Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Pada awal abad ke-19, kawasan Teluk Kendari sudah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal yang berdagang atau berlayar. Kawasan yang pada saat itu menjadi bagian dari wilayah pesisir Kerajaan Konawe ini digunakan sebagai tempat mampir dan transit bagi pedagang Bugis serta pedagang Bajo. Sebagian dari mereka kemudian menetap dan memperdagangkan hasil bumi dari wilayah pedalaman serta wilayah pesisir sekitar teluk. Kendari bukanlah kota yang lahir karena keberadaan kolonial Belanda.
Cikal bakal kota ini berada di sisi utara Teluk Kendari, di kawasan yang sekarang disebut sebagai Kandai. Nama Kandai kemudian berkembang dalam pengucapan dan penulisan menjadi Kendari. Di kawasan inilah berkembang area awal kota, tempat masyarakat beraktivitas. Hadir jalan, pelabuhan, fasilitas perdagangan, pasar, pemukiman, serta tempat tinggal raja penguasa. Secara perlahan, kawasan ini makin ramai dan makin besar.
Kemudian datanglah J.N. Vosmaer, seorang pelaut dan pejabat utusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Ia bertugas melakukan observasi terhadap jalur perdagangan di timur Sulawesi guna mencari lokasi strategis untuk mengembangkan perdagangan di wilayah ini. Tercatat pada Mei 1831, pelaut Belanda J.N. Vosmaer memasuki Teluk Kendari, menetap, dan membuat peta. Setahun kemudian, Vosmaer mendapat izin dari raja untuk menetap, berdagang, dan membangun kantor dagang.
Baca juga: Megahnya Jembatan Merah Putih dan Uniknya Tradisi Santap Ikan Keramba Teluk Ambon
Teluk, Hutan Bakau, dan Pesisir Sebagai Bagian Utama Kota

Kawasan Teluk Kendari makin ramai seiring berkembangnya perdagangan. Oleh karena itu, pusat kekuasaan Kerajaan Konawe ikut berpindah ke wilayah ini, menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan sekaligus pusat pemerintahan. Jadi dari sejarahnya dapat dilihat bahwa tumbuhnya Kota Kendari memang dimulai dari kawasan teluk. Sejak awal, Kendari memanfaatkan daratan sekaligus ruang laut sebagai kota yang menghadap teluk.
Lokasi pilihan Vosmaer memang tidak salah. Ia memilih teluk untuk mendapatkan perairan laut yang tenang, cocok untuk pelabuhan, serta terlindung dari badai. Dua abad kemudian, Kendari tumbuh menjadi kota modern yang terus berkembang dengan jumlah penduduk yang kian bertambah. Kawasan kota lama yang menjadi titik awal tumbuh tidak lagi mampu menampung sarana dan prasarana Kendari sebagai kota besar dan modern.
Pusat kota kemudian bergeser lebih ke arah pedalaman, tetapi tetap berada di sisi teluk. Maka dari itu, geografi dasarnya tidak berubah; teluk dan hutan bakau tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari pusat kota. Tantangan kota modern pun muncul: bagaimana masyarakat masa kini bisa tetap hidup dan berkembang sambil berdampingan dengan teluk serta ekosistem pesisir yang membentuknya sejak awal.
Pusat kota lantas berpindah ke kawasan Mandonga. Di sinilah Kantor Wali Kota Kendari berada, lengkap dengan alun-alun besar yang disebut Lapangan MTQ. Jalan utama dari kota lama bergeser ke poros Jalan Abdullah Silondae dan Jalan Ahmad Yani. Jalan ini menjadi pusat aktivitas kehidupan kota, pusat komersial, serta pusat pemerintahan.
Keunikan Hutan Bakau di Tengah Kota

Saya berdiri di Taman Bakau Kendari. Ini adalah ruang publik terbuka yang menarik, tertata rapi dengan fasilitas tempat parkir, jalan setapak dari kayu, saung tempat beristirahat, dan toilet. Ini tempat santai sekaligus atraksi wisata 24 jam yang menarik untuk mengenal lebih jauh tanaman bakau Kendari dan menikmati hutan mangrove. Lokasi Taman Bakau ini berada di area Lahundape, Kendari Barat. Di sini kita bisa berjalan di antara tanaman bakau, menikmati suasana mangrove, dan merasakan lingkungan pesisir kota.
Berkunjung ke Taman Bakau akan memperkaya sudut pandang dan pemahaman kita tentang Kota Kendari. Area ini menarik karena hutan mangrove dan hutan bakau menjadi bagian dari ekosistem kota di hamparan yang panjang dan luas. Tidak banyak kota yang memiliki hutan kota berupa hutan mangrove dan lingkungan pesisir. Selain bersantai dan berwisata, di sini pengunjung bisa memahami karakter geografis Kendari—sebuah kota yang tumbuh mengelilingi teluk dengan ruang pesisir sebagai tempat menjalani kehidupan.
Saya berkunjung di pagi hari pada saat air surut. Saya bisa melihat beberapa ikan kecil di perairan dangkal, kepiting kecil, serangga, serta beberapa biota laut lainnya di antara akar bakau. Pohon bakau dan mangrove di lingkungan pasang surut ini tampak jelas. Akar-akar bakau yang menghujam dan mencengkeram tanah sungguh menarik secara visual, sangat elok dijadikan objek foto, serta memberikan latar belakang hutan bakau yang unik dibanding wisata alam di tempat lain.
Secara ekologis dan kesadaran lingkungan hidup, hutan bakau ini memiliki fungsi yang sangat penting. Mangrove menahan sedimen sehingga lingkungan pesisir tidak rusak, tetap hijau, serta menjadi ruang hidup bagi makhluk laut kecil. Hutan bakau juga melindungi lingkungan pesisir dari terik matahari langsung, menahan hempasan ombak pantai, serta melindungi daratan dari angin laut yang kadang merusak.
Berjalan di taman bakau membuat saya tidak merasa perlu terburu-buru. Selain karena memiliki waktu luang, kawasan mangrove dan sekitarnya sangat menarik untuk dinikmati. Dari jalan setapak yang disediakan untuk menelusuri kawasan ini, kita bisa memandang hamparan laut teluk yang luas. Walau bukan titik terbit atau terbenamnya matahari secara langsung, bias cahaya pagi di langit terasa begitu indah. Di kejauhan, tampak Masjid Al-Alam dengan kubah kuning emasnya seolah muncul dari tengah teluk.
Kelezatan Sinonggi dan Ikan Kuah yang Berkesan

Saya sedang berada di sebuah rumah makan yang mengambil nama dari bakau, yaitu Restoran Kampung Bakau. Restoran ini memang berada di tengah hutan bakau. Kendaraan kami parkir di area halaman bermaterial tanah keras, lalu kami berjalan masuk melangkahi gerbang menyusuri jalan kayu hingga sampai di area terbuka di tepi laut tempat meja dan kursi makan ditata.
Di dalam lingkungan restoran mangrove ini, suasana bising kota tidak terasa lagi. Lampu-lampu menerangi area makan, sementara rimbun pohon bakau di sekeliling membentuk siluet yang menyatu dengan malam. Menghadap ke arah laut, tampak pendar lampu-lampu kota di seberang teluk dari kejauhan.
Ini tentu menjadi pengalaman baru: makan malam di tengah kota tetapi berada di dalam hutan bakau. Hanya Kota Kendari yang memiliki atmosfer seperti ini. Tentu saja menu hidangan laut menjadi tujuan utama, walau restoran ini juga menawarkan menu lain seperti ayam goreng dan nasi goreng.
Seafood merupakan menu khas Kendari, tetapi untuk pengalaman makan malam yang lebih berkesan, saya memesan sinonggi dan ikan kuah—dua hidangan yang sangat dekat dengan karakter Sulawesi Tenggara. Sinonggi terbuat dari tepung sagu yang dimasak sambil diaduk di dalam air panas hingga adonan berubah bening, licin, dan kenyal. Teksturnya unik dengan rasa yang netral, sehingga sinonggi berfungsi sebagai media penyerap rasa dari kuah.
Baca juga: Rahasia Kelezatan Sala Lauak Otentik dan Sensasi Kereta Api Pesisir Pariaman
Lauk pendamping sinonggi berupa sop ikan kakap ukuran sedang. Sop berwarna kuning dari rempah-rempah ini memiliki rasa segar, gurih, dan agak pedas—sangat cocok dinikmati bersama adonan sagu yang kenyal. Kuah ikan ini perlu disajikan agak banyak karena menjadi kunci utama pembentuk rasa sedap saat menyantap sinonggi.
Perlu dicatat pula bahwa menyantap sinonggi memiliki cara khas yang tidak seperti menikmati nasi dengan sendok. Dari wadah besarnya, sinonggi diambil menggunakan dua sumpit besar dengan kedua tangan, lalu dipuntir hingga membentuk gumpalan sebelum dipindahkan dengan cepat ke piring makan. Di atas piring, sinonggi bercampur dengan kuah dan daging ikan untuk kemudian disantap.
Setelah mengenal Kendari, saya menjadi tahu bahwa wajah sebuah kota modern tidak harus selalu dibentuk oleh gedung-gedung tinggi atau kemilau mal. Di Kendari, laut, bakau, dan garis pantai ikut membentuk identitas kota yang utuh.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







