Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Saya datang minggu pagi ke Kawasan Merdeka 118, ikon baru ibu kota Malaysia. Ini adalah menara tertinggi nomor dua di dunia, hanya kalah tinggi dengan Burj Khalifa di Dubai. Dari Dataran Merdeka, gedung terlihat menonjol dan jelas karena tingginya 678,9 meter dan terdiri dari 118 lantai. Nama Merdeka dipilih karena lokasinya dekat dengan Dataran Merdeka, tempat bersejarah ketika Malaysia memproklamasikan kemerdekaannya pada 31 Agustus 1957.
Bagi penduduk Malaysia, Merdeka 118 adalah pencapaian arsitektur dan perkotaan modern. Area ini ditata menjadi ruang publik yang saling berhubungan; ada trotoar dan jembatan untuk pejalan kaki, serta taman dan sungai kecil yang ditata dengan apik. Area ini menjadi ruang publik yang menghubungkan sejarah, gaya hidup masa kini, dan kehidupan perkotaan—tempat penduduk berkumpul, terutama di akhir pekan.
Mengikuti Minggu pagi ala car free day (CFD) Jakarta di Kuala Lumpur cukup menyenangkan dan bikin segar. Jalanan lengang karena libur dan beberapa ruas di sekitar lapangan Dataran Merdeka tidak ada kendaraan yang lewat. Banyak penduduk berolahraga pagi, walau tidak sepadat CFD Jakarta. Satu lagi yang membedakannya: CFD di Malaysia tak ada street food, jadi terasa kurang asyik.
Baca juga: Menembus Bukit Kapur Lembah Kinta Demi Segelas Kopi Putih dan Stasiun Tua Ipoh
Jalan Alor Night Street Food: Lebih Seru dari Jalan Sabang

Tapi sebetulnya untuk urusan kuliner, Kuala Lumpur tidak kalah bahkan lebih gegap gempita dibanding Jakarta. Saya pergi ke Jalan Alor, jantung wisata kuliner malam Kuala Lumpur. Jam menunjukkan pukul sembilan malam, hidung diserbu aroma masakan yang menggoda selera, asap mengepul dari panggangan arang, dan suara denting wajan seakan berlomba dengan keriuhan mereka yang makan serta karyawan yang menawarkan makanan.
Jalan ini penuh dengan manusia. Ada banyak sekali gerai makanan, gerobak, kontainer, hingga yang berada di dalam ruko. Bangunan dan restoran di sepanjang jalan membentang meja kursi di halaman sampai ke trotoar secara open air. Sementara pengunjung berdesakan di sepanjang jalan; ada yang berjalan menonton, mencari gerai yang pas, ataupun sedang berbelanja di kios.
Jalan yang panjangnya sekitar setengah kilometer itu padat, tapi semua berjalan apa adanya tanpa terganggu. Jika ingin tetap di lokasi dan menarik napas, duduklah di meja restoran yang tersedia di halaman, pesan makanan, dan lanjut menonton manusia yang sedang kulineran.
Lebih dari seratus penjual makanan Jalan Alor menawarkan beragam hidangan lokal maupun mancanegara, seperti masakan Thai, India, Indonesia, ataupun masakan lokal Melayu dan Peranakan seperti nasi lemak, laksa, char kway teow, pulut durian, dan cendol. Bagi pecinta buah tropis, terlihat penjual nanas, pepaya, manggis, rambutan, dan durian. Kepadatan Jalan Alor mungkin setara dengan area Blok M Square, sementara kepadatan Jalan Sabang Jakarta menurut saya kalah, ditambah lagi kalau malam Jalan Alor dibebaskan dari kendaraan.
Dapur terbuka sehingga juru masak tampil di depan tamu, serta tempat duduk di ruang terbuka, saya lihat sebagai salah satu kekuatan yang membuat orang tertarik datang. Tentunya ditunjang oleh tersedianya pilihan makanan enak dengan harga yang rasional. Harga memang agak tinggi dibanding lokasi normal, tapi tetap harga yang tidak membuat kita merasa kena palak.
Kepak Ayam Bakar dan Crayfish Khas Malaysia

Saya tergoda sayap ayam panggang, ini makanan populer dan dianggap khas Malaysia yang mewakili kuliner sederhana, bukan kuliner eksklusif. Dalam bahasa lokal, menu ini disebut ayam kepak bakar. Banyak penjual sayap ini, saya mampir ke penjual tepi jalan yang memiliki tempat makan di dalam ruangan. Ini tampaknya restoran biasa pada siang hari, tetapi mengeluarkan etalase terbuka dan memindahkan dapurnya ke tepi jalan kalau malam hari.
Kepak ayam yang tersusun di tusukan dan sudah masak berwarna keemasan dipanggang kembali, lalu dipotong dan disajikan di dalam piring. Cita rasa ayam kepak bakar ini gurih, manis, dan sedikit pedas. Ini menu yang berbeda dengan chicken wings ala Amerika yang banyak menggunakan saus barbecue atau ayam panggang Jakarta yang menggunakan olesan kecap sehingga ada sensasi hangus.
Rasa khas Melayu di ayam kepak ini hadir karena perlakuan memasaknya sedikit berbeda. Sayap ayam dimarinasi selama beberapa jam dengan campuran bawang putih, madu, cabai, kecap lokal, dan rempah khas Malaysia. Kalau di Jakarta ayam panggang umumnya diungkep dahulu, di sini langsung dipanggang dengan api kecil, dibolak-balik sambil dioles bumbu sampai cokelat keemasan mengkilap karena keluar karamelnya.
Saya juga tertarik dengan crayfish yang banyak penjualnya. Menjajakan dengan agresif, crayfish yang merah menyala itu disajikan dalam wadah besar dan menantang. Dikenal dengan nama udang karang air tawar, crayfish memiliki capit besar—proporsi capit lebih besar dari udang biasa—dengan tubuh bungkuk yang lebih pendek dan gemuk. Cangkangnya keras berwarna merah-oranye kalau sudah masak, bentuknya sangat mirip lobster tapi berukuran kecil.
Crayfish dimasak di air sedikit yang berbumbu. Ada pilihan rasa butter garlic, salted egg, black pepper, ataupun asam pedas. Menu khas Malaysia untuk crayfish adalah bumbu kam heong, bumbu khas yang memadukan santan, udang kering, dan rempah. Saya diajar untuk menikmatinya: cangkang pada bagian ekor dikupas, lalu daging udang yang manis dan padat diambil untuk dinikmati.
Crayfish di pedagang kaki lima Jakarta belum ada dan belum dikenal; jika ada menu crayfish dijual di Jakarta, itu di restoran, bukan street food. Malaysia memiliki banyak crayfish karena di sana sudah dibudidayakan dalam skala besar, sementara kita di Indonesia belum ada tambak crayfish yang dikembangkan khusus atau tambak crayfish skala besar.
Crayfish yang dijual di Jalan Alor dan juga di banyak restoran Malaysia adalah jenis red claw crayfish, udang air tawar yang berasal dari Australia. Malaysia memang mengembangkan spesies ini sejak tahun 1990 dengan belajar dan mengambil bibit dari Australia. Kini industri tambak crayfish ini sudah berkembang dengan baik, pasar pun sudah terbentuk, serta sudah banyak penduduk dan jutaan wisatawan yang suka menu ini.
Baca juga: Melaka, Kota Persilangan Sejarah dan Budaya Peranakan
Sudah hampir dua jam saya menjelajahi Jalan Alor, termasuk menikmati makanan dan minumannya. Pengunjung Jalan Alor belum berkurang dan masih padat. Saya berjalan kembali ke arah stasiun monorel Bukit Bintang. Ya, saya akan naik monorel seperti tadi saat berangkat menuju Kuala Lumpur Sentral, tempat saya menginap.
Suasana Kemeriahan di Area Bukit Bintang
Keluar Jalan Alor dan masuk Jalan Changkat Bukit Bintang, saya yang berjalan kaki merasa area makin padat. Ini akibat mobil macet dan relatif tidak bergerak, sementara Jalan Alor bebas mobil. Ditambah lagi di simpang tiga ada musik jalanan dengan lagu-lagu dangdut Indonesia, penonton pun berjoget dengan riang. Saya pikir sebagian penjoget laki-laki dan perempuan itu adalah warga Indonesia yang bekerja di Malaysia.
Perjalanan ke stasiun hanya 600 meter, di sepanjang jalan banyak restoran buka dan penjual makanan ramai, tapi tidak sepadat di Alor. Begitu sampai pelataran stasiun monorel, satu lagi grup musik tampil live. Yang ini bukan dangdut, tapi lebih menyasar anak muda kota. Saya ikut menikmati dua lagu dinamis yang enak didengar, beberapa pasangan pun berjoget. Di sini penonton lebih tertib; yang di depan duduk di lantai sehingga petugas yang mengedarkan kotak partisipasi bisa berjalan keliling di antara penonton.
Saya ingin menonton lebih lama, tapi karena sudah berjalan dari pagi, rasa lelah pun datang.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







