 02.
Bagi masyarakat setempat, pemandangan tersebut bukan sesuatu yang baru. Perahu bahkan telah menjadi bagian dari sistem transportasi siswa sejak era 1990-an.
Berawal dari Gagasan Orang Tua Murid
Taufik Hidayat, guru Pendidikan Agama Islam di SDN Pantai Bahagia 02, mengatakan keberadaan perahu jemputan siswa bermula dari keresahan orang tua murid terhadap keterbatasan akses jalan di kawasan pesisir.
Pada masa itu, sebagian tempat tinggal siswa sulit dijangkau melalui jalur darat. Orang tua bersama komite dan pengurus sekolah kemudian mencari cara agar kondisi tersebut tidak menjadi alasan anak-anak kehilangan kesempatan untuk bersekolah.
“Menurut sejarah, itu tercipta kisaran antara tahun 90-an, di bawah tahun 2000-an. Itu tercipta dari gagasan orang tua murid,” ujar Taufik dalam keterangan rilis yang diterima pada Jumat (21/8).
Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi sistem transportasi yang hingga kini masih digunakan.
“Mereka semua sepakat untuk bekerja sama dengan komite dan pengurus sekolah, bagaimana supaya anak-anak didiknya itu tidak datang terlambat ke sekolah. Kemudian juga dapat mengikuti kegiatan sekolah tanpa ada hambatan,” jelasnya.
Dari sebuah inisiatif orang tua, lahirlah sebuah sarana yang kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan sekolah.
Empat Kali Perahu Berganti
Pada awalnya, sekolah hanya memiliki satu unit perahu dengan kapasitas yang terbatas.
Namun, jumlah siswa terus berkembang. Di sisi lain, perahu yang digunakan juga memiliki usia pakai yang semakin tua.
Kondisi tersebut membuat sekolah harus melakukan pergantian sarana transportasi secara berkala.
Hingga 2026, perahu sekolah telah mengalami pergantian sebanyak empat kali.
“Karena siswanya semakin banyak dan usia perahu juga semakin menua, jadi kita reinkarnasi lagi, ganti baru, ganti baru lagi. Sampai tahun 2026 ini sudah empat kali kami ganti perahu tersebut,” tutur Taufik.
Pergantian tersebut menunjukkan bahwa perahu bukan sekadar fasilitas tambahan bagi sekolah.
Bagi siswa yang tinggal di wilayah dengan akses darat terbatas, keberadaan perahu menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk mendapatkan pendidikan.
Berangkat Saat Hari Belum Ramai
Sistem penjemputan siswa juga membutuhkan pengaturan yang tidak sederhana.
Sekolah memiliki operator yang bertugas mengemudikan perahu sekaligus menjemput siswa dari sejumlah titik atau shelter.
Operator bahkan harus memulai aktivitas sejak sekitar pukul 05.00 WIB dari dermaga atau garasi. Sekitar pukul 06.00 WIB, proses penjemputan siswa mulai dilakukan.
Dari satu shelter ke shelter lainnya, perahu mengangkut siswa hingga seluruh penumpang berada di dalam perahu.
“Di titik awal penjemputan jam 6 pagi. Nanti ada beberapa shelter, pemberhentian kumpulan anak-anak. Shelter satu ada beberapa orang, shelter dua, tiga dan seterusnya. Sehingga diupayakan agar sampai ke tempat sekolah ini tepat di kisaran jam 7 pagi,” kata Taufik.
Jika dilihat dari fungsinya, perahu tersebut sebenarnya bekerja seperti bus sekolah.
Hanya saja, jalan yang dilalui bukan aspal dan bukan pula jalan raya. Jalurnya adalah perairan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pantai Bahagia.
Baca juga: Perahu Jadi Jalan ke Sekolah, Mahasiswa BSI Explore Soroti Akses Pendidikan di Pantai Bahagia
Perjalanan Tak Selalu Mudah
Seperti halnya transportasi di darat, perjalanan menggunakan perahu juga memiliki tantangan.
Operator harus memastikan siswa tertib, mengatur tempat duduk, serta menjaga perjalanan tetap kondusif. Anak-anak yang bertemu dengan teman sebaya terkadang lebih sibuk bercanda daripada memperhatikan kondisi perjalanan.
“Yang jelas banyak pengaduan, di antaranya operator tersebut agak kesulitan untuk mengatur tempat duduk, mengatur kedisiplinan. Banyak yang bercanda, nah ini tantangan kami,” ungkap Taufik.
Cuaca juga menjadi faktor yang tidak dapat dikendalikan.
Ketika hujan turun atau kondisi perairan kurang bersahabat, perjalanan menjadi lebih sulit. Kapasitas dan posisi siswa harus disesuaikan agar perjalanan tetap dapat berlangsung.
“Ketika cuaca tidak mendukung, semisal ada hujan dan lain sebagainya, ini juga merupakan satu tantangan buat kami. Mau tidak mau, anak didik itu agak sedikit berdesakan,” ujarnya.
Namun, berbagai tantangan tersebut tetap dihadapi karena perahu menjadi salah satu akses penting bagi siswa untuk mencapai sekolah.
Sekolah Bukan Hanya Tempat Belajar
Menariknya, keterbatasan akses tidak selalu membuat anak-anak kehilangan semangat untuk bersekolah.
Taufik justru melihat ada alasan lain yang membuat siswa tetap bersemangat datang ke sekolah.
Di wilayah tempat tinggal sebagian siswa, ruang bermain dan ruang interaksi sosial relatif terbatas. Sekolah kemudian menjadi tempat bagi mereka untuk bertemu dengan teman-teman dari berbagai wilayah.
“Di sana itu sarana untuk lingkungan bermain dan lain sebagainya agak sempit. Jadi mereka lebih cenderung ingin berkumpul dengan teman-teman. Kemudian di sini suasananya juga berbeda dengan yang di perairan sana,” kata Taufik.
Lapangan sekolah yang lebih luas serta kesempatan bertemu teman-teman dari berbagai pelosok menjadi pengalaman tersendiri bagi siswa.
Dengan demikian, perjalanan menggunakan perahu bukan hanya tentang pergi menuju ruang kelas.
Ada pertemuan dengan teman, permainan, interaksi, dan pengalaman sosial yang membuat sekolah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Harapan untuk Perahu yang Terus Menjadi Jalan
Setelah puluhan tahun digunakan, keberadaan perahu sekolah masih menjadi kebutuhan bagi siswa Pantai Bahagia.
Taufik berharap kondisi transportasi dan kebutuhan sekolah dapat terus diperhatikan oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan.
Menurutnya, perhatian tidak selalu harus diwujudkan melalui pembangunan besar. Pemantauan terhadap kondisi yang ada dan peremajaan fasilitas transportasi juga menjadi hal penting.
“Kalau saya secara pribadi maupun secara lembaga, kami hanya menginginkan bisa sama-sama saling melihat, memonitor keadaan kita seperti ini. Mudah-mudahan para pemimpin dapat memperhatikan keadaan kebutuhan kami di sini,” harapnya.
Salah satu kebutuhan yang menurut Taufik dapat dipertimbangkan adalah penggantian atau peremajaan sarana transportasi siswa.
“Apakah mungkin ada penggantian alat transportasinya atau mungkin peremajaan dan lain sebagainya? Itu yang kami butuhkan saat-saat sekarang ini,” ujarnya.
Perahu yang Menjaga Jalan Menuju Pendidikan
Puluhan tahun telah berlalu sejak orang tua murid pertama kali menggagas penggunaan perahu sebagai sarana transportasi siswa.
Generasi berganti, perahu beberapa kali diperbarui, tetapi satu hal tetap sama: anak-anak Pantai Bahagia masih membutuhkan jalur air untuk mencapai sekolah.
Kisah tersebut menjadi salah satu realitas pendidikan di wilayah pesisir. Ketika jalan darat belum sepenuhnya dapat menjadi pilihan, masyarakat menciptakan jalannya sendiri.
Di atas perahu, anak-anak berangkat membawa tas dan perlengkapan sekolah. Mereka melewati air sebelum akhirnya tiba di ruang kelas untuk belajar bersama teman-temannya.
Bagi mereka, perahu bukan sekadar alat transportasi.
Perahu telah menjadi jalan menuju pendidikan—jalan yang lahir dari gotong royong orang tua, bertahan selama puluhan tahun, dan hingga kini masih mengantarkan anak-anak Pantai Bahagia mengejar masa depan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













