Milenianews.com, Bandung Barat – Upaya pemulihan pascabencana pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan penanganan infrastruktur dan perbaikan fisik lingkungan semata. Lebih jauh dari itu, keberlanjutan proses pendidikan serta pendampingan psikososial bagi anak-anak terdampak menjadi perhatian mendalam yang membutuhkan pendekatan khusus.
Berangkat dari kebutuhan mendesak tersebut, tim akademisi dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggagas sebuah program pengabdian bertajuk “Cerita Pemulih Jiwa untuk Siswa Sekolah Dasar: Program Pendampingan Rehabilitasi Edukatif Pascabencana Longsor di SDN Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.”
Melalui program ini, tim pengabdi merajut storytelling, seni, literasi bahasa, teknologi digital, pendidikan lingkungan, hingga kearifan lokal Sunda menjadi satu kesatuan metode pembelajaran kreatif yang suportif dalam mendampingi proses pemulihan edukatif para siswa.
Baca juga: Indonesia Rawan Bencana, Sekolah Kini Dibekali Panduan Khusus dari Pemerintah
Rangkaian kegiatan pendampingan ini dilaksanakan dalam tiga tahapan utama yang terstruktur sepanjang Agustus 2026. Tahap pertama dimulai dengan pelatihan khusus bagi dua guru SDN Cisarua pada 19 Agustus 2026, yang berfokus pada pemanfaatan narasi, arts-based learning, teknik bercerita, serta pengintegrasian nilai-nilai budaya Sunda dalam proses pembelajaran di kelas.
Selanjutnya pada 20 Agustus 2026, pendampingan dilanjutkan secara langsung kepada 73 siswa yang terbagi dalam dua kelas. Dalam tahapan ini, para siswa diajak untuk terlibat secara aktif dalam mengembangkan cerita, mengekspresikan gagasan, melakukan storytelling, hingga menghasilkan berbagai karya kreatif yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan dan pemulihan pascabencana.
Puncak dari seluruh rangkaian acara berlangsung pada 24 Agustus 2026 melalui unjuk hasil karya kreatif siswa. Para siswa mempresentasikan hasil storytelling mereka dengan dukungan media poster visual, yang kemudian dialokasikan untuk mengisi majalah dinding (mading) sekolah sebagai sarana kampanye pemulihan lingkungan secara berkelanjutan.
Inovasi Poster Story Digital Dwibahasa
Salah satu terobosan utama yang dihadirkan dalam program ini adalah penerapan poster story digital dwibahasa (Bahasa Indonesia–Bahasa Inggris). Media ini dirancang khusus sebagai alat bantu pembelajaran interaktif sekaligus sarana komunikasi publik yang memungkinkan siswa mempelajari bahasa melalui konteks kehidupan nyata di sekitar mereka.
Alur cerita dalam poster disusun secara sistematis, menggambarkan keindahan lingkungan alam, terjadinya peristiwa bencana, hingga langkah-langkah dalam mencari solusi serta membangun kembali ekosistem yang rusak. Penggunaan visualisasi alam, lembah, sungai, pegunungan, serta aktivitas pemulihan membantu siswa memahami keterkaitan erat antara aktivitas manusia, lingkungan, dan potensi bencana.
Pada bagian solusi, cerita mengarahkan siswa pada aksi-aksi nyata yang sederhana seperti menanam pohon, memilah sampah, menjaga kebersihan sumber air, serta memupuk kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Pemanfaatan dua bahasa memberikan efisiensi pedagogis yang tinggi karena satu media dapat digunakan secara fleksibel untuk mendukung mata pelajaran Bahasa Indonesia sekaligus Bahasa Inggris, sehingga membantu siswa memperkaya kosakata serta mengasah keberanian berbicara di depan umum.
Transformasi Media Pembelajaran Menjadi Pesan Sosial Komunitas
Program ini menempatkan siswa tidak hanya sebagai konsumen informasi, melainkan sebagai produsen pesan edukatif yang aktif. Melalui kombinasi karya storytelling dan poster, para siswa diberikan ruang seluas-luasnya untuk menyampaikan pandangan, harapan, serta kepedulian mereka terhadap lingkungan pascabencana.
Ketika karya-karya tersebut dipajang di mading sekolah, fungsi poster mengalami perluasan makna dari sekadar tugas kelas menjadi media komunikasi publik yang dapat diakses oleh sesama siswa, guru, orang tua, hingga warga sekolah lainnya. Hal ini membuktikan bahwa pemanfaatan teknologi digital tidak harus selalu mengandalkan perangkat yang rumit, melainkan bisa diwujudkan melalui teknologi sederhana yang tepat guna dan kontekstual.
Memberikan Ruang Psikososial untuk Bangkit dan Berkarya
Dalam situasi pascabencana, proses pendidikan tidak boleh hanya tertuju pada pencapaian nilai akademik semata, melainkan harus mampu memulihkan rasa percaya diri, semangat belajar, dan hubungan sosial anak-anak. Melalui storytelling, siswa belajar merangkai ide; melalui poster, mereka belajar menyampaikan pesan visual; dan melalui kerja kelompok, mereka mengasah rasa empati serta kolaborasi.
Baca juga: Storytelling Jadi Senjata Rahasia Animasi Indonesia Mendunia
Program yang didanai oleh Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DPPM) UPI ini dilaksanakan oleh tim pengabdi yang diketuai oleh Dr. Yostiani Noor Asmi Harini, M.Hum., beranggotakan Drs. Memen Durachman, M.Hum., Prof. Dr. Sri Setyarini, M.A.Ling., Achmad Yudi Wahyudin, M.Pd., serta melibatkan dua mahasiswa, Adinda Anyelir dan Muh Hamka D.
Kolaborasi ini menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk terus hadir sebagai mitra strategis masyarakat dalam menghadirkan solusi berbasis pengetahuan. Ke depan, model “Cerita Pemulih Jiwa” ini berpotensi besar untuk dikembangkan serta direplikasi di berbagai sekolah lain, khususnya yang berada di wilayah rawan bencana, guna membuktikan bahwa membangun kembali sekolah bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan juga merawat harapan dan masa depan anak-anak.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








