Parenting ala Rasulullah SAW: Cara Mendidik Anak dengan Keteladanan dan Kasih Sayang

TK dan SD Bakti Mulya 400 Jakarta menggelar Kajian Jumat pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026, dengan nara sumber  M. Fikri Haiqal, Lc. (Foto: Dok BM 400 Jakarta) 

Milenianews.com, Jakarta — TK dan SD Bakti Mulya 400 Jakarta menggelar Kajian Jumat pada Jumat pagi, 9 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan kegiatan mingguan yang diinisiasi oleh CEO Yakasan BKSP Bakti Mulya 400, Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.S.I,. Kajian pagi diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an Surah Al-Fath, kemudian dilanjutkan dengan kajian bertema “Parenting ala Rasulullah SAW”  yang disampaikan oleh salah satu guru Agama,  M. Fikri Haiqal, Lc.

Dalam kajian tersebut, para guru diajak untuk kembali memahami pentingnya pendidikan anak yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter, akhlak, dan kebiasaan baik sejak usia dini.

Baca Juga : HUT  Ke-43 BM 400 Dibanjiri Tokoh Nasional, Ir. Anna Rosita Subagja: Jadikan BM 400 Terbaik  di Masa Depan

Mengacu pada metode pendidikan Rasulullah SAW, terdapat beberapa pendekatan yang relevan diterapkan dalam mendidik anak usia TK dan SD.

  1. Memahami Setiap Anak Memiliki Kemampuan Berbeda (مُرَاعَاةُ الْمُسْتَوَيَاتِ)

Setiap anak memiliki karakter, tingkat pemahaman, dan perkembangan yang berbeda. Karena itu, guru perlu menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kebutuhan anak, bukan menyamaratakan kemampuan mereka.

“Ketika anak belum memahami pelajaran, guru perlu mengevaluasi cara penyampaiannya dan memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar sesuai tahap perkembangannya,” kata M. Fikri Haiqal, Lc.

  1. Menjadi Teladan Sebelum Memberi Perintah (الْأُسْوَةُ وَالْقُدْوَة)

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan yang baik bagi umat manusia.

“Prinsip ini mengingatkan bahwa anak tidak hanya belajar melalui perkataan, tetapi juga melalui perilaku orang dewasa di sekitarnya. Guru yang mengajarkan kedisiplinan, kejujuran, dan kesantunan perlu menunjukkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

  1. Mendidik Secara Bertahap (التَّدَرُّج)

Perubahan perilaku membutuhkan proses. Anak tidak bisa dituntut menguasai seluruh kebiasaan baik dalam waktu singkat.

Sebagaimana metode pendidikan Rasulullah SAW yang dilakukan secara bertahap, guru perlu membimbing anak mulai dari hal sederhana, seperti mengucapkan salam, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, hingga belajar bertanggung jawab.

  1. Mengulang Pelajaran agar Menjadi Kebiasaan (التَّكْرَارُ وَالْمُرَاجَعَة)

Rasulullah SAW mengajarkan sesuatu dengan jelas dan mengulanginya hingga dapat dipahami. Dalam hadis riwayat al-Bukhari nomor 95, Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi SAW mengulangi perkataannya tiga kali agar dipahami.

“Bagi guru, pengulangan bukanlah tanda kegagalan dalam mengajar. Sebaliknya, pengulangan merupakan bagian penting dari proses belajar, terutama dalam menanamkan nilai agama, adab, dan kedisiplinan,” kata Fikri Haiqal, Lc.

Menjadi Guru yang Membantu Anak Bertumbuh

Melalui Kajian Jumat ini, para guru TK dan SD Bakti Mulya 400 Jakarta diajak untuk memandang pendidikan sebagai proses mendampingi anak bertumbuh, bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran.

Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik atau kemampuan menghafal, tetapi juga dari tumbuhnya akhlak, kepedulian, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap kebaikan.

Pada akhirnya, anak mungkin tidak mengingat semua materi yang pernah diajarkan gurunya. Namun, pengalaman diperlakukan dengan adil, dibimbing dengan sabar, dan diberikan teladan yang baik dapat menjadi bagian penting dari perjalanan hidup mereka.

Parenting ala Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa mendidik bukan sekadar menyuruh anak menjadi baik, melainkan menunjukkan jalan kebaikan melalui keteladanan, kesabaran, dialog, dan kasih sayang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *