Milenianews.com, Jakarta – Tinju sering menjual keberanian sebagai tontonan. Pukulan keras mendapat sorakan, kemenangan dirayakan, dan petinju yang tetap berdiri dianggap paling tangguh. Namun, kisah Prichard Colón meninggalkan pertanyaan yang jauh lebih pahit: siapa yang memastikan seorang petarung tetap aman ketika pertandingan berubah menjadi terlalu berbahaya?
Mantan petinju Puerto Rico itu meninggal dunia pada usia 33 tahun, lebih dari satu dekade setelah mengalami cedera otak traumatis yang mengakhiri kariernya. Kabar tersebut dikonfirmasi sang ayah, Richard Colón, melalui media sosial pada Kamis (13/8).
Baca juga: Byon Combat Showbiz Vol. 6: Indonesia vs Malaysia Jilid 2
Dari Bintang Masa Depan Menjadi Pejuang Panjang Umur
Sebelum tragedi terjadi, Colón dikenal sebagai salah satu prospek paling menjanjikan dari Puerto Rico. Ia memiliki rekor 16 kemenangan tanpa kekalahan, dengan 13 kemenangan melalui KO, serta pernah meraih emas di Pan American Youth Championship 2010.
Masa depan terlihat cerah. Sayangnya, satu pertandingan mengubah semuanya.
Pada Oktober 2015, Colón menghadapi petinju Amerika Serikat Terrel Williams di Fairfax, Virginia. Dalam duel tersebut, Colón beberapa kali menerima pukulan ke bagian belakang kepala atau rabbit punches, yang merupakan serangan ilegal.
Colón sempat mengeluhkan kondisinya kepada wasit. Pertandingan tetap berlanjut. Setelah laga, kondisinya memburuk. Ia mengalami pusing dan muntah sebelum akhirnya kolaps di ruang ganti. Pemeriksaan medis menemukan perdarahan otak dan dokter melakukan operasi darurat.
221 Hari dalam Koma
Cedera tersebut membuat kehidupan Colón berubah total. Ia menjalani koma selama 221 hari sebelum akhirnya sadar.
Namun, ia tidak pernah benar-benar kembali seperti sebelumnya. Bertahun-tahun berikutnya dihabiskan dalam perawatan dan rehabilitasi dengan dukungan penuh keluarganya.
Di situlah kisah Colón berubah dari calon juara menjadi simbol ketahanan manusia. Keluarganya terus mendampingi, sementara perkembangan kondisinya sesekali dibagikan kepada publik sebagai bentuk harapan.
Warisan yang Lebih Besar dari Rekor
Tragedi Colón kemudian ikut memperbesar perhatian terhadap persoalan keselamatan dalam tinju, mulai dari pengawasan wasit, penanganan pukulan ilegal, pemeriksaan medis di sisi ring, hingga keputusan menghentikan pertandingan ketika petinju menunjukkan gejala cedera kepala.
Baca juga: Tinju Lawan Jefri Nichol, El Rumi yakin Akan Menang
Ironisnya, olahraga yang sering mengagungkan keberanian justru harus terus belajar bahwa keberanian tidak berarti membiarkan seseorang menerima pukulan tanpa batas.
Prichard Colón mungkin tidak sempat mencapai kejayaan yang pernah diramalkan untuknya. Namun, kisahnya meninggalkan warisan yang jauh lebih penting daripada sabuk juara.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













