Berlayar ke Saparua: Menyusuri Tanah Perjuangan Rakyat Maluku dan Bentang Alam yang Lestari

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Pagi-pagi sekali kami sudah tiba di Pelabuhan Tulehu—salah satu simpul transportasi laut terpenting di Maluku yang menjadi gerbang utama menuju Pulau Saparua. Dari dermaga ini, setiap hari kapal cepat hilir mudik menghubungkan Pulau Ambon dengan Pulau Saparua, Haruku, Nusa Laut, dan pulau-pulau sekitarnya. Untuk mencapai Saparua, kami akan menumpang kapal cepat menuju Pelabuhan Haria.

Suasana pelabuhan telah berdenyut sibuk. Deretan kendaraan pengantar bersiap kembali, sementara area parkir mulai dipadati mobil penjemput dan angkutan umum yang mengantre penumpang. Lalu lalang orang mengangkut ransel, koper, kardus, tas, hingga komoditas hasil bumi riuh memenuhi dermaga. Para anak anak kapal (ABK) sibuk melakukan persiapan akhir, sedangkan petugas memeriksa tiket untuk memastikan area ruang tunggu steril dari penumpang tanpa tiket.

Lantaran jadwal keberangkatan kapal menuju Saparua masih satu jam lebih—dan kapal belum bersandar—saya memilih beristirahat di sebuah kios sederhana di pinggir area parkir. Segelas kopi hangat dan piring cempedak goreng menjadi teman setia pagi itu. Uniknya, cempedak goreng di sini diolah utuh bersama bijinya. Biji cempedak tersebut terasa empuk dan lezat saat disantap, berbeda dari cempedak goreng ala Glodok di Jakarta yang umumnya digoreng tanpa biji.

Baca juga: Ambon Manise, Menyusuri Laut, Pasar dan Rasa di Tanah Maluku

Pengumuman panggilan kapal akhirnya berkumandang. Saya bergegas melangkah menuju dermaga. Aroma laut berpadu dengan hembusan angin pagi yang segar menyapa wajah—sebuah atmosfer pesisir yang begitu khas dari negeri kepulauan. Saya mengambil tempat duduk di ruang penumpang bagian depan. Tak lama berselang, peluit panjang berbunyi nyaring, menandai kapal mulai berlayar perlahan meninggalkan Pelabuhan Tulehu menuju Pelabuhan Haria di Saparua.

Menembus Perairan Jalur Rempah yang Legendaris

pelabuhan tulehu

Kapal membelah perairan yang memisahkan Pulau Ambon dengan Pulau Saparua—satu dari gugusan Kepulauan Lease. Kapal melaju kencang, meninggalkan jejak buih putih yang memanjang di permukaan air. Dari balik jendela kaca, angin laut terasa menghempas kuat, menyajikan pemandangan bukit-bukit hijau yang seolah menyatu dengan garis pantai. Sesekali, perahu-perahu nelayan lokal yang tengah memancing atau menebar jaring tampak mengapung, memperlihatkan denyut kehidupan masyarakat pesisir.

Suasana di dalam kapal terasa amat menyenangkan. Kapal cepat penyeberangan ini berukuran lebih kecil dibanding kapal cepat rute Batam–Singapura, terdiri atas dua tingkat ruang penumpang dengan kapasitas sekitar 100 orang. Fasilitasnya cukup terawat, toilet bersih dengan air mengalir lancar, dan tampak sebuah sepeda motor terselip rapi di antara tumpukan barang di gang jalan. Di sudut lain, sekelompok mahasiswa yang baru selesai berkegiatan mulai memetik gitar dan bernyanyi bersama. Lagu-lagu bernuansa Ambon yang dinamis dan merdu memenuhi ruangan.

Cakrawala terbentang luas di balik jendela. Laut biru jernih membiaskan gradasi warna hijau toska di dekat pesisir—tanda kejelasan laut yang masih sangat murni. Selama pelayaran, saya dapat mengamati pulau-pulau di Kepulauan Lease dari kejauhan, seperti Pulau Haruku dan Pulau Nusa Laut. Kapal juga melintasi Pulau Pombo, sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang dikelilingi pasir putih.

Mendekati Saparua, siluet daratan tampak makin jelas. Garis pantainya dihiasi deretan pohon kelapa yang menjulang, memagari pemukiman warga yang menyempil di balik rimbunnya vegetasi tropis. Perkampungan Haria—sebuah permukiman bersejarah yang menjadi tempat bersandar kapal sejak ratusan tahun silam—mulai terlihat di pelupuk mata. Kapal pun memperlambat lajunya.

Air laut di Teluk Haria tampak tenang dan sangat jernih saat kapal mendekati dermaga. Pelabuhan Haria terlihat sederhana namun hidup. Kerumunan keluarga yang menjemput, tukang ojek, pengemudi mobil sewaan, hingga penjaja makanan gerobak telah bersiap di tepi dermaga. Begitu kami melangkah turun, para penyedia jasa angkut menyapa dengan ramah tanpa memaksa, menawarkan bantuan dengan sopan.

Inilah Pulau Saparua—tanah kelahiran Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura, rumah bagi Benteng Duurstede yang bersejarah, serta negeri dengan pantai-pantai alami yang memesona.

Benteng Duurstede: Jejak Perlawanan di Atas Tebing Karang

benteng duurstede

Saya melanjutkan perjalanan menggunakan mobil sewaan jenis Toyota Avanza menyusuri jalan utama Negeri (Desa) Haria. Jalanan beraspal nan teduh ini diapit oleh deretan pohon cengkih, pala, dan kelapa yang rimbun, melewati pemukiman warga yang bersih dan tertata. Mobil kami akhirnya berhenti di depan gerbang yang terawat bertuliskan Duurstede Park.

Benteng Duurstede berdiri megah di atas tebing karang strategis yang menghadap langsung ke Laut Banda. Dari titik tertinggi benteng ini, seluruh lalu lintas kapal yang keluar-masuk Teluk Saparua dapat terpantau dengan sangat jelas. Pada masa lampau, VOC memfungsikan benteng ini sebagai markas pertahanan sekaligus pusat administrasi untuk mengendalikan monopoli perdagangan cengkih internasional.

Di atas gerbang utama, masih terpahat lambang VOC serta ukiran nama Nicolaas Schaghen, Gubernur VOC yang memerintahkan pembangunan benteng ini pada tahun 1690. Nama Duurstede sendiri diserap dari bahasa Belanda yang berarti “kota yang mahal” atau “tempat yang bernilai tinggi”. Struktur gerbangnya terbuat dari himpunan batu karang dan kapur dengan tangga batu yang kokoh.

Berbeda dari benteng-benteng Eropa pada umumnya yang berbentuk segi empat simetris, arsitektur Benteng Duurstede dirancang dinamis mengikuti lekuk kontur tebing karang. Dinding batu setinggi sekitar 3,4 meter mengelilingi benteng, dilengkapi bastion (sudut pertahanan) berbentuk setengah lingkaran di beberapa titik. Di atas bastion ini, meriam-meriam besi asli peninggalan VOC masih bertengger dengan gagah, mengarah tepat ke bentangan laut.

Namun, nilai tertinggi dari Benteng Duurstede tidak terletak pada kekuatan fisik atau arsitekturnya, melainkan pada warisan sejarah perjuangan di dalamnya. Pada tahun 1817, dengan keberanian membara, Kapitan Pattimura bersama rakyat Saparua melancarkan penyerangan ke benteng ini. Pertempuran sengit meletus hingga benteng berhasil direbut dan diduduki oleh rakyat Maluku. Peristiwa bersejarah ini menjadi simbol perlawanan terbesar sekaligus tonggak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kediaman Pattimura: Merawat Api Keberanian Sang Pahlawan

kediaman pattimura

Usai menelusuri benteng, kami mengunjungi rumah kediaman Kapitan Pattimura yang terletak di tengah permukiman warga nan asri. Meski tidak berada tepat di tepi pantai, dari ujung jalan masuk kita masih bisa memandang bentangan laut. Bangunannya tampak bersahaja, bercat warna terang dengan aksen cokelat, dilengkapi teras lapang dan halaman yang teduh. Secara fisik tak jauh berbeda dari rumah-rumah warga sekitar, kecuali keberadaan papan penanda sederhana bertuliskan: Kediaman Thomas Matulessy, Kapitan Pattimura.

Melangkah masuk ke ruang tamu, mata saya disambut deretan foto, dokumen sejarah, dan salinan arsip kolonial yang terpajang rapi di dinding. Lembar-lembar arsip tersebut menceritakan rekam jejak hidup Pattimura, mulai dari masa dinasnya sebagai tentara Inggris hingga kepemimpinannya mengobarkan perlawanan rakyat Maluku melawan penjajah Belanda. Terpajang pula salinan dokumen persidangan berbahasa Belanda yang mencatat pengakuan Thomas Matulessy sebagai kapiten perang, serta kronologi penyerbuan Benteng Duurstede.

Baca juga: Jelajah Tual dan Langgur: Nikmati Keajaiban Pasir Lembut serta Fenomena Pasir Timbul di Kepulauan Kei

Di ruangan lain, sebuah lemari kaca menyimpan pelbagai benda pusaka peninggalan perjuangan. Di dalamnya tersimpan parang perang yang pernah digunakan Pattimura, tombak, pakaian perang, hingga kasut (alas kaki tradisional). Terdapat pula lukisan Kapitan Pattimura versi pecahan uang kertas Rp1.000, bagan silsilah keluarga, serta perabot antik seperti meja berbahan marmer dan kayu yang masih dirawat dengan sangat baik.

Kapitan Pattimura—yang terlahir dengan nama Thomas Matulessy—bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol keberanian, kepemimpinan, dan keteguhan jiwa rakyat Maluku dalam menumbangkan penindasan. Dari Pulau Saparua, warisan semangat perjuangannya terus menyala dan menginspirasi bangsa Indonesia hingga hari ini.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *