Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Saya berwisata ke Kota Taif, Arab Saudi—sebuah kota yang memberikan pengalaman berbeda. Selama ini saat naik haji dan beberapa kali umrah, saya hanya mengenal Kota Mekah, Madinah, dan Jeddah. Taif berada di kawasan pegunungan dengan udara yang relatif sejuk. Saya datang pada bulan Agustus, saat musim panas. Ketika suhu di Jeddah mencapai 42 derajat Celsius, suhu di Taif mungkin hanya sekitar 30 derajat Celsius. Kami diajak ke Taif sebagai wisata pelengkap setelah menyelesaikan rangkaian ibadah umrah di Madinah dan Mekah.
Posisi Taif berada di ketinggian 1.700 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), setara dengan Pengalengan di Jawa Barat atau Dieng di Jawa Tengah. Sejak dahulu, Taif dikenal sebagai area pertanian yang subur. Hasil utamanya berupa mawar, buah-buahan, madu, dan hortikultura. Hasil pertanian dari daerah ini memasok kebutuhan hampir seluruh kota di Arab Saudi.
Arab Saudi kini menjadi lebih terbuka. Taif yang sejak dulu sudah menjadi destinasi wisata pegunungan bagi warga lokal, kini bisa dikunjungi oleh jemaah umrah. Jemaah bisa menikmati wisata dataran tinggi, perkebunan—khususnya mawar—serta pusat oleh-oleh yang telah menjadi bagian dari gaya hidup di Arab Saudi.
Kunjungan ke Taif tetap memiliki nilai sejarah yang mendalam. Kota ini mencatatkan sejarah penting sebagai bagian dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Sekitar tahun 619 M, setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah RA, tekanan terhadap dakwah di Mekah semakin berat. Rasulullah bersama Zaid bin Haritsah menuju Taif untuk menemui para pemuka Bani Tsaqif yang merupakan leluhur dari garis ibu beliau. Ajakan untuk beriman kepada Allah ditolak keras, bahkan berlanjut dengan tindakan kekerasan berupa pelemparan batu.
Perjalanan ke Taif kala itu memang tidak langsung menghasilkan penerimaan dari masyarakat setempat. Namun, peristiwa di Taif tercatat sebagai gambaran paling kuat mengenai kesabaran, keteguhan, dan kasih sayang Rasulullah dalam menjalankan dakwah. Taif menjadi sangat penting dalam sejarah Islam sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju kebenaran tidak selalu bisa ditempuh dengan mudah, melainkan membutuhkan kerja keras dan perjuangan.
Baca juga: Catatan Umrah 2026 dan Transformasi Mekah Jadi Kota Metropolitan Dunia
Kereta Gantung Dari Titik Tertinggi Taif

Bus berhenti di Al Hada, bagian dari area Taif yang berada di titik tertinggi dengan ketinggian di atas 2.000 mdpl. Kawasan ini dahulunya dilalui jalur jalan dari Mekah menuju Taif yang kemudian dikembangkan menjadi kawasan resor wisata. Dahulu orang-orang melintasi jalur ini menggunakan unta yang tentu sangat sulit dan berat. Bayangkan melintasi jalanan pegunungan batu yang belum terbuka hingga ke ketinggian lebih dari dua ribu meter.
Jalan menuju Al Hada merupakan salah satu ikon Kota Taif. Jalurnya mengikuti kontur gunung dan bukit sehingga memiliki banyak tikungan serta dinding bebatuan yang difungsikan sebagai perlindungan terhadap longsor. Dari Mekah, jalan meliuk-liuk menuju ketinggian Al Hada sejauh 87 kilometer—yang jika ditarik garis lurus mungkin hanya sekitar 50 kilometer lebih sedikit. Jalan yang telah dilalui ribuan tahun menggunakan unta ini baru mulai dibangun menjadi jalan mobil pada tahun 1958 atas perintah Raja Saud, lalu terus dikembangkan hingga kini menjadi jalan modern yang nyaman dilalui bus-bus wisata jemaah.
Di pelataran puncak Al Hada, terdapat area tempat parkir, gedung komersial untuk kios, restoran, kafe, serta masjid. Pelataran ini fungsi utamanya adalah sebagai titik awal pergerakan kereta gantung. Ya, kami naik kereta gantung di sini. Panjang lintasan kereta gantung ini mencapai 4,2 km untuk satu arah, sehingga perjalanan pulang-pergi berjarak 8,4 km dengan durasi tempuh satu arah selama 17 menit. Jumlah kabin penumpang sebanyak 52 unit, di mana setiap unit kabin dapat memuat hingga 8 penumpang.
Saya berada di dalam kabin yang melayang melintasi pegunungan, bergerak turun dari ketinggian 2.000 meter menuju ketinggian sekitar 1.000 meter sejauh 4,2 km. Pemandangan dari dalam kabin perlahan berubah dari kawasan puncak menuju lembah. Jalur kereta yang mengikuti kontur pegunungan memungkinkan penumpang melihat tebing, lembah, vegetasi pegunungan, unta liar, serta jalanan yang berkelok-kelok. Lanskap Taif terlihat secara utuh—sebuah pengalaman panorama yang tidak akan tersaji jika kita hanya menggunakan kendaraan darat.
Dari atas kereta gantung, kita bisa melihat dengan lebih jelas betapa beratnya perjalanan melintasi area ini menggunakan unta pada abad ke-7 Masehi. Melihat kerasnya bentang alam serta luasnya area pegunungan tersebut, saya merasa tidak sekadar sedang berwisata. Saya dapat membayangkan betapa beratnya perjalanan yang ditempuh Rasulullah dalam menyampaikan risalah agama—perjalanan yang tidak dilalui dengan tenang, bahkan sempat diwarnai momen dikejar dan dilempar batu.
Santap Briyani Ayam Satu Nampan Berempat Menggunakan Tangan

Bus kembali melaju di jalanan yang mulus, lebar, dan berkelok. Setelah menyelesaikan perjalanan kereta gantung, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat Kota Taif. Perlahan suasana pegunungan berganti dengan kawasan pemukiman khas Arab yang sepi dan jarang terlihat orang beraktivitas di luar rumah, meskipun ini merupakan area perkotaan. Perjalanan ini membuat saya lebih memahami Taif sebagai kota yang bersih, teratur, serta memiliki jalan-jalan yang lebar dan lurus. Kota ini berpenduduk sekitar 500.000 jiwa—cukup besar, namun lantaran perbedaan budaya atau alur jalur yang kami lalui, saya tidak melihat adanya kawasan komersial yang bising seperti pasar atau mal.
Kami tiba di sebuah rumah besar tempat bus parkir di tepi jalan. Kami turun dan melangkah mengikuti petunjuk arah. Ternyata lokasi ini adalah sebuah restoran berhalaman luas yang dipenuhi pepohonan, taman, gazebo, serta kios-kios kecil. Kios-kios ini menjajakan makanan, minuman, mainan anak-anak, hingga parfum. Suasananya terasa sangat santai dan cocok untuk beristirahat sambil duduk selonjor melepas lelah setelah berkunjung dari Al Hada.
Kami memilih tempat makan dengan konsep duduk di lantai, lalu memesan nasi briyani ayam per nampan yang dapat dinikmati berempat. Ini merupakan hidangan nasi berbumbu harum dengan warna dan aroma rempah kaya yang sangat populer di Timur Tengah. Sebagai pelengkap minuman, kami memilih jus buah dingin.
Nampan diletakkan di hadapan kami, lalu kami duduk mengelilinginya berempat untuk menyantapnya bersama-sama menggunakan tangan. Kami berbagi nasi, berbagi potongan ayam, serta saling mengambil bagian sambil berbincang hangat—inilah kehangatan Taif. Makan dari satu nampan memberikan pengalaman tersendiri, meskipun di Indonesia juga terdapat tradisi serupa, seperti di daerah Madura, Kudus, Banten, dan Palembang yang memiliki kebiasaan makan bersama dari satu wadah nampan.
Perjalanan dilanjutkan sekitar 30 menit menuju area pinggiran kota sebelum kami kembali ke Mekah. Kami mampir di sebuah bangunan dengan papan nama Rashid Al Quraishi Factory. Menurut penjelasan pemandu wisata, tempat ini adalah pabrik parfum, khususnya pengolahan mawar. Pabrik penyulingan mawar ini telah menjadi salah satu destinasi kunjungan wisata favorit bagi jemaah umrah, mengingat Taif telah dikenal luas sebagai salah satu pusat budidaya mawar utama.
Area ini telah difungsikan sebagai kebun mawar selama sekitar 150 tahun. Bunga-bunga mawar yang dipetik dari kebun kemudian diproses melalui penyulingan menggunakan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Untuk menghasilkan aroma yang pas, proses ini memerlukan ketelitian serta ketepatan waktu yang sangat akurat. Setelah proses penyulingan selesai, cairan air mawar akan terpisah dari cairan minyak inti aroma di bagian atas. Dari sinilah lahir berbagai produk wewangian yang menjadi ciri khas utama Kota Taif.
Baca juga: Pesona Pelataran Masjid Nabawi dan Cerita Unik di Sekitarnya
Skala pengolahan mawar di seluruh Taif tergolong cukup besar. Di Taif terdapat beberapa kilang dengan kapasitas olah berkisar antara 35.000 hingga 600.000 kuntum mawar per hari. Bayangkan ratusan ribu kuntum bunga mawar yang pada pagi hari masih mekar di kebun, pada siang hari sudah terkumpul dan dimasukkan ke dalam bejana proses penyulingan. Dari proses ini tercipta produk-produk bernilai tinggi, khususnya parfum. Tidak hanya parfum, proses tersebut juga menghasilkan produk turunan dan produk lanjutan seperti air mawar, sabun, losion, perawatan rambut, hingga produk perawatan kulit (skincare).
Perjalanan umrah kali ini memberikan kesan yang berbeda dibandingkan beberapa pengalaman umrah yang saya jalani sebelumnya. Kota Madinah dan Mekah tetap menyajikan pengalaman spiritual dan keislaman yang mendalam, sementara kunjungan ke Kota Taif memberikan saya wawasan tentang eksotisme alam dataran tinggi, budaya kota wisata, serta dinamika ekonomi pariwisata masyarakat Arab Saudi.
Saya kini bisa mengenal ikon khas kota ini: Mawar Taif. Alhamdulillaah.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







