Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Pernah kenal camilan yang bernama sala lauak? Itu makanan berwarna kuning kunyit berbentuk bulat lalu digoreng. Camilan ini berasal dari Pariaman, kota pesisir di Sumatera Barat. Nama sala dari bahasa Minang merujuk pada kudapan yang berbentuk bulat, sementara lauak berarti ikan. Jadi, sala lauak merupakan camilan dari adonan ikan.
Sala lauak bahan dasarnya tepung beras dan ikan laut. Adonan sala lauak dibuat dari tepung beras halus dicampur dengan tepung ikan atau ikan giling. Umumnya dari jenis ikan teri, lalu ditambah bawang, kunyit, cabai, dan rempah sesuai minat. Adonan dibentuk bulat sebesar bola pingpong, lalu digoreng.
Pada awalnya, camilan ini merupakan makanan bekal nelayan yang akan melaut karena awet dibawa melaut, mudah dibuat, dan mengenyangkan. Dalam perkembangannya, makanan nelayan ini dijadikan teman makan nasi. Makin banyak penggemar, makanan ini masuk ke menu warung padang dan jadi populer di Sumatera Barat lalu se-Indonesia.
Baca juga: Melaka, Kota Persilangan Sejarah dan Budaya Peranakan
Saya sedang di Kota Pariaman, ini adalah kota asal sala lauak. Katanya, untuk menikmati sala lauak dengan cita rasa otentik harus di kota ini. Lebih khusus lagi menikmatinya di Pantai Gandoriah Pariaman. Pantai di tengah kota, tempat wisata sekaligus tempat kulineran yang menarik.
Tapi Pariaman tidak hanya sala lauak. Kota Pariaman, kota di pesisir barat Pulau Sumatera, berjarak 60 km dari Kota Padang, perjalanan satu jam kalau memakai mobil. Ya, Pariaman kota tepi pantai, menghadap Samudera Indonesia. Karenanya, salah satu daya tarik Pariaman adalah wisata bahari pantai yang indah. Di samping wisata budaya, kota ini masih memegang budaya Minangkabau yang kuat serta melestarikan tradisi keagamaan dan adat.
Pesona Pantai Pariaman yang Menghadap Samudera Hindia

Pariaman kota di tepi pantai dan ada pantai wisatanya di tengah kota. Pantai Pariaman merupakan salah satu pesona di pesisir barat Sumatera. Pantai membentang menghadap birunya laut Samudera Hindia. Pantai tempat nelayan dan masyarakat pesisir mencari nafkah. Tetapi dulu pantai ini juga merupakan jalur perdagangan. Ketika angkutan darat dan udara belum berkembang, pantai ini berhubungan dengan berbagai wilayah Nusantara, dan juga ke Timur Tengah, India, dan Eropa.
Kini Pantai Pariaman berkembang jadi tempat wisata dan kulineran. Pantai ini memadukan keindahan alam, budaya, dan jejak sejarah. Pantainya panjang, ombak samudera menjadi latar yang memukau, terlebih saat matahari terbenam ketika langit berwarna jingga keemasan. Pepohonan cemara yang rindang masih terjaga baik, membuat pengunjung nyaman berjalan di pasir yang teduh sambil merasakan semilir angin laut.
Pantai Gandoriah adalah pusat aktivitas dan wisata pantai di Pariaman. Di area pantai ada sarana yang dibangun pemerintah: tempat duduk, toilet, lahan parkir, dan tentunya area komersial yang berupa kios-kios ataupun gerai terbuka dengan bangku-bangku tertata. Di sini tersedia makanan khas Pariaman juga penangkal lapar lainnya.
Sebutan Gandoriah berasal dari legenda Minangkabau tentang gadis cantik bernama Gandoriah. Kisah legenda yang menjadi bagian warisan budaya masyarakat Pariaman. Masih dikenang hingga kini, antara lain dari nama pantai kebanggaan kota ini. Bagi yang ingin, dari pantai ini juga jadi pintu gerbang menuju Pulau Angso Duo. Tersedia dermaga kecil di pantai, wisatawan bisa menyeberang dalam waktu sekitar 10 hingga 15 menit, tidak jauh. Di pulau ini bisa menikmati pantai pasir putih dan air laut yang jernih dalam suasana tidak ramai.
Di Pantai Pariaman setiap awal bulan Muharam ada Festival Tabuik. Festival ini menampilkan replika tabuik berukuran besar. Replika diusung dan diarak keliling sebelum dibawa ke pantai. Setelah itu, tabuik dilarung ke laut sebagai simbol dan doa membuang kealpaan yang telah dilakukan dan berharap dapat keberkahan di masa depan.
Kereta Api Binuang, Jejak Sejarah Kereta Api di Sumatera Barat

Kota Pariaman punya stasiun kereta api, bagian dari kereta api lokal Sumatera Barat. Kereta api ini menghubungkan Kota Padang dengan Kota Pariaman. Kehadiran kereta ini bagian dari sejarah panjang pembangunan kereta api di Sumatera Barat sejak akhir abad ke-19. Kereta yang awalnya dibangun untuk mengangkut hasil bumi pada masa itu, khususnya kopi.
Saya sudah duduk manis di kereta yang bersih di Stasiun Padang, ini salah satu stasiun tertua di Sumatera Barat. Ketika peluit berbunyi, kereta perlahan meninggalkan stasiun yang telah menjadi bagian dari sejarah perkeretaapian kolonial ini. Perjalanan dimulai, menyusuri pesisir barat Pulau Sumatera.
Namanya Kereta Api Binuang, melewati dengan tenang kawasan perkotaan Padang, banyak deretan ruko bertingkat tapi tidak banyak gedung tinggi. Dari perkotaan masuk pedesaan tepi kota, selanjutnya pemandangan berganti menjadi hamparan persawahan. Rumah atap bergonjong, atap khas Minangkabau, tampak di kejauhan, tampak indah berpadu dengan latar Pegunungan Bukit Barisan yang menjulang megah.
Semakin jauh, suasana semakin alami. Kebun kelapa, rumah desa, sungai-sungai kecil, perkampungan tradisional berganti-ganti menghiasi jendela kereta. Sesekali garis rel berada tidak jauh dari laut mengikuti alur pantai. Sungguh mempesona, Samudera Hindia terlihat langsung dari jendela kereta. Deburan ombak terlihat nyata, pemandangan yang jarang ditemukan pada perjalanan kereta api di Indonesia.
Menikmati perjalanan Kereta Api Binuang bukan hanya alat transportasi, tetapi juga sebagai perjalanan wisata yang menyajikan keindahan alam, kehidupan masyarakat pesisir, dan melihat lebih banyak budaya masyarakat Minangkabau. Sampai kereta masuk Kota Pariaman, kota yang tenang, dekat dengan laut. Turun di stasiun, Pantai Gandoriah bisa dicapai dengan berjalan kaki.
Menikmati Buah Nipah
Nipah itu sejenis pohon palma, keluarganya pohon kelapa. Banyak tumbuh di kawasan hutan mangrove, pesisir pantai, serta muara sungai. Indonesia merupakan tempat tumbuh nipah yang subur dan nipah banyak tumbuh di kawasan pantai Pariaman. Makanya buah nipah juga menjadi bagian dari pangan tradisional masyarakat pesisir Pariaman.
Dari pohon nipah, cairan pohonnya disebut nira dapat diubah menjadi gula merah dan cuka atau minuman tradisional termasuk minuman yang beralkohol. Buah nipah yang masih muda memiliki daging buah berwarna putih bening, teksturnya kenyal dan berair. Rasanya sedikit manis dan lembut, sehingga sering disamakan dengan kolang-kaling dan kelapa muda, tetapi lebih halus.
Baca juga: Penjaga Warisan Melayu di Kampung Gelam dan Jejak Gurih Nasi Padang Singapura
Di kawasan Pariaman, buah nipah dapat ditemukan secara musiman. Pada saat musim buah nipah, makanan berbahan baku nipah akan mudah ditemui. Buah nipah bisa menjadi beberapa jenis makanan, bisa dimakan langsung setelah kulit kerasnya dibuka, menjadi bahan utama atau bahan campuran minuman es campur dan es buah, dimanfaatkan untuk bahan puding di jus, serta buah nipah bisa juga menjadi kolak serta menu penutup tradisional.
Usai berkunjung ke Pariaman, saya pulang ke Padang naik bus, tidak naik kereta api. Sepanjang jalan keluar dari Kota Pariaman banyak kios yang menjajakan makanan seperti sala lauak, kerupuk udang, emping balado, dan rempeyek ikan.
Saya tidak mampir di kios, saya berhenti di penjual buah nipah dan es campur buah nipah. Semangkuk es campur bikin lebih semangat.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








