Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Rombongan kami tiba di kawasan Harvard Square—sebuah area publik sekaligus pusat aktivitas komersial di Kota Cambridge, Massachusetts, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari lingkungan Harvard University. Jalanan di sekitar kampus dipenuhi mahasiswa, pejalan kaki, dan pengunjung. Tidak semuanya mahasiswa; sebagian dari mereka adalah wisatawan seperti saya.
Di Harvard Square berdiri toko buku, kafe, toko pakaian, serta beragam fasilitas komersial kota. Mahasiswa membawa tas dan laptop, pesepeda melintas anggun, dan beberapa remaja putri tampak menikmati es krim. Wisatawan sibuk mengabadikan momen di kawasan ini. Berbeda dengan beberapa kampus lain di Amerika Serikat yang cenderung tertutup, Kampus Harvard sangat terbuka dan menyatu dengan dinamika kehidupan kota harian.
Di sini terdapat Johnson Gate, salah satu gerbang utama menuju area Harvard Yard. Begitu melangkahi gerbang ini, suasana seketika berubah. Langkah wisata saya serasa beralih menjadi perjalanan menyusuri lorong sejarah.
Baca juga: Road Trip New York ke Washington DC, Menyusuri Jejak Sejarah Amerika
Bangunan-bangunan tua, hamparan halaman hijau, pepohonan rindang, serta jalan setapak menyambut dengan kehangatan yang berwibawa. Arsitektur bangunannya tampak bersahaja tanpa ornamen berlebihan. Kesederhanaan arsitektur dan usia bangunan yang matang membuat Harvard Yard terasa menyimpan ribuan kisah. Perjalanan kali ini terasa jauh lebih bermakna daripada sekadar agenda wisata biasa.
Harvard University didirikan pada tahun 1636—jauh sebelum Amerika Serikat lahir sebagai sebuah negara. Institusi ini telah menyaksikan sekaligus terlibat langsung dalam perjalanan panjang sejarah bangsa. Melintasi kurun waktu hampir empat abad, dunia telah berubah berkali-kali. Generasi datang dan pergi, teknologi berkembang pesat, dan dinamika sosial-politik terus bergulir.
Dari Massachusetts Hall Hingga Kemegahan Widener Library

Di dalam area Harvard Yard, keberadaan Massachusetts Hall langsung mencuri perhatian. Bangunan ini didirikan pada tahun 1725, sebelum Proklamasi Kemerdekaan Amerika Serikat pada 1776. Bangunan berbahan bata merah ini tampil simetris dengan jajaran jendela putih, atap abu-abu berornamen dormer, serta cerobong asap yang menjulang. Kesederhanaan strukturnya justru memancarkan karakter kolonial yang kuat.
Sebagai bangunan tertua di Harvard yang masih berdiri tegak, Massachusetts Hall kini difungsikan sebagai Kantor Presiden Harvard (Rektor). Ketika selesai dibangun pada 1725, gedung ini sempat difungsikan sebagai asrama mahasiswa, ruang kuliah, hingga laboratorium. Pada masa Revolusi Amerika tahun 1775, sebanyak 640 prajurit tentara pernah ditempatkan di sini, sementara aktivitas mahasiswa dipindahkan sementara ke lokasi lain.
Di tengah Harvard Yard berdiri pula Memorial Church of Harvard University dengan gaya arsitektur Georgian Revival yang kokoh dan simetris. Deretan kolom, fasad berwarna terang, serta menara spire yang menjulang menjadikan puncaknya sebagai penanda visual tertinggi di area Harvard Yard.
Tak jauh dari sana, berdiri gedung megah beraksen neoklasik dengan deretan kolom tinggi, tangga lebar, dan dinding batu monumental: Widener Library. Berbeda dari bangunan bata merah di sekitarnya, gedung perpustakaan ikonik ini tampak menyerupai museum atau gedung parlemen. Tangga lebarnya mengarahkan pengunjung menuju pintu masuk utama, menciptakan latar visual yang sangat anggun.
Resmi difungsikan pada tahun 1915 sebagai bagian dari Harvard College Library, nama perpustakaan ini diambil dari Harry Elkins Widener—alumnus Harvard yang wafat dalam tragedi kapal Titanic pada 1912. Ibunya mendonasikan dana pembangunan gedung ini untuk mengenang sang putra. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan narasi kasih sayang seorang ibu, dedikasi pendidikan, serta memori akan sebuah kehilangan. Kini Widener Library menyimpan koleksi riset berskala raksasa yang diakses oleh para akademisi dari seluruh dunia.
Menjelajahi Patung John Harvard dan Toko Buku Harvard Book Store

Rombongan akhirnya tiba di titik yang paling diminati wisatawan: Patung John Harvard. Kamera dan ponsel seketika terangkat untuk mengabadikan mahakarya perunggu garapan pematung kenamaan Daniel Chester French tersebut. Tampak sosok John Harvard duduk tenang menatap kawasan kampus.
John Harvard memiliki peranan vital dalam sejarah awal universitas. Beliau adalah seorang pendeta yang menjadi penyumbang utama berdirinya Harvard College. Saat wafat pada 1638, ia mewariskan separuh hartanya beserta 320 koleksi buku kepada institusi yang kala itu baru berusia dua tahun. Warisan buku tersebut menjadi pondasi awal koleksi Harvard College Library.
Banyak pengunjung tampak menggosok sepatu kiri patung John Harvard. Ada mitos populer bahwa menyentuh bagian sepatu tersebut akan membawa keberuntungan dalam studi—sebuah tradisi unik penyeimbang suasana akademis.
Baca juga: Traveling ke Luar Negeri Tanpa Jet Lag, Coba 5 Cara Ini
Usai berfoto, kami melangkah kembali ke arah Harvard Square menuju Harvard Book Store. Toko buku independen ini menyajikan deretan karya akademisi, penulis, dan pemikir kelas dunia. Berada di dalam toko buku ini membuat saya tertegun sejenak—membuka lembaran halaman, membaca pengantar, serta mencermati catatan kritis di sampul belakang.
Meskipun secara kelembagaan independen dari universitas, atmosfer Harvard Book Store memperlihatkan keterikatan erat dengan tradisi intelektual Harvard. Di sinilah ruang perdebatan gagasan dan hasil penelitian dunia bermuara menjadi karya cetak.
Mengunjungi Harvard University memperlihatkan bahwa di balik gerbang megah dan hamparan halaman hijaunya, terdapat tradisi panjang dalam membaca, meneliti, serta mengembangkan gagasan pemikiran. Saya keluar dari toko buku dengan membawa dua kantong belanjaan—sebuah simbol bahwa kunjungan ke Harvard kini tidak sekadar untuk dipandangi, melainkan untuk dibaca dan dihayati.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.











