Catatan Umrah 2026 dan Transformasi Mekah Jadi Kota Metropolitan Dunia

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Saya pertama kali ke Mekah tahun 2000 saat naik haji reguler sebagai jemaah dari Kota Depok. Saya tinggal di area Misfallah, jaraknya sekitar 1,5 km ke Masjidil Haram pintu 1, King Fahd Gate. Setiap hari hampir satu bulan saya bolak-balik berdua istri melewati jalan ini, sesekali naik taksi yang mangkal di belakang Hotel Continental seberang pintu 1—hotel ini masih ada sampai sekarang.

Masa itu, kalau pulang ke Misfallah saya melewati Hotel Hilton yang saat itu disebut Makah Hilton Hotel. Inilah hotel mewah yang berada paling dekat dengan pintu Masjidil Haram pada masa itu. Saat itu Zamzam Tower atau kompleks Abraj Al-Bait Makkah belum ada. Menara Zamzam baru mulai dibangun pada tahun 2002, lalu selesai dan digunakan pada tahun 2012.

Sebelum dibangun Zamzam Tower, di lokasi ini berdiri Benteng Ajyad yang dibangun pada tahun 1781 di masa Kekhalifahan Utsmaniyyah. Pada masanya, benteng ini adalah markas pertahanan kesultanan sekaligus bagian sistem pertahanan kota suci Mekah. Kini lokasi benteng Ottoman tersebut telah menjadi Zamzam Tower, gedung tertinggi ketiga di dunia atau menara jam tertinggi di dunia.

Baca juga: Catatan dari Corniche Jeddah: Wajah Baru Kota Pelabuhan dan Sensasi Kemewahan Tepi Laut Merah

Tahun 2000 saat saya naik haji, di area Haram masih ada Pasar Seng. Pasar ini sangat populer di kalangan jemaah haji dan umrah Indonesia antara tahun 1980 sampai awal 2000-an. Pasar lama Mekah ini selalu ramai dan buka 24 jam menjajakan toko emas, pakaian, sajadah, parfum, oleh-oleh, hingga kuliner Indonesia. Pasar Seng tergusur perlahan karena perluasan Masjidil Haram, hingga cerita pasar ini di kalangan jemaah haji Indonesia berakhir sekitar tahun 2005.

Masih cerita saat saya naik haji, dahulu masih ada sumur Zamzam di area mataf (tempat tawaf sekeliling Ka’bah). Menurut catatan, jaraknya 21 meter dari Ka’bah dan terdapat jalan masuk ke ruang bawah tanah. Saat itu pintu masuknya masih ada, dan saya sempat turun ke bawah untuk minum, mencuci muka, serta mengambil air Zamzam. Pintu sumur Zamzam ini ditutup pada tahun 2003 untuk memperluas ruang mataf. Sekarang sumurnya masih ada di bawah mataf, tetapi sudah tidak bisa dilihat dan dimasuki jemaah. Sebagai gantinya, kini ada 17.000 dispenser di Masjidil Haram yang mendistribusikan sekitar 2 juta gelas air per hari kepada jemaah.

Mekah Berubah: Menampung Jutaan Jemaah Secara Rapi

area gate 1

Setelah naik haji tahun 2000, saya beberapa kali umrah dan terakhir pada tahun 2015. Kemarin saya baru saja umrah lagi di Mekah. Ada perkembangan sangat besar di Kota Mekah, bukan hanya area Masjidil Haram tetapi juga kota secara keseluruhan.

Kota yang dulunya selalu ramai dengan pasar, hotel di setiap sudut, serta pemukiman padat tradisional telah berubah total. Mekah kini menjadi kota metropolitan yang tertata baik, tetap dengan konsep sebagai kota ibadah serta ziarah. Kota yang dulu horizontal sekarang menjadi vertikal dan terintegrasi untuk melayani jutaan jemaah.

Dulu di area masjid banyak restoran kecil dan besar yang semua menjual makanan Arab tradisional. Kini sebaliknya, di sekitar Masjidil Haram dengan mudah ditemukan merek global seperti McD, KFC, Pizza Hut, hingga Starbucks. Jemaah bisa menikmatinya dengan gaya yang sama seperti di Jakarta; bedanya, di sini kita bisa melihat orang menggenggam kopi Starbucks sambil memakai baju ihram.

Saat berdiri di area luar Masjidil Haram menghadap Gate 1 King Fahd, tidak terlihat lagi perbukitan Mekah karena semuanya tertutup gedung tinggi. Di kiri ada Hotel Continental lebih dari 30 lantai, di sebelahnya Makkah Hilton Omar yang baru dan lebih tinggi. Berbalik ke belakang, raksasa Zamzam Tower menghadang, sementara halaman dan jalan masuk masjid yang lebar tampak makin ramai dipenuhi jemaah.

Menara jam setinggi 600 meter ini jamnya bisa terlihat dari jarak sampai 10 km. Kelap-kelip lampu hijaunya memberi informasi dari kejauhan ketika azan berkumandang dan waktu salat tiba. Lahirnya gedung ekstra tinggi dan hilangnya sebagian bangunan lama membuat ruang terbuka untuk jemaah makin luas, sehingga Masjidil Haram makin besar dan terkelola baik. Kawasan perluasan menata jalur pejalan kaki terpisah dari jalan kendaraan. Di beberapa titik ramai bahkan dibuat terowongan khusus pejalan kaki yang dilengkapi eskalator agar jemaah keluar-masuk masjid dengan nyaman tanpa bercampur lalu lintas kendaraan.

Luas Lantai Masjid Bertambah Empat Kali Lipat

masjidil haram

Masjidil Haram berubah menjadi sangat besar. Luas area masjid bertambah dari 36 ha pada tahun 2000 menjadi 150 ha pada tahun 2026. Sementara luas lantainya berubah dari 350.000 m² menjadi 1.860.000 m². Luas lantai 1,86 juta m² ini terbagi dalam 5 lapis lantai dengan halaman yang tetap besar.

Sebagai jemaah, saya melihat perubahan mendasar pada pengelolaan pergerakan jemaah. Dahulu jemaah bisa memilih pintu mana saja dan ke area mana saja, termasuk ke area mataf di dekat Ka’bah. Saat ini, area mataf hanya diperuntukkan bagi jemaah yang memakai pakaian ihram. Untuk laki-laki perbedaannya sangat jelas dengan dua lembar kain ihram; saya yang memakai baju koko putih mencoba berbagai cara untuk masuk tetap tidak diperbolehkan. Untuk wanita lebih bebas asal mengenakan pakaian warna putih atau hitam, sehingga tidak akan ditemukan jemaah wanita berpakaian warna-warni yang tawaf di mataf. Penggunaan kursi roda juga dilarang di mataf dan dialihkan ke lantai dua.

Baca juga: Jejak Transformasi Uni Emirat Arab: Dari Padang Pasir Menuju Kemakmuran

Pergerakan jemaah juga berubah. Tahun 2000 Al-Haram adalah masjid sebagai ruang ibadah apa adanya yang sederhana, tempat semua ruang bisa dijangkau dan saling berhubungan. Pada umrah 2026 ini, saya menemukan ruang Haram dikelola sebagai sebuah sistem; masing-masing elemen ruang bisa saling lihat tetapi tidak bisa bebas berpindah tempat. Ruang masjid bertingkat ini dirancang dan dibedakan; setelah masuk jemaah akan diarahkan dan dipisahkan sehingga ruang salat terasa nyaman. Saat usai salat, ada aturan untuk mengeluarkan jemaah dan eskalator pun hanya menyala untuk arah turun/keluar demi ketertiban, kenyamanan, dan keamanan mengurus 1 juta orang dalam satu waktu.

Untuk membantu sistem berjalan baik, telah dibangun sarana prasarana yang andal beserta petugas keamanan yang disiplin dan tegas tanpa bersikap kasar. Kini telah tersedia 428 eskalator, 28 lift, 80 pintu, serta 120 area salat yang mandiri.

Mekah dan Masjidil Haram bergerak cepat luar biasa. Arsitektur berganti, teknologi berkembang, dan lanskap kota berubah total. Namun bagi manusia yang datang dari seluruh penjuru dunia, perjalanan tetap berujung pada satu tempat yang sama: Ka’bah tetap menjadi kiblat yang diam sebagai pusat dari semuanya, sementara Mekah dan para jemaah terus bergerak mengelilinginya. Alhamdulillaah.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *