Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Saya berada di Kota Tokyo. Siang ini saya berkunjung ke Shibuya, salah satu pusat keramaian dan jantung Kota Tokyo. Saya merasa perlu ke sini karena nama Shibuya sudah begitu tertanam di dalam benak. Sebagai penduduk metropolitan Jakarta yang akrab dengan kemacetan, gedung tinggi, mal, dan keramaian, berkunjung ke Shibuya menghadirkan sebuah pembanding. Skalanya sama, tetapi cara kotanya bergerak dan ditata sangat berbeda. Di Shibuya saya menemukan keteraturan ruang, taman, dan trotoar. Di Shibuya saya merasakan bagaimana transportasi publik skala masif bisa dikelola dengan sangat baik.
Shibuya sangat menarik untuk diamati dan dijelajahi karena memperlihatkan sisi Jepang yang sangat modern: arsitektur kontemporer, layar digital raksasa, teknologi, tren fesyen, kafe, hingga kehidupan malam. Kawasan ini menjadi gambaran nyata tentang bagaimana sebuah kota megapolitan mengelola kepadatan dan aktivitas manusia. Sebagai warga Jakarta, saya menikmati momen berjalan kaki, menyeberang jalan, duduk di taman, hingga berbelanja sambil mengecap pengalaman yang berbeda tentang budaya perkotaan.
Jakarta dan Tokyo sama-sama kota besar, padat, dinamis, dan tak pernah tidur. Namun ketika saya berjalan di trotoar, berkunjung ke mal, serta melihat begitu banyaknya manusia kota yang bergerak, saya menemukan kenyataan yang berbeda. Saya melihat sendiri bahwa kedua kota besar ini memiliki cara dan budaya yang berbeda dalam mengelola keramaian.
Saya berdiri di Shibuya dan melihat Kota Tokyo yang futuristis. Di Shibuya saya melihat modernitas, budaya pop, bisnis, dan keseharian penduduk dapat hidup teratur serta nyaman dalam ruang yang sama. Shibuya adalah sebuah persimpangan yang memberikan banyak pengalaman.
Baca juga: Masjid di Tokyo dan Amsterdam, Ruang Tenang bagi Muslim Minoritas
Di Tokyo, Jarak Ditentukan Oleh Kemudahan Transportasi

Shibuya merupakan salah satu pusat kota dari Megapolitan Tokyo. Seperti diketahui, Tokyo tidak hanya memiliki satu pusat kota; ada banyak pusat kota di berbagai distrik dengan karakter yang berbeda. Ada Shinjuku sebagai pusat bisnis, perkantoran, dan hiburan malam. Ada Ginza dengan kemewahannya, Ueno yang terkenal dengan taman, museum, kebun binatang, serta akses di kawasan timur. Harajuku terkenal dengan mode, budaya anak muda, dan kafe, serta Asakusa yang merupakan kawasan bersejarah dengan Kuil Sensoji dan nuansa Tokyo lama.
Shibuya berada di bagian barat daya Kota Tokyo. Lokasi ini menjadi pusat aktivitas urban, hiburan, belanja di mal, dan budaya anak muda, sekaligus merupakan salah satu simpul transportasi utama Tokyo. Dari sini, berbagai jalur bus, kereta, dan subway menghubungkan Shibuya dengan area Tokyo lainnya. Di Tokyo, jarak tidak diukur sekadar dalam kilometer, tetapi juga dari kemudahan berpindah dari satu moda transportasi ke moda transportasi lain untuk menjangkau seluruh sudut kota.
Shibuya Crossing merupakan daya tarik area ini yang kabarnya telah mendunia. Ikon terkenal ini berupa persimpangan di depan Stasiun Shibuya yang dipenuhi pejalan kaki ketika lampu lalu lintas untuk kendaraan berubah merah. Pengalaman melihat ribuan orang menyeberangi persimpangan dari berbagai arah secara hampir bersamaan—baik dari jendela restoran maupun ikut bergabung langsung di jalan—sungguh luar biasa.
Saat berjalan berkeliling dan sedikit menjauh dari persimpangan utama, kita akan bertemu dengan sudut yang lebih tenang walau tetap ramai. Di samping dan di belakang gedung-gedung tinggi, berbelok sedikit ke jalan yang lebih kecil, kita akan bertemu dengan toko-toko kecil, kios, serta restoran yang banyak dikunjungi wisatawan. Inilah wajah lain dari pusat Kota Tokyo, di mana di antara papan reklame dan videotron raksasa, kehidupan sehari-hari tetap berjalan dengan ritme yang sederhana dan wajar.
Shibuya juga merupakan surga belanja dengan hadirnya pusat perbelanjaan seperti Shibuya 109, Parco, dan Scramble Square. Ketika kaki membawa saya masuk ke Shibuya 109—gedung ikonik di posisi strategis dekat Scramble Crossing—suasana terasa ramai dan khas anak muda. Toko-toko pakaian memenuhi setiap lantai, menjajakan busana, sepatu, tas, aksesori, hingga kosmetik. Berkunjung ke gedung ini bukan hanya tentang apa yang ingin dibeli, melainkan juga melihat apa yang sedang digandrungi oleh anak muda Jepang.
Jika ingin melihat komoditas budaya urban, kreatif, dan pop culture Tokyo, kita bisa bergerak sedikit ke Shibuya Parco. Di sini, fesyen bertemu dengan seni, musik, desain, dan karakter budaya pop kreatif. Memasuki area ini serasa mengunjungi pameran, ditambah lagi tersedia lokasi-lokasi untuk ngopi dan menikmati camilan. Bagi yang sudah akrab dengan Jepang melalui anime, manga, serta fesyen kreatif, semuanya terasa hadir dalam satu hamparan di sini.
Patung Hachiko: Tempat Memaknai Kembali Kesetiaan dan Ketekunan

Ada satu hal yang jangan sampai terlewat jika berkunjung ke Shibuya: sebuah tempat yang tampak sederhana berupa patung anjing di depan stasiun bernama Hachiko. Mungkin kita mengenal Hachiko dari media sosial, film, atau majalah sebagai seekor anjing yang sangat setia kepada pemiliknya. Saya pun merasa perlu melihat langsung patungnya yang ternyata tidak besar dan berdiri di tengah kesibukan orang yang keluar-masuk stasiun.
Hachiko adalah seekor anjing jenis Akita yang sejak tahun 1923 dipelihara oleh Profesor Hidesaburo Ueno dari Universitas Kekaisaran Tokyo. Setiap hari Hachiko mengantar tuannya ke stasiun hingga pada Mei 1925, Profesor Ueno meninggal mendadak di tempat kerja akibat pendarahan otak. Hachiko tidak pernah tahu bahwa tuannya telah meninggal; ia tetap setia datang menjemput ke stasiun setiap hari meskipun tuannya tidak akan pernah kembali.
Hachiko terus datang menjemput hingga ia mati tua pada tahun 1935. Media Jepang kala itu selalu memberitakannya, membuat namanya terkenal di seluruh negeri. Kisah yang sangat menyentuh hati. Kita mungkin membayangkan seekor anjing yang tidak mengerti bahwa tuannya telah tiada, memperlihatkan sebuah bentuk kesetiaan yang sangat kuat.
Masyarakat Jepang memiliki keterikatan emosi yang dalam mengenai Hachiko yang selama 10 tahun menunggu tuannya hingga akhir hayat. Patung perunggu Hachiko didirikan pada tahun 1934 saat ia masih hidup dan turut hadir dalam peresmiannya. Patung itu berdiri di antara kemilau Shibuya, gedung pencakar langit, serta hiruk-pikuk manusia dan kendaraan—sebuah patung yang sederhana tanpa layar LED, tanpa tulisan besar, tanpa lampu sorot, ataupun teknologi canggih.
Baca juga: Oshino Hakkai, Menemukan Jepang Tradisional di Kaki Gunung Fuji
Masyarakat Tokyo dan Jepang menjadikan Hachiko sebagai identitas Shibuya. Mereka memandangnya sebagai simbol kesetiaan dan ketekunan. Patung Hachiko kini menjadi destinasi wisata di mana banyak orang datang untuk berfoto, termasuk saya. Patung ini juga difungsikan sebagai titik simbol pertemuan. Orang Jepang merasa bahwa jika pertemuan dengan teman, kekasih, keluarga, atau rekan kerja terjadi di lokasi Patung Hachiko, hal itu menjadi sesuatu yang indah.
Seekor anjing yang dahulunya setia datang ke stasiun untuk menunggu, kini patungnya dijadikan tempat bagi manusia untuk saling menunggu dan bertemu. Di Jakarta kita memiliki banyak cerita tentang kesetiaan hewan peliharaan, tetapi penduduk Tokyo berhasil menjadikan kisah tersebut sebagai bagian dari ruang kotanya. Bagi saya, ini menjadi sebuah pengingat sederhana bahwa di tengah megapolitan Tokyo dengan segala kecanggihannya, tetap ada cerita menyentuh hati tentang hubungan antara seekor anjing dan tuannya.
Memasuki malam, ketika lampu-lampu kota makin berkilau, saya berjalan arah pulang melewati persimpangan yang tadi dilewati. Kerumunan orang masih lalu-lalang datang dan pergi di kota yang tidak pernah tidur ini. Saya pun menyadari bahwa inilah Tokyo. Perjalanan ke sini bukan sekadar mengunjungi lokasi terkenal, melainkan merasakan ritme kota modern, memperhatikan kebiasaan masyarakatnya, dan menemukan cerita pribadi di antara jutaan langkah manusia.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.










