Penjaga Warisan Melayu di Kampung Gelam dan Jejak Gurih Nasi Padang Singapura

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Saya sedang berada di Kampung Gelam, Singapura—sebuah kawasan unik yang menyajikan atmosfer kontras jika dibandingkan dengan gemerlap Orchard Road, ikoniknya Merlion Park, atau kemewahan Marina Bay Sands. Kampung Gelam menawarkan pengalaman menikmati Singapura dari sisi yang berbeda: sebuah perpaduan harmonis antara seni, sejarah, dan kuliner dalam nuansa kebudayaan Melayu yang kental.

Sebagai salah satu kawasan tertua di Singapura, Kampung Gelam mulanya merupakan permukiman nelayan tradisional. Seiring berjalannya waktu, area ini bertransformasi menjadi pusat perdagangan dan kawasan tinggal bagi masyarakat Melayu, Arab, serta pelbagai suku bangsa dari Nusantara dan Timur Tengah. Hebatnya, sejak era dahulu hingga hari ini, tiap-tiap komunitas tetap merawat dan mempertahankan identitas budayanya masing-masing.

Pada awal abad ke-19, Kampung Gelam ditetapkan sebagai pusat Kesultanan Melayu menyusul kesepakatan antara Sultan Hussein Shah dan Stamford Raffles. Di kawasan inilah Istana Kampung Gelam didirikan, berfungsi sebagai pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi sultan beserta keluarganya. Meskipun perjanjian tersebut tetap mengakui eksistensi kesultanan, tampuk kekuasaan politik dan administratif secara perlahan mulai bergeser ke tangan pemerintah kolonial Inggris.

Baca juga: Jejak Rasa di Lubuklinggau Lewat Sepiring Nasi Minyak dan Ritual Kawa Raksasa

Restorasi Menyeluruh Istana dan Wajah Baru Malay Heritage Centre

kampung gelam

Pada tahun 1924, kedaulatan Singapura beserta pulau-pulau di sekitarnya secara resmi diserahkan kepada British East India Company. Sultan menerima kompensasi pembayaran, dan sejak saat itu, kendali pemerintahan berada penuh di tangan Inggris. Kedudukan sultan pun berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Kendati bangunan fisiknya mulai dimakan usia di tengah pesatnya modernisasi sekitar, Istana Kampung Gelam tetap berdiri kokoh sebagai simbol sejarah Melayu.

Titik balik terjadi pada tahun 1999 ketika Pemerintah Singapura mengambil alih area istana demi kepentingan penataan kawasan dan pelestarian warisan nasional. Istana mengalami proses restorasi menyeluruh guna mengembalikan bentuk aslinya sekaligus mengalihfungsikannya sebagai ruang edukasi budaya. Berkat langkah vital ini, kawasan Malay Heritage Centre resmi dibuka untuk umum pada tahun 2005.

Meski tak ada lagi sultan yang bertahta, bangunan fisik istana terawat dengan sangat baik dan kini diakui sebagai salah satu cagar budaya terpenting di Singapura. Kompleks ini menjelma menjadi destinasi wisata sejarah tempat para pengunjung dapat mempelajari perjalanan panjang budaya Melayu. Di dalamnya, terdapat enam galeri permanen yang memamerkan linimasa sejarah masyarakat Melayu Singapura—mulai dari dinamika kesultanan, perdagangan maritim lintas benua, hingga perkembangan identitas Melayu di era Singapura modern.

Koleksi artefak, karya seni, dan dokumen sejarah disajikan secara runut dan informatif. Tersedia pula instalasi interaktif yang mengajak pengunjung terlibat aktif dalam memahami narasi sejarah yang ada. Menjelajahi kompleks ini memberikan pemahaman mendalam mengenai besarnya kontribusi masyarakat Melayu dalam membentuk fondasi Singapura hari ini.

Masjid Sultan: Mahkota Arsitektur dan Simbol Kebersamaan

masjid sultan

Berkunjung ke Kampung Gelam belum lengkap tanpa melangkahkan kaki ke Masjid Sultan. Didirikan pada tahun 1824 atas prakarsa Sultan Hussein Shah dengan dukungan Stamford Raffles, masjid ini menjadi tempat beribadah utama bagi komunitas Melayu, Arab, Bugis, dan para pedagang muslim Nusantara yang memadati Kampung Gelam kala itu.

Dari sudut Arab Street, Masjid Sultan berdiri anggun menjadi landmark utama Kampung Gelam. Bangunannya terbilang megah—sekilas memiliki skala ukuran yang mirip dengan Masjid Sunda Kelapa di Jakarta. Fasadnya mengusung gaya simetris yang memadukan arsitektur Islam, sentuhan Asia Selatan, serta elemen kolonial. Didominasi warna krem lembut, bangunan masjid diapit oleh dua menara ramping dengan kubah emas berukuran raksasa sebagai pusat perhatian.

Di bagian dasar kubah, terdapat ornamen unik yang tersusun rapi dari bagian bawah botol kaca. Botol-botol ini merupakan sumbangan dari masyarakat kurang mampu saat masjid direnovasi besar-besaran pada tahun 1924. Ornamen tersebut menjadi simbol abadi bahwa masjid ini didirikan atas dasar gotong royong seluruh lapisan umat. Menara ramping di kedua sisinya—yang dahulu menjadi tempat muazin mengumandangkan azan—kini berfungsi sebagai penopang pengeras suara, menciptakan siluet yang anggun dan ikonis.

Detail arsitektur kian memesona saat kita mendekati pintu masuk utama. Serambi masjid dihiasi deretan lengkungan (arches) yang elegan. Jendela-jendela tinggi berarsitektur lengkung memungkinkan pencahayaan alami dan angin segar berembus masuk ke ruang salat utama. Di bagian dalam, interior masjid terasa lapang, terang, dan tertata rapi. Pilar-pilar besar, ukiran kaligrafi yang halus, serta mihrab bernuansa geometris di sebelah mimbar kayu terukir menghadirkan suasana yang begitu agung, bersahaja, dan tenang.

Kegigihan Wanita Minang dalam Jejak Kuliner Singapura

rm minang

Sejarah kuliner Singapura menyimpan kisah menarik tentang kewirausahaan seorang wanita asal Tanah Minangkabau bernama Hajjah Rosemah binti Mailu. Sebelum Indonesia merdeka, Hajjah Rosemah memutuskan bermigrasi memboyong keluarganya ke Singapura—yang kala itu secara jarak lebih mudah dijangkau dari Sumatera Barat dibanding harus berlayar ke Batavia.

Catatan kuliner lokal mencatat bahwa pada dekade 1940-an, Hajjah Rosemah mulai menjual nasi padang menggunakan gerobak sederhana di Jalan Kandahar, Kampung Gelam. Tanpa papan nama, warung gerobak ini menyajikan resep autentik keluarga yang diboyong langsung dari Minangkabau. Dalam waktu singkat, olahan ini menjadi tempat singgah favorit para pelaut, pedagang, dan pekerja pesisir di sekitar Kampung Gelam.

Hidangan khas seperti rendang, gulai ayam, gulai kepala ikan, serta pilihan sambal hijau dan sambal balado dengan cepat memikat lidah warga lokal. Seiring bertambah ramainya Kampung Gelam, usaha gerobak ini berkembang pesat hingga mampu menyewa bangunan permanen di lokasi yang sama pada tahun 1950. Hajjah Rosemah bersama suami dan kelima anaknya bahu-membahu mengelola usaha keluarga ini.

Pada tahun 1974, saat Pemerintah Singapura melakukan penataan kawasan, Hajjah Rosemah mendapatkan gerai permanen di Jalan Kandahar. Karena lokasinya berdekatan dengan area pembuat batu nisan, masyarakat setempat saat itu akrab menyebutnya sebagai “Nasi Padang Batu Nisan”.

Baca juga: Menembus Bukit Kapur Lembah Kinta Demi Segelas Kopi Putih dan Stasiun Tua Ipoh

Tongkat estafet bisnis diteruskan oleh generasi kedua pada tahun 1980. Zubaidah, anak bungsu Hajjah Rosemah, bersama suaminya membuka cabang kedua di Jalan Bussorah dan menyematkan nama resmi yang ikonis: Sabar Menanti. Seiring bertransformasinya Kampung Gelam menjadi kawasan cagar budaya dan destinasi wisata dunia, Sabar Menanti makin berkibar. Cita rasa kuliner warisan Hajjah Rosemah bahkan berhasil menjalin kerja sama dengan brand besar seperti Singapore Airlines, Hotel Shangri-La, hingga jaringan 7-Eleven.

Hari ini, saat berkunjung ke Jalan Kandahar, saya mendatangi gerai warisan Hajjah Rosemah yang kini telah menempati bangunan modern dua lantai. Di bagian depan restoran yang kini dikelola oleh generasi ketiga ini, tertera tulisan bangga: Rumah Makan Minang – Heritage Nasi Padang of Singapore.

Sebuah bukti nyata betapa etos kerja dan semangat kewirausahaan wanita Minang mampu menembus batas negara dan mengukir sejarah di negeri orang.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *