Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Ini Hong Kong, kota yang bergerak cepat. Begitu keluar dari stasiun MTR, subway Hong Kong, perhatian segera tertuju pada gedung-gedung tinggi yang berdiri rapat, jalan dipenuhi kendaraan, serta arus pejalan kaki yang seolah tak pernah putus. Ruang kota memang tidak besar, tetapi dimanfaatkan secara sangat intensif dan efisien.
Selain deretan gedung tinggi dan perkotaan yang mengkilap, kesan modern Hong Kong dapat dilihat dari sistem transportasinya. MTR menjadi moda utama mobilitas kota. Kereta datang silih berganti, dan stasiun dari semua sudut terhubung dengan pusat perbelanjaan serta kawasan perkantoran. Dentang trem yang membelah kota masih terus berjalan melayani penduduk lebih dari satu abad. Ada juga bus kota dengan berbagai ukuran, serta taksi yang mudah ditemui dan terbilang murah dibandingkan dengan kota metropolitan lainnya.
Kawasan seperti Causeway Bay, Central, dan Admiralty adalah pusat kota yang mewakili Hong Kong sebagai metropolitan dunia. Menara perkantoran dan apartemen berdiri berdampingan dengan hotel, pusat perbelanjaan, serta restoran. Papan nama merek global ataupun lokal dan kerumunan manusia menciptakan Hong Kong sebagai kota besar yang dinamis.
Baca juga: Lamma Island, Pulau Kecil dengan Wajah Lain Hongkong
Hutan beton dan gedung-gedung tinggi Hong Kong menyiasati lahan yang terbatas dengan mengembangkan kota secara vertikal. Rumah tinggal, kantor, dan area komersial diusahakan tumbuh ke atas. Di antara gedung yang tumbuh vertikal tersebut, jika diamati, terdapat taman, pasar, kawasan hunian lama, kuil, pusat jajan, restoran kecil, dan gang-gang perkotaan. Ketika blusukan di kawasan Central pada pagi hari, saya banyak menemui ruang kehidupan sehari-hari yang sederhana.
Oase Hijau dan Titik Kumpul Pekerja Migran

Di Causeway Bay ada Victoria Park, taman luas berukuran sekitar 19,3 hektare—kira-kira empat kali luas Taman Bendera Pusaka di Blok M. Taman yang sudah ada sejak tahun 1957 ini memiliki banyak fasilitas, seperti lapangan sepak bola, basket, tenis, kolam renang, arena bowling, jalur jogging, serta taman bermain. Selain itu, taman ini tetap memiliki halaman rumput terbuka yang luas dan sejuk.
Victoria Park merupakan ruang terbuka hijau penting yang menjadi oase di tengah kepadatan pusat kota Hong Kong. Di lapangan luas ini, warga berolahraga, berjalan santai, beristirahat, dan menikmati suasana kota. Ruang lapang hijau ini tersedia untuk masyarakat dengan dikelilingi gedung perkantoran tinggi, hotel, dan pusat perbelanjaan. Moda transportasi yang lengkap juga tersedia di sini, sebagian bahkan melayani selama 24 jam, sehingga Victoria Park menjadi bagian penting untuk aktivitas warga.
Di balik kemilau metropolitan, kita bisa melihat banyak wajah Indonesia. Kehadirannya terasa di stasiun, di dalam bus, di kerumunan yang menunggu lampu merah, pusat perbelanjaan, pasar basah, hingga di masjid. Ketika hari Minggu tiba, wajah-wajah Indonesia ini mendominasi Victoria Park. Taman ini memang menjadi salah satu tempat favorit pekerja migran di Hong Kong untuk berkumpul. Umumnya mereka adalah pekerja migran wanita, tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari Filipina, Myanmar, dan lain-lain. Karena mayoritas pekerja migran wanita di Hong Kong berasal dari Indonesia, wajah-wajah Indonesialah yang mendominasi Victoria Park pada hari Minggu.
Melepas Lelah, Bersosialisasi, dan Mengobati Rindu
Dari berbagai penjuru Hong Kong, para pekerja Indonesia berkumpul di Victoria Park. Mereka datang menggunakan MTR, bus, atau berjalan kaki. Pekerja rumah tangga migran dari Indonesia memang banyak yang menentukan tempat berkumpul mereka di Victoria Park pada hari Minggu karena itu merupakan hari libur mereka. Taman ini telah lama menjadi salah satu titik berkumpul terbesar bagi komunitas pekerja migran di Hong Kong.
Beberapa sumber mengatakan bahwa Victoria Park mulai menjadi tempat berkumpul sejak awal 1990-an. Jumlah yang berkumpul makin ramai hingga saat ini, dan aktivitasnya pun berkembang. Dari yang awalnya hanya berkumpul dan makan-makan, kini sebagian dari mereka telah melakukan berbagai kegiatan lain yang terorganisasi.
Pekerjaan sebagai pekerja rumah tangga berlangsung di ruang privat dengan waktu yang tersita oleh pekerjaan dan sosialisasi yang terbatas. Victoria Park menjadi tempat berkumpul, melepas lelah, serta mengobati rindu akan kampung halaman. Di sini mereka bisa berbahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, atau Sasak. Di sini mereka juga bisa berbagi pengalaman, bahkan mencari tempat kerja baru.
Hari libur merupakan kesempatan untuk melepas rutinitas: berjalan-jalan, berbelanja, duduk bersama, bersenda gurau, serta makan bersama di ruang publik. Seiring berjalannya waktu, berbagai komunitas berkembang menjadi lebih mapan dengan anggota tetap. Selanjutnya, terjadilah pertemuan yang lebih terstruktur dan terarah. Ada yang berkumpul untuk belajar gitar, menyanyi, mengadakan kegiatan sosial, mengaji, hingga memikirkan kampung halaman dan masa depan setelah usai bekerja di Hong Kong.
Menjalin Jejaring dan Dinamika Komunitas
Ada pertemuan, tentu ada makan-makan. Berbagai makanan Indonesia dengan mudah dapat ditemui di sekitar komunitas pekerja migran. Taman menjadi tempat makan bersama, berbagi menu yang dibawa, serta bertukar resep dan teknik memasak. Sebagian dari mereka tentu membawa menu dari kampung yang sulit ditemukan di Hong Kong untuk melepas rindu akan masakan kampung halaman. Kelanjutannya, walau dilarang, secara tertutup terjadi pula proses jual beli makanan dan barang lainnya.
Di taman ini, mereka juga bisa memperluas jaringan dan berkenalan dengan teman sedaerah—sesama dari Jawa Tengah, misalnya—serta teman-teman Indonesia dari daerah lain. Walaupun terbanyak berasal dari Jawa, hampir semua daerah di Indonesia memiliki penduduk yang merantau ke Hong Kong. Selanjutnya, karena pekerja asing di Hong Kong tidak hanya berasal dari Indonesia, interaksi ini bisa berkembang menjadi pergaulan internasional dan sarana belajar bahasa asing. Pekerja migran di sini ada yang berasal dari Filipina, Thailand, Myanmar, Pakistan, Bangladesh, dan negara lainnya.
Bagi saya yang berstatus wisatawan, hadir di taman ini pada hari Minggu sungguh menarik. Saya bisa melihat bangsa sendiri di negeri orang dalam jumlah yang sangat banyak, bahkan mendominasi sudut-sudut Victoria Park—tempat yang hanya terdengar bahasa Indonesia, bahasa Jawa, atau bahasa Sunda. Di sinilah tempat para pekerja mengekspresikan diri mereka apa adanya sesuai standar Hong Kong tanpa batasan-batasan seperti di Indonesia. Sebagian tentu bernilai positif dan sesuai dengan norma kita, tetapi hal-hal yang di luar standar kampung di Indonesia pun ada.
Baca juga: Menyusuri Jejak Sejarah Taiwan di Chiang Kai-shek Memorial Hall
Pendampingan dan Pemberdayaan oleh Dompet Dhuafa

Saya juga berkunjung ke DD (Dompet Dhuafa), sebuah lembaga sosial Indonesia yang sudah hadir di Hong Kong sejak tahun 1999. Awalnya mereka diundang oleh organisasi Islam setempat. Kerja sama tersebut terus meningkat karena DD melihat kebutuhan pekerja migran Indonesia. Sejak tahun 2005, DD telah memperoleh izin beraktivitas penuh di Hong Kong melalui Dompet Dhuafa Association Limited. Dompet Dhuafa hanyalah salah satu lembaga sosial yang mendukung dan mendampingi aktivitas pekerja migran di Hong Kong.
Awalnya, kegiatan DD hanya berfokus pada dakwah dan keagamaan, seperti Klinik Al-Qur’an, kajian, konsultasi, dan pembinaan komunitas. Namun, aktivitasnya berkembang menjadi lebih luas sesuai kebutuhan dan kemampuan. Kegiatan DD saat ini meliputi pendampingan sosial, masalah kesehatan, serta advokasi untuk menyelesaikan masalah sosial, hukum, maupun kesehatan yang dialami para pekerja.
Selain itu, terdapat pelatihan keterampilan untuk membekali pekerja migran dengan kemampuan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemandirian, termasuk membantu mendapatkan ijazah Paket C hingga kesempatan kuliah di perguruan tinggi. Ada pula program kewirausahaan Migran Go Home yang memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan berbisnis usaha kecil untuk dimanfaatkan setelah kembali ke Indonesia.
DD mempersiapkan para pekerja migran untuk masa depan setelah selesai bekerja di Hong Kong. Pengalaman bekerja di luar negeri diharapkan tidak hanya menaikkan taraf hidup keluarga, tetapi juga menjadi modal pengetahuan untuk membangun kemandirian setelah pulang—bahkan, harapannya, bisa menjadi cahaya yang menerangi lingkungan sekitar.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.












