Milenianews.com, Kepulauan Seribu– Laut bagi nelayan Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, bukan sekadar tempat mencari ikan. Laut adalah ruang kehidupan yang harus menghasilkan hari ini, tetapi tetap terjaga untuk anak cucu.
Semangat inilah yang menjadi dasar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Terbuka dalam memperkuat ketahanan ekonomi nelayan melalui teknologi tepat guna yang ramah lingkungan dan digitalisasi pemasaran.
Salah satu kegiatan PkM adalah bantuan alat tangkap ikan berupa bubu kepada 20 nelayan. Bubu merupakan teknologi sederhana yang bekerja secara pasif dan, bila digunakan dengan benar, lebih selektif terhadap tangkapan serta tidak membutuhkan operasi penangkapan yang merusak habitat.
Suryadi, tokoh masyarakat yang mewakili kelompok nelayan, mengatakan bantuan tersebut telah memberikan manfaat nyata. Sebagai contoh, pada hari Sabtu, 08/08/2026, dilakukan pengangkatan bubu setelah tiga hari berada di dasar laut. “Alhamdulillah, dari sembilan bubu kami mendapatkan sekitar 40 kilogram ikan. Ada kerapu, baronang, kuwe, dan ayam-ayam. Rata-rata harga di tingkat nelayan sekitar Rp 50 ribu per kilogram,” ungkap Suryadi.
Menariknya, bubu bukan alat yang sekadar diturunkan ke laut. Menurut Suryadi, nelayan harus membaca arus, menentukan koordinat, dan memahami karakter dasar perairan. Bubu umumnya ditempatkan pada kedalaman sekitar 12–25 meter dan dibiarkan tanpa umpan. “Kalau penempatannya tidak pas, ikan tidak masuk. Jadi tetap membutuhkan ilmu dan keterampilan yang terbangun melalui pengalaman bertahun-tahun melaut”, ungkapnya.

PkM UT tidak berhenti pada penangkapan. Melalui PkM, kelompok nelayan ditantang bagaimana agar mendapatkan nilai ekonomi yang lebih luas. Pulau Untung Jawa memiliki posisi strategis sebagai destinasi wisata bahari yang dekat dengan Jakarta dan Tangerang.
Nelayan setempat tidak hanya mencari ikan, tetapi juga kerap mendampingi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman memancing di laut. Aktivitas sederhana seperti perjalanan bersama nelayan, memasang dan mengangkat bubu, memancing bersama keluarga, menikmati hasil tangkapan, hingga menyaksikan kehidupan masyarakat pesisir sesungguhnya dapat menjadi produk wisata yang bernilai.
Baca Juga : Universitas Terbuka Sosialisasi di Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Nurul Ikhlas, Santri Kian Bersemangat
Karena itu, nelayan juga mendapatkan pendampingan digitalisasi pemasaran dan promosi. Mereka didorong untuk mampu menggunakan telepon genggam, foto, video pendek, media sosial, dan cerita sederhana untuk memperkenalkan aktivitas mereka kepada calon wisatawan.
Ketika cerita tentang ikan, bubu, perahu, wisata memancing, dan kehidupan nelayan tersebar melalui ruang digital, yang dipasarkan bukan hanya hasil tangkapan. Mereka memperkenalkan pengalaman, keramahan masyarakat, keindahan pulau, dan cara hidup yang menghargai laut.
Bubu membantu nelayan menangkap ikan dengan lebih bijak dan teknologi digital membantu mereka menangkap peluang yang lebih luas. Laut tetap dijaga, ikan tetap menjadi sumber kehidupan, wisata bergerak, dan ekonomi keluarga bertumbuh. Menjaga alam dan meningkatkan kesejahteraan tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat tumbuh bersama.







