Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Saya terpesona. Kota ini telah berubah begitu jauh. Saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2000, saya sempat berkunjung ke sini. Pada tahun 2015 ketika berumrah, saya kembali melangkah di tempat yang sama. Kini, pada tahun 2026, perjalanan saya ke Jeddah menyajikan lanskap yang sama sekali berbeda dari memori masa lalu.
Masjid Terapung—yang memiliki nama resmi Masjid Al-Rahmah—memang masih berdiri anggun di atas tiang-tiang beton di bibir Laut Merah. Saat air laut pasang, bangunan masjid nampak seolah-olah mengapung di atas permukaan air. Keunikan arsitektur inilah yang menjadikannya ikon wisata religi utama di Kota Jeddah.
Dahulu, Masjid Al-Rahmah seakan menjadi destinasi singgah wajib bagi jemaah haji dan umrah dari Indonesia sebelum terbang pulang melalui Bandara Internasional King Abdul Aziz. Di sini, para jemaah menyempatkan diri untuk beribadah, berswafoto, hingga berburu camilan khas Arab seperti pelbagai jenis kacang-kacangan.
Baca juga: Jejak Transformasi Uni Emirat Arab: Dari Padang Pasir Menuju Kemakmuran
Kini, fungsi kawasan di sekitar Masjid Al-Rahmah telah bergeser. Masjidnya memang tetap berdiri kokoh dan melayani jemaah, namun area pesisir Corniche di Laut Merah telah bertransformasi total. Tak ada lagi hamparan lahan parkir luas untuk bus-bus jemaah umrah. Kawasan pantai sepanjang lebih dari lima kilometer ini telah disulap menjadi destinasi wisata bahari kelas atas. Di sekitar sini, kini berdiri sirkuit Formula 1, arena Jeddah Yacht Club, beach club, hingga fasilitas gaya hidup mewah di tepi Laut Merah.
Perubahan ini merupakan bagian dari gelombang transformasi besar-besaran di Arab Saudi. Pada tahun 2016, Pemerintah Arab Saudi merilis Visi 2030 di bawah komando Putera Mahkota Mohammed bin Salman. Inisiatif strategis ini bertujuan mengikis ketergantungan negara pada komoditas minyak bumi sekaligus membangun fondasi ekonomi yang lebih beragam, modern, dan berkemampuan saing global.
Bagi pelancong yang masih menyimpan memori Arab Saudi sebatas tanah suci ibadah, perubahan ini sungguh mengejutkan. Di Makkah dan Madinah, pembenahan fisik memang terasa kian modern, namun atmosfernya tetap terikat kuat pada aktivitas ibadah. Salah satu lompatan besar yang saya rasakan dalam perjalanan umrah kali ini adalah hadirnya Kereta Cepat Haramain. Jalur sepanjang 470 kilometer dari Madinah menuju Makkah yang dulunya memakan waktu hingga lima jam menggunakan bus eksekutif, kini dapat dipangkas drastis menjadi hanya dua jam lebih sedikit.
Marina Jeddah: Wajah Baru Gaya Hidup Tepi Laut

Menjelajahi Kota Jeddah hari ini membuat saya menyaksikan dari dekat bagaimana ambisi pembaruan itu diwujudkan. Area promenade dan marina di tepi laut telah tertata dengan sangat rapi. Pesisir yang dulunya berupa pantai biasa di samping Masjid Terapung kini tampil memukau, tak kalah dari kawasan waterfront ternama di Dubai atau Manhattan, New York. Di sepanjang pesisir ini, wisatawan dapat menginap di hotel bintang lima, menyusuri taman-taman hijau terbuka, hingga bersantap di restoran dan kafe berkelas internasional sembari menikmati lanskap Laut Merah.
Sejatinya, gaya hidup mewah di Arab Saudi—khususnya di Jeddah—bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Sejak melonjaknya pendapatan minyak (petrodollar) pada pertengahan dekade 1970-an, kelompok masyarakat kaya telah bermukim di kota ini dengan koleksi mobil mewah, vila megah, hingga kapal yat pribadi. Hanya saja, dahulu gaya hidup tersebut berlangsung secara tertutup (exclusive). Kini, ruang-ruang kemewahan tersebut dibuka lebar sebagai aset komersial yang dapat dinikmati oleh wisatawan maupun siapa saja yang menginginkannya.
Rekan yang mendampingi saya di Jeddah mengajak mampir ke Jeddah Yacht Club. Terletak di kawasan yang lebih terintegrasi, area eksklusif ini masih menyajikan pemandangan Masjid Al-Rahmah dari kejauhan. Yacht club ini bukan sekadar dermaga tambat kapal pesiar, melainkan sebuah pusat gaya hidup yang menyediakan pelbagai pengalaman dan fasilitas kelas atas.
Bagi pengunjung umum maupun pemegang kartu anggota, terdapat area promenade eksekutif yang dihiasi deretan butik internasional, kafe, dan ruang terbuka. Saat saya berkunjung menjelang sore, suasana mulai semarak oleh pengunjung yang berbelanja, jalan-jalan santai, atau sekadar duduk menikmati pemandangan perahu-perahu yang berlabuh. Sementara untuk area anggota (members-only), tersedia fasilitas yang lebih privat seperti gimnasium, kolam renang, hingga restoran eksklusif.
Dermaga yang membentuk cekungan mirip teluk ini menjadi rumah bagi puluhan kapal yat dan perahu pesiar mewah bernilai jutaan hingga ratusan juta dolar. Klub ini menyediakan layanan maritim lengkap, mulai dari fasilitas tambat, perawatan rutin, pengisian bahan bakar, hingga penyediaan kru profesional dan penyewaan kapal. Jika dibandingkan dengan kawasan Marina Ancol di Jakarta, skala fasilitas dan sarana penunjang di Jeddah Yacht Club berada di tingkatan yang jauh lebih mewah.
Di sini, pengunjung dapat menyewa kapal yat untuk melakoni pelbagai aktivitas bahari, seperti memancing di laut dalam, menikmati matahari terbenam, snorkeling, hingga menyelam di perairan Laut Merah. Tak sedikit pula yang memanfaatkan fasilitas ini untuk menggelar jamuan makan malam privat atau merayakan momen spesial di atas kapal pesiar.
Spanish Latte dan Red Velvet: Perpaduan Rasa di Tepi Marina

Usai menyusuri separuh jalur promenade, perhatian saya terikat pada EL&N London Cafe & Bakery. Berdiri menonjol di atas dermaga kayu, ukuran bangunan kafe ini tampak lebih luas dibanding gerai-gerai sekitarnya. Kafe ini menawarkan dua area: teras terbuka yang menghadap langsung ke dermaga marina serta ruang dalam berpendingin udara yang lapang. Mengingat suhu udara siang itu menembus di atas 35 derajat Celsius, kami memilih duduk di area dalam.
EL&N—yang merupakan singkatan dari Eat, Live, and Nourish—adalah jaringan kafe premium ternama yang berasal dari kawasan Mayfair, London. Interior kafenya dirancang terang dan elegan dengan dominasi warna merah muda yang instagrammable, dihiasi ornamen bunga dekoratif serta pencahayaan yang artistik. Melalui dinding kaca kafenya yang lebar, para tamu tetap dapat menikmati pemandangan kapal-kapal yat di luar sembari berlindung dari cuaca panas.
Baca juga: Tashkent, Kota Tua Islam yang Bangkit Lagi dari Warisan Jalur Sutra ke Wajah Modern Uzbekistan
Untuk menemui waktu santai sore, saya memesan Spanish Latte—salah satu menu minuman terfavorit di sini—serta sepotong Red Velvet Cake sebagai pendamping. Porsi Red Velvet Cake yang disajikan terbilang royal; tiga lapis sponge cake berwarna merah marun tampil anggun dengan ukuran sekitar satu setengah kali lebih besar dibanding porsi standar kafe di Jakarta. Rona merah kecokelatan dari adonan kuenya berpadu harmonis dengan lapisan cream cheese di setiap selanya.
Saat disendok, tekstur kuenya terasa begitu lembut dan ringan. Rasa gurih dan sedikit asam dari cream cheese secara pas menyeimbangkan manisnya adonan cokelat, meleleh dengan sempurna di dalam mulut. Dipadukan dengan Spanish Latte yang gurih, creamy, dan beraroma karamel halus, sajian sore itu menghadirkan kombinasi rasa yang saling melengkapi.
Sore itu di Jeddah memberikan perspektif baru tentang cara menikmati Arab Saudi. Sembari meminum Spanish Latte dan menikmati sepotong red velvet, mata saya menatap deretan kapal yat mewah yang tertambat tenang di permukaan Laut Merah. Momen ini menyadarkan saya bahwa berkunjung ke Arab Saudi hari ini tak lagi semata-mata tentang perjalanan ibadah, melainkan juga tentang eksplorasi wisata—termasuk menikmati kemewahan di tepi lautnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







