News  

Dari Antariksa ke Persoalan Bumi, Wahyudi Hasbi Dorong Generasi Muda Padukan AI dan Teknologi Satelit

Milenianews.com, Bekasi – Dari atas sana, satelit mungkin hanya terlihat sebagai benda kecil yang mengorbit bumi. Namun dari teknologi itulah manusia bisa membaca perubahan lingkungan, memantau bencana, mengamati kapal hingga membantu memahami kondisi lahan yang sulit dijangkau secara langsung.

Gagasan tersebut mengemuka dalam keynote speech Dr. Wahyudi Hasbi, Chair IEEE Indonesia AES/GRSS Joint Chapter sekaligus Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Grand Finale YESIST12 2026 Indonesia di BSI Convention Center, Bekasi, Sabtu (3/10).

Dalam gelaran yang dihosting Universitas Nusa Mandiri (UNM) tersebut, Wahyudi mengajak generasi muda melihat teknologi antariksa bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan sebagai alat untuk menjawab persoalan di bumi.

Baca juga: Di YESIST12 2026, Rushali Thakkar Ajak Mahasiswa Bawa Teknologi Keluar dari Kampus untuk Layani Masyarakat

Mengangkat tema Age of Innovation: From Space to Society – Earth Observation, AI, and the Next Generation of Innovation, Wahyudi menjelaskan bagaimana teknologi Earth Observation, satelit, penginderaan jauh, dan kecerdasan buatan (AI) mulai bertemu dalam satu ekosistem inovasi.

Satelit Membaca Hal yang Sulit Dilihat Mata

Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah remote sensing atau penginderaan jauh. Dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik, termasuk radar dan microwave, teknologi ini memungkinkan pengamatan berbagai fenomena alam yang tidak selalu dapat dilihat secara langsung dari permukaan bumi.

Menurut Wahyudi, kemampuan tersebut memiliki manfaat sosial yang cukup luas, terutama ketika teknologi digunakan untuk memahami perubahan lingkungan dan mengantisipasi potensi bencana.

“Satelit pengamat bumi dan sensor
microwave memiliki keunggulan dalam menembus awan dan hujan. Hal ini memungkinkannya memantau struktur badai, memetakan kelembapan tanah, perubahan permukaan bumi (subsidence), hingga mendeteksi potensi bencana alam secara presisi,” ujar Wahyudi, Sabtu (3/10).

Data dari teknologi pengamatan bumi tersebut dapat digunakan untuk memantau siklus lingkungan dan kondisi atmosfer hingga menghasilkan informasi prediktif yang dapat mendukung respons terhadap berbagai fenomena alam.

Bagi negara seperti Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas dan menghadapi beragam risiko bencana, kemampuan untuk memperoleh informasi dari jarak jauh menjadi bagian penting dalam pengelolaan data kebumian.

Perjalanan Satelit Indonesia Tidak Dimulai Hari Ini

Pemanfaatan teknologi antariksa di Indonesia juga bukan cerita yang baru dimulai. Wahyudi memaparkan sejumlah tonggak perkembangan satelit nasional yang menunjukkan bagaimana kemampuan tersebut dibangun secara bertahap.

Perjalanan itu antara lain dimulai melalui LAPAN-TUBSAT atau LAPAN-A1 pada 2007 sebagai satelit demonstrasi teknologi berbasis learning-by-doing. Kemudian hadir LAPAN-A2/ORARI pada 2015 dan LAPAN-A3/IPB pada 2016 yang mulai dimanfaatkan untuk kebutuhan seperti pemantauan kapal melalui Automatic Identification System (AIS), analisis pertanian, hingga komunikasi darurat.

Perkembangan berikutnya turut melibatkan lingkungan akademik melalui satelit mikro seperti SS-1 dan RIDU-Sat 1. RIDU-Sat 1, misalnya, diluncurkan pada 23 Juni 2025 menggunakan roket SpaceX Falcon 9.

Sementara itu, pengembangan generasi NEO-1 pada 2026 dan seterusnya diarahkan sebagai bagian dari keberlanjutan kapasitas pengamatan bumi nasional.

Menurut Wahyudi, berbagai teknologi tersebut telah memiliki rekam pemanfaatan dalam konteks kebencanaan, termasuk untuk memantau longsor Gunung Rinjani, erupsi Gunung Anak Krakatau, likuifaksi Palu, hingga kebakaran hutan.

Artinya, teknologi yang berada ratusan kilometer di atas permukaan bumi pada akhirnya kembali berbicara tentang persoalan yang terjadi di permukaan. Data dari antariksa baru memiliki arti ketika mampu membantu manusia memahami dan merespons apa yang terjadi di bumi.

Ketika Satelit Tidak Lagi Sekadar Mengirim Data

Persoalan berikutnya muncul ketika jumlah satelit dan volume data yang dihasilkan terus bertambah. Wahyudi menjelaskan, sistem pengolahan tradisional yang mengandalkan pengiriman seluruh data menuju stasiun bumi menghadapi tantangan berupa keterbatasan bandwidth dan waktu pemrosesan.

Di sinilah konsep Space Computing mulai memainkan peran. Alih-alih seluruh data dikirim terlebih dahulu ke bumi untuk diproses, sebagian pemrosesan dapat dilakukan langsung di dalam satelit menggunakan komputasi seperti FPGA, CPU, atau GPU.

Teknologi tersebut kemudian dapat dipadukan dengan algoritma AI dan Machine Learning. Satelit tidak hanya mengambil gambar atau mengumpulkan data, tetapi juga dapat melakukan analisis awal secara otomatis sebelum informasi dikirimkan ke bumi.

Salah satu contohnya adalah deteksi objek seperti kapal beserta jejak gelombangnya (vessel and wake detection). Dengan pemrosesan di antariksa, informasi yang dianggap relevan dapat diidentifikasi lebih cepat sehingga tidak seluruh data mentah harus dikirim ke stasiun bumi.

Perubahan ini menunjukkan bahwa masa depan teknologi satelit bukan semata soal siapa yang mampu mengirim perangkat ke orbit. Tantangannya juga bergeser pada bagaimana manusia mampu mengolah data dalam jumlah besar menjadi informasi yang bisa digunakan.

Inovasi dari Antariksa, Dampaknya Tetap di Bumi

Bagi generasi muda yang hadir dalam YESIST12 2026, Wahyudi melihat ruang inovasi tersebut masih terbuka lebar. Melalui IEEE Geoscience and Remote Sensing Society (GRSS), mahasiswa dan masyarakat ilmiah dapat terhubung dengan komunitas global, mengikuti program edukasi, kompetisi Grand Challenge, hingga mengakses ekosistem publikasi ilmiah.

Baca juga: IEEE YESIST12 2026 Dorong Anak Muda Ciptakan Teknologi yang Benar-Benar Dibutuhkan Masyarakat

Namun, teknologi tidak seharusnya berhenti sebagai demonstrasi kemampuan teknis. Tantangan berikutnya justru terletak pada kemampuan menghubungkan teknologi dengan kebutuhan nyata di lapangan.

“Inovasi berikutnya bisa dimulai dari Anda. Hubungkan masalah nyata di lapangan dengan data, teknologi, dan ide kreatif Anda untuk menciptakan dampak sosial yang nyata, mulai dari respons bencana berbasis AI, pemantauan lingkungan, hingga smart agriculture dan solusi maritim,” pungkasnya.

Pesan itu membuat pembicaraan tentang antariksa terasa lebih dekat. Sebab, ujung dari teknologi yang dikembangkan di orbit bukan semata tentang seberapa tinggi manusia mampu menjangkau langit, tetapi seberapa jauh teknologi tersebut mampu membantu manusia memahami dan menyelesaikan persoalan di bumi.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *